Politik
Kepala BNPT Komjen Pol Suhardi Alius (Ist)

JAKARTA- Hasil survei yang dilansir Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menunjukkan bahwa walaupun radikalisme di kalangan masyarakat masuk kategori sedang, tetapi perlu diwaspadai. Survey ini juga menggambarkan tingginya radikalisme di daerah-daerah tertentu

Kepala BNPT Komjen Pol Suhardi Alius pada seminar Hasil Survei Nasional Daya Tangkal Masyarakat terha dap Radikalisme di Jakarta, Senin, menjabarkan  Radikalisme yang terjadi di masyarakat adalah 60,67 persen pada tataran pemahaman, sedangkan sikap radikal tercatat di angka 55,70 persen.

Deputi I BNPT, Bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi  Mayjen TNI Abdul Rahman Kadir mengatakan survei ini dilaksanakan untuk mengetahui kondisi riil radikalisme di lingkungan masyarakat dan kemampuan apa saja yang sudah dimiliki untuk menangkalnya.

Sementara itu salah satu anggota Kelompok Ahli BNPT Bidang Agama Prof Dr Nazaruddin Umar mengaku cukup kaget dengan temuan hasil survei tersebut yang menunjukkan daerah yang memiliki potensi radikalisme cukup tinggi, yakni  Bengkulu 58,58 %, Jawa Barat 59,99 %, Gorontalo 58, 48 %, Sulawesi Selatan 58,42 %,

Lampung 58,38 %, dan  Kalimantan Utara 58,30 %.

Menurut Imam Besar Masjid Istiqlal itu,  angka di atas 50 persen bisa dibilang sebagai peringatan bagi bangsa Indonesia, dan hal itu hendaknya tidak dianggap sebagai persoalan sepele.

Kepada Bergelora.com dilaporkan, peristiwa bom bunuh diri di Masjid Al-Rawda, Sinai, Mesir yang menimbulkan korban meninggal lebih dari 300 orang pada Jumat (24/11), padahal selama ini orang melihat seperti tidak ada gejolak di Mesir.

"Tentunya kita tidak mau kecolongan. Apa yang dilakukan BNPT tentunya sesuai dengan data. Angka diatas 50%, dalam masalah radikalisme, orang tentunya tidak percaya, tapi data membuktikan daerah itu perlu dicermati," ujarnya.

Secara umum meskipun ini perlu diwaspadai, potensi radikalisme ini masuk kategori sedang. Surveu ini dilaksanakan oleh BNPT, Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT), The Nusa Institute, Daulat Bangsa, Puslitbang Kementerian Agama RI.

Survey ini merangkum pendapat dari 9.605 responden berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah yang tersebar di 32 provinsi se-Indonesia. Survei ini menggunakan metode "multi stage clustered random sampling" dengan tingkat kesalahan 0,7 persen dan tingkat kepercayaan 91,5 persen.

Yang menggembirakan, Hasil survei ini juga mencatat adanya daya tangkal masyarakat yang baik terhadap radikalisme. Dari tujuh variabel yang dijadikan acuan, yaitu kearifan lokal, tingkat kesejahteraan, keamanan, pertahanan, keadilan, kebebasan, dan kepercayaan hukum, empat di antaranya menghasilkan catatan signifikan dan baik. Kearifan lokal, kesejahteraan, kebebasan dan kepercayaan hukum jadi peredam radikalisme di masyarakat.

Untuk terus menekan angka radikalisme di masyarakat, seharusnya mengoptimalkan keterlibatan masyarakat dalam pencegahan radikalisme dan terorisme. Keberadaan FKPT sebagai mitra strategis BNPT seharusnya terus diberdayakan.

“Dari sini akan kami kaji kebijakan seperti apa yang tepat dalam penanggulangan radikalisme dan terorisme,” ujarnya. (Irene Gayatri)

Add comment


Security code
Refresh