Politik
Calon Gubernur Kalimantan Bara, Karolin Margret Natasa bersama anak-anak Dayak (Ist)

PONTIANAK- Mengerucutnya dua nama untuk calon Gubernur Kalimantan Barat di internal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) makin memperjelas sosok calon gubernur pengganti Cornelis.

Melalui Ketua Desk Pilkada DPP PKB Daniel Johan, dua tokoh yang digadang-gadang sebagai kandidat Gubernur Kalbar adalah Bupati Landak Karolin Margret Natasa dan Walikota Pontianak Sutarmiji. PKB masih akan memfinalisasi calon unggulan setelah konsultasi akhir dengan tokoh lintas agama dan pemuka adat. Diperkirakan dua mendatang  akan diumumkan apakah Sutarmiji atau Karolin yang sudah dicalonkan terlebih dahulu oleh Demokrat, Gerindra dan PKPI tersebut.

Kepada Bergelora..com dilaporkan,  Pengamat komunikasi politik dari Universitas Indonesia (UI) Dr Ari Junaedi menilai sepertinya pertarungan politik pencalonan di Kalbar sudah "selesai" mengingat partai-partai pemilik suara besar sudah menentukan arah pilihannya. Praktis tinggal PDIP dan Golkar yang akan menentukan pilihan dimasa injury time atau jelang penutupan pendaftaran.

"Saya memprediksikan partai-partai akan mencari aman dengan menyokong calon yang mudah meraih kemenangan. Jika Karolin sudah meraup suara yang cukup untuk melaju di proses pendaftaran calon pasangan kepala daerah apalagi jika berlebih dari syarat  minimal maka partai-partai lain akan berpikir ulang. Langkah PDIP dan Golkar yang akan mengumumkan di awal Januari atau akhir Desember bisa dipahami dengan kacamata strategi "penutup" kontestasi. Golkar akan semakin terkunci jika PDIP melabuhkan pilihannya kepada Karolin," papar pengajar di Program S1 dan S2 UI ini.

Menurut Ari Junaedi, akan sulit bagi calon lain di luar Karolin untuk mendapatkan "perahu" jika semua partai melabuhkan pilihan terhadap Bupati Landak itu. Fenomena calon tunggal bisa saja terjadi jika pada akhirnya semua partai politik memilih Karolin sebagai cagub. Apalagi pengalaman Karolin dalam menghadapi kotak kosong sudah teruji di pilkada Landak kemarin.

"Saya kira peta persaingan kontestasi politik di Kalbar baru bisa terbaca jelas jika PDIP mengumumkan final jagoannya di awal Januari nanti. Partai-partai yang memiliki suara "penggenap" atau minim pasti akan berpikir secara realistis. Yang jelas, Kalbar adalah daerah yang seksi untuk diperebutkan oleh semua partai politik. Kalbar adalah miniatur Indonesia sehingga koalisi di tingkat pusat tidak linear dengan konfigurasi politik di bumi khatulistiwa. Gerindra dan PDIP boleh saja tidak akur di tingkat pusat tetapi jika bicara di Kalbar mereka bisa bergandengan tangan," ungkap Ari Junaedi yang juga pembimbing mahasiswa tingkat doktoral di Universitas Padjajaran, Bandung itu. (Deddy Kurniawan)

 

PKB Jaring Cagub Karolin Untuk Kalbar

PONTIANAK- Mengerucutnya dua nama untuk calon Gubernur Kalimantan Barat di internal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) makin memperjelas sosok calon gubernur pengganti Cornelis.

Melalui Ketua Desk Pilkada DPP PKB Daniel Johan, dua tokoh yang digadang-gadang sebagai kandidat Gubernur Kalbar adalah Bupati Landak Karolin Margret Natasa dan Walikota Pontianak Sutarmiji. PKB masih akan memfinalisasi calon unggulan setelah konsultasi akhir dengan tokoh lintas agama dan pemuka adat. Diperkirakan dua mendatang  akan diumumkan apakah Sutarmiji atau Karolin yang sudah dicalonkan terlebih dahulu oleh Demokrat, Gerindra dan PKPI tersebut.

Pengamat komunikasi politik dari Universitas Indonesia (UI) Dr Ari Junaedi menilai sepertinya pertarungan politik pencalonan di Kalbar sudah "selesai" mengingat partai-partai pemilik suara besar sudah menentukan arah pilihannya. Praktis tinggal PDIP dan Golkar yang akan menentukan pilihan dimasa injury time atau jelang penutupan pendaftaran.

"Saya memprediksikan partai-partai akan mencari aman dengan menyokong calon yang mudah meraih kemenangan. Jika Karolin sudah meraup suara yang cukup untuk melaju di proses pendaftaran calon pasangan kepala daerah apalagi jika berlebih dari syarat  minimal maka partai-partai lain akan berpikir ulang. Langkah PDIP dan Golkar yang akan mengumumkan di awal Januari atau akhir Desember bisa dipahami dengan kacamata strategi "penutup" kontestasi. Golkar akan semakin terkunci jika PDIP melabuhkan pilihannya kepada Karolin," papar pengajar di Program S1 dan S2 UI ini.

Menurut Ari Junaedi, akan sulit bagi calon lain di luar Karolin untuk mendapatkan "perahu" jika semua partai melabuhkan pilihan terhadap Bupati Landak itu. Fenomena calon tunggal bisa saja terjadi jika pada akhirnya semua partai politik memilih Karolin sebagai cagub. Apalagi pengalaman Karolin dalam menghadapi kotak kosong sudah teruji di pilkada Landak kemarin.

"Saya kira peta persaingan kontestasi politik di Kalbar baru bisa terbaca jelas jika PDIP mengumumkan final jagoannya di awal Januari nanti. Partai-partai yang memiliki suara "penggenap" atau minim pasti akan berpikir secara realistis. Yang jelas, Kalbar adalah daerah yang seksi untuk diperebutkan oleh semua partai politik. Kalbar adalah miniatur Indonesia sehingga koalisi di tingkat pusat tidak linear dengan konfigurasi politik di bumi khatulistiwa. Gerindra dan PDIP boleh saja tidak akur di tingkat pusat tetapi jika bicara di Kalbar mereka bisa bergandengan tangan," ungkap Ari Junaedi yang juga pembimbing mahasiswa tingkat doktoral di Universitas Padjajaran, Bandung itu. (Deddy Kurniawan)

Add comment

Security code
Refresh