Politik
Manteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo dalam Deklarasi Tolak dan Lawan Politik Uang dan Politisasi SARA yang diadakan oleh BAWASLU di Jakarta, Sabtu (10/2). (Ist)

JAKARTA- Menjelang Pilkada Serentak 2018, intimidasi, teror dan persekusi mulai meluas. Diawali dengan serangan dan pada ustad dan kyai, kemudian intimidasi pada umat Budha di Tangerang. Terakhir, serangan pada umat Katholik yang sedang beribadah Minggu (11/2) pagi ini di Sleman Yogyakarta. Untuk itu Manteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo menegaskan bahwa disamping  politik uang (Money politic) politisasi SARA adalah racun demokrasi.

“Politik uang dan politisasi SARA adalah merusak peradaban demokrasi dan menghancurkan sendi-senid kehidupan politik kenegaraan yang bermartabat. Untuk itu politik uang dan politisasi SARA, harus dan wajib kita lawan bersama,” tegasnya dalam Deklarasi Tolak dan Lawan Politik Uang dan Politisasi SARA yang diadakan oleh BAWASLU di Jakarta, Sabtu (10/2).

Sementara itu teror dan persekusi mulai terjadi menyerang kelompok minoritas di berbagai daerah. Salah satunya yang terbaru terjadi di Sleman, Yogyakarta, Minggu (11/2).

Penyerangan Gereja

Kepada Bergelora.com dilaporkan bahwa pada hari Minggu (11/2) sekira pukul 07.30 Wib telah terjadi seseorang yang melakukan penganiayaan terhadap jemaat gereja St. Lidwina, dukuh Jambon, Trihanggo, Gamping Sleman, Yogyakarta yang sedang melaksanakan ibadah.

Pelakunya bernama Suliyono, berdasarkan KTP ditemukan lahir 16 Maret 1995, seorang Mahasiswa yang beralamat Krajan RT 02/RW 01 Kandangan, Pesanggrahan, Banyuwangi, Jawa Timur.

Adapun korban dari kejadian tersebut adalah Budijono, (44 tahun), Swasta, beralamat Perum. Nogotirto, Gamping, Sleman yang mengalami luka sobek pada bagian kepala belakang dan leher bagian belakang akibat senjata tajam.

Korban kedua adalah Romo Prier (Romo Karl Edmund Prier, SJ) mengalami sobek pada kepala belakang akibat senjata tajam. Korban ketiga, Aiptu Munir dari Aspol Polsek Gamping mengalami luka pada tangan akibat senjata tajam. Korban keempat, Martinus Parmadi Subiantara dengan alamat Nusupan RT 02/RW 28, Trihanggo, Gamping Sleman mengalami luka pada punggung akibat senjata tajam.

Sebelumnya dilaporkan pelarangan kegiatan agama Budha di Tangerang mengalami persekusi. Mulyanto Nurhalim, seorang biksu Budha harus menerima kenyataan bahwa dirinya mesti membuat surat pernyataan yang menegaskan bahwa ia tidak akan lagi melakukan kegiatan ibadah keagamaannya di desanya sendiri.

Pengusiran Biksu Budha

Cerita bermula dari adanya rencana kebaktian umat Buddha dengan melakukan tebar ikan di Kampung Kebon Baru, Desa Babat, yang disambut penolakan oleh warga. Tak hanya itu, Biksu Mulyanto sendiri tidak diterima warga karena dianggap akan mengajak para warga untuk memeluk agama Buddha. Maka, ia pun sempat diminta angkat kaki.

Perlu diketahui, Mulyanto Nurhalim adalah warga asli Desa Babat yang telah memiliki KTP resmi dan sesungguhnya berhak tinggal di Desa Babat tadi.

Berangkat dari penolakan-penolakan tadi, keresahan warga semakin berkembang. Puncaknya, hari Rabu 7 Februari 2018, sebuah pertemuan antartokoh agama pun dilakukan, bersama dengan Kapolsek Legok, Camat Legok, dan Kepala Desa Babat.

Dalam pertemuan, warga menyebutkan bahwa mereka mencurigai penggunaan rumah Biksu Mulyanto sebagai tempat ibadah, bukan rumah tinggal, karena adanya umat Buddha yang datang ke rumah Biksu Mulyanto. Namun ternyata, kedatangan mereka hanya bertujuan memberi makan biksu, bukan beribadah. Pada akhirnya, atas nama warga Biksu Mulyanto dilarang memasang ornamen kegiatan ibadah umat Buddha.

Penganiayaan Ulama

Sebelumnya juga terjadi penganiayaan terhadap ulama di Jawa Barat. Penganiayaan pertama dialami pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Hidayah Santiong, Kampung Sentiong RT 04/01, Desa Cicalengka Kulon, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, KH Emon Umar Basyri (60) yang akrab disapa Ceng Emon atau Mama Santiong.

Penganiayaan itu terjadi di Masjid Al-Hidayah, Pesantren Santiong. Saat itu, korban sedang duduk wirid atau berzikir seusai melaksanakan Salat Subuh berjamaah. Suasana di dalam masjid saat penganiayaan terjadi sedang sepi, karena seluruh santri telah kembali ke pondok masing-masing setelah Salat Subuh.

Akibat penganiayaan itu korban mengalami luka serius, hidung patah dan tengkorak kepala retak. Bahkan korban sempat tak sadarkan diri. Oleh para santri, korban dibawa ke RS AMC Cileunyi lalu dirujuk ke ke UGD Al Islam Bandung, Jalan Soekarno-Hatta.

Belum selesai kasus penganiayaan terhadap KH Emon, muncul lagi kasus penganiayaan terhadap ulama. Kali ini, korbannya adalah Ustaz R Prawoto, yang merupakan Komandan Brigade Persatuan Islam Indonesia (Persis) Pusat.

Korban dianiaya Kamis (1/2/2018) pukul 07.00 WIB oleh Asep Maftuh (45). Ustaz Prawoto mengalami luka parah di kepala dan patah tangan kiri akibat dipukuli oleh Asep yang merupakan tetangganya di Kelurahan Cigondewah Kidul, Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung. Ustadz Prawoto meninggal dunia pukul 17.30 WIB. (Web Warouw)

 

Add comment

Security code
Refresh