Politik
Yenny Zannuba Wahid, Direktur Wahid Foundation. (Ist)

JAKARTA- Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah perlu segera melakukan kajian serius sekaligus penerapan langkah sistem deteksi dini (early warning system) agar kasus-kasus intoleransi dan kekerasan dapat diantisipasi lebih awal. Yenny Zannuba Wahid, Direktur Wahid Foundation kepada Bergelora.com di Jakarta, Senin (12/2).

“Langkah ini dapat dilakuan melaui deteksi dini kasus-kasus intoleransi, termasuk ujaran kebencencian, yang kemungkinan bakal meningkat jelang dan selama masa-masa pemilihan kepala daerah serentak di Indonesia,” ujarnya dari Rumah Pergerakan Gus Dur.

Wahid Foundation meminta Kemenkominfo dan perusahaan-perusahaan media sosial seperti facebook, youtube, dan twitter, memantau kasus-kasus hoax dan berita palsu atas tiga kasus tersebut yang sengaja ditujukan untuk dapat memanaskan situasi di masyarakat.

Dalam beberapa hari, setidaknya dua kasus intimidasi dan kekerasan dialami tokoh agama. Minggu pagi  (10/2), seorang lelaki menyerang beberapa jemaat dan seorang pendeta di Gereja Santa Lidwina Sleman Yogyakarta.

Sabtu (9/2), sebuah video penolakan seorang biksu di Legok Tangerang, Banten, menyebar massal di media sosial. Biksu itu bernama Mulyanto Nurhalim. Oleh sebagian warga ia dituduh menyalahgunakan tempat tinggal dengan menggelar bakti sosial.

Sebelumnya, pada akhir Januari, KH Umar Basri, Pengasuh Pesantren Al Hidayah, Cicalengka, Jawa Barat, mengalami penganiayaan dari seorang lelaki paruh baya.

“Wahid Foundation (WF) mengutuk setiap tindakan kekerasan dan intimidasi kepada siapapun dan atas dasar apapun. Kekerasan semacam ini harus dinyatakan bukanlah kondisi yang mewakili wajah masyarakat umum Indonesia,” ujarnya.

Wahid Foundation (WF) mendukung Kepolisian Republik Indonesia melakukan proses hukum terhadap para pelaku penyerangan dan penganiayaan KH Umar Basri dan Penyerangan Gereja Santa Lidwina Sleman Yogyakarta dan Biksu Mulyanto di Legok Tangerang Banten.

“Kami mengapresiasi kesigapan ormas-ormas keagamaan yang kompak menyerukan kepada masing-masing umatnya untuk tidak terprovokasi dan justru mendorong agar proses hukum dikedepankan. Ini bukti bahwa masyarakat Indonesia makin dewasa dan matang dalam menyikapi kasus-kasus kekerasan,” tegasnya.

Benang Merah

Putri presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid, mengatakan berbagai penyerangan yang terjadi kepada pemuka agama seolah-olah random, tapi dia meyakini ada benang merah atas peristiwa tersebut.

“Berbagai penyerangan yang seolah terjadi secara random akhir-akhir ini, namun tetap ada benang merahnya,” kata Yenny.

Benang merah itu, kata Yenny, terlihat dari korbannya yang sama-sama pemuka agama dan penyerangannya tidak memiliki motif yang jelas. Dia menuturkan, bila kasus-kasus itu memang disengaja, motifnya adalah untuk menciptakan rasa tidak aman di tengah masyarakat.

“Serta provokasi agar tercipta konflik horizontal,” ujarnya.

Yenny mengimbau semua umat beragama tetap tenang dan tidak terprovokasi. Ia juga mendesak aparat keamanan segera melakukan investigasi demi menghindari spekulasi di masyarakat. (Calvin G. Eben-Haezer)

Add comment


Security code
Refresh