Politik
Rapat Kerja Nasional Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) di Manado, Rabu (14/3) (Ist)

MANADO- Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) perlu terus menerus sesuai dengan kapasitas dan tantangannya, membangun pengelolaan pengetahuannya. Pada saat teknologi media, data, dan situasi dunia berubah dengan sangat deras, pengetahuan akan menjadi salah satu faktor kunci internal yang memungkinkan bertahan dan menggapai cita-cita. Hal ini disampai oleh Idaman Andarmosoko, pekerja Tehnologi Informasi dan aktivis Open Data dalam Rapat Kerja Nasional Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) di Manado, Rabu (14/3) dan dikutip Bergelora.com.

Ia menjelaskan, dalam soal teknologi dan paradigma terhadap data, ada beberapa trend yang menguat yang sedang dan akan secara signifikan mempengaruhi paradigma kerja manusia.

Trend itu menurutnya antara lain Big Data, Data science dan Open data.  Secara umum Big data berkisar pada niat, dan kemampuan untuk mengambil dan mengolah data dalam jumlah yang sangat besar. Big data ditandai antara lain dengan volume, (jumlah besaran), velocity (kecepatan) dan variety (keragaman). Volume ditandai dengan data yang sangat tinggi, seperti misalnya bayangkan youtube, dengan jumlah video yang sangat banyak.  Velocity ditandai dengan berapa cepat data bermunculan, ambil contoh misalnya situs facebook, setiap detiknya selalu ada orang yang mengunggah foto atau video atau status, atau berkomentar terhadap status.

“Sedangkan variety adalah keragaman berkas yang ada, dari mulai teks, gambar, sampai ke video. Konsekuensi dari Big Data adalah bahwa kekuatan-kekuatan ekonomi raksasa akan menggunakan data dalam jumlah sangat besar, dunia masa depan akan diwarnai oleh penggunaan data yang besar, untuk dapat mengarungi dunia semacam itu, maka organisasi yang ingin dapat bertahan hidup haruslah mampu mengelola data dan memanfaatkan data dengan baik,” jelasnya kepada peserta Rakernas AMAN.

Open data menurutnya adalah kecenderungan berbagai fihak untuk menyediakan  datanya secara terbuka dalam kualitas data yang akuntabel, dan dalam bentuk yang terbuka dapat dibaca manusia maupun mesin. Open Data  akan bermuara pada akuntabilitas dan transparansi, peningkatan perputaran ekonomi. 

“Dalam soal ini, secara payung hukum, di Indonesia saat ini ada undang-undang Keterbukaan Informasi Publik, yang menggariskan lembaga-lembaga pemerintah untuk menyediakan datanya kepada Publik. Berbagai lembaga pemerintah saat ini sedang berusaha membangun keterbukaan data ini, bahkan koordinasi antar lembaga pemerintah,” katanya .

Ia menjelaskan, fenomena data science  adalah munculnya cara pengolahan data yang baru yang dapat menggarap persoalan-persoalan yang amat rumit, bahkan sampai pada tingkat di mana persoalan tersebut secara teknis sulit dijabarkan langkah penyelesaiannya oleh manusia sendiri.

“Salah satu bagian dari ini adalah membangun semacam kecerdasan buatan, dan sistem komputer yang dapat belajar sendiri (Machine learning). Contoh dari aplikasi bidang ini adalah bagaimana komputer dapat mengenali wajah manusia dengan cepat,” ujarnya.

Idaman Andarmosoko, pekerja Tehnologi Informasi dan aktivis Open Data. (Ist)

Pergeseran Masif ke Dunia Elektronika

Di masa depan menurutnya, banyak transaksi dan kerja manusia akan digantikan oleh sistim komputer, membayar jalan toll, membeli tiket pesawat, memesan hotel, antara lain saat ini merupakan pekerjaan yang sudah banyak digantikan komputer di berbagai tempat di Indonesia. Di dunia kerja robot menjadi salah satu bagian penting dari industri manufaktur.

“Sementara lebih jauh di masa depan bahkan peran bank dan uang konvensional akan mulai sebagian digantikan oleh uang digital crypto-currency. Hal ini akan membawa implikasi  pada ketenaga kerjaan, keilmuan dan situasi sosial yang perlu diantisipasi,” terangnya.

Dalam dunia  seperti itu menurut Idaman, maka artikulasi ungkapan, dan berbagai pesan lain dipendekkan. Pesan pesan di twitter dipendekan menjadi misalnya 144 karakter, berita-berita di media online tidak pernah lebih dari 6 paragraf dengan satu paragraf terdiri dari maksimal 5 kalimat.

“Pada saat yang sama lanjutnya, penyebaran materi di internet berlangsung sangat cepat, akhirnya maka di seluruh dunia ini terjadi persoalan dengan materi yang diterima dan disebarkan di Internet. Persoalan ini muncul salah satunya dalam wujud penyebaran Hoax, gossip yang belum jelas kebenarannya. Vosougi, Roy dan Aral (2018) Mengkaji posting twitter daro 3 juta orang selama 2006 – 2007 menemukan bahwa berita palsu (Hoax) menyebar berkali lipat lebih cepat dari pada berita yang benar,” paparnya.

Hal ini menurutnya menunjukkan bahwa dibalik kemajuan teknologi yang deras di kehidupan pribadi, ada tantangan serius bagi masyarakat untuk dapat mensikapi kebudayaan dan pemikiran. Kekhawatiran ini diungkap antara lain sebagai kegagapan kebudayaan (Karlina, 2015) pendangkalan mencerap bahan, dan semacam saran untuk lebih bijak, yang dituangkan dalam 8 strategi kebudayaan.

“Tentu saja banyak tantangan lain, di luar yang disebutkan di atas, namun tidak dapat dibahas secara rinci dalam paparan singkat darurat ini. Tantangan-tantangan itu antara lain, kenyataan bahwa infrastruktur akses komunikasi digital di Indonesia belum terlalu merata; tantangan biaya sumber daya dan peralatan teknologi, dan berbagai tantangan lainnya,” tegasnya.

Konsolidasi Produksi Data Lapangan

Ia melanjutkan, pada jaman seperti ini, penting bagi AMAN untuk mampu membangun data-data dirinya secara memadai dan dapat memanfaatkan demi tujuan tujuan organisasi. AMAN perlu memahami data apa informasi apa, dan pengambilan keputusan apa yang dibutuhkan oleh AMAN dan para pemangku kepentingan di sekitar AMAN.

“Membangun ini berbeda dengan membeli teknologi. Terlepas dari teknologi apapun yang digunakan, tetaplah harus dibangun suatu kerangka rencana tentang bagaimana data dan informasi dibangun,” katanya.

Pekerjaan mengelola, membangun data dan informasi dan pengetahuan merupakan pekerjaan yang membutuhkan pemahaman, perhatian dan upaya yang cukup. Untuk itu dalam organisasi perlu dialokasikan fungsi-fungsi pengelolaan data dan pengetahuan. Mengalokasikan fungsi bukan semerta-merta memasang jabatan baru, dan merekrut orang baru, namun fungsi tersebut disadari dan dikelola secara kolektif oleh jabatan-jabatan yang sudah ada pada saat ini. Ini berarti bisa berwujud melengkapi uraian tugas tanpa mengubah struktur yang sudah ada, kecuali kalau memang sumber daya sudah sangat berlebih sehingga bisa menambahkan struktur jabatan.

“Dalam hal ini sekali lagi perlu membedakan, bukan memisahkan antara tingkat manajemen informasi, sistim informasi dan teknolog informasi,” tegasnya. (Lingkan Pakasi)

Add comment

Security code
Refresh