Politik
Presiden Jokowi bersama para budayawan di halaman Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (6/4) sore mendiskusikan Revolusi Mental dan menjadikan budaya sebagai fondasi pembangunan bangsa (Ist)

JAKARTA- Setelah pada tahapan pertama fokus pada pembangunan infrastruktur, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meyakinkan bahwa pada tahapan besar yang kedua akan masuk ke tahapan investasi di bidang sumber daya manusia yang didalamnya sebagaimana telah disampaikan oleh Radhar Panca Dahana, bahwa kebudayaan itu menjadi sebuah pondasi.

“Artinya, nilai-nilai yang kita miliki ini akan menentukan bangsa ini bisa berkompetisi, bisa bersaing dengan negara lain atau tidak. Baik yang berkaitan dengan nilai-nilai budaya, baik yang berkaitan dengan nilai-nilai karakter yang kita miliki, nilai-nilai budi pekerti yang kita miliki,” kata Presiden Jokowi saat bersilaturahmi dengan para budayawan di halaman Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (6/4) sore.

Kemudian, lanjut Presiden Jokowi, juga berkaitan  dengan etos kerja, yang berkaitan dengan produktivitas, yang berkaitan dengan integritas. “Saya kira larinya nanti akan ke sana,” tegasnya.

Karena itu, Presiden Jokowi mengutip pendapat penyair Putu Wijaya, bahwa memang revolusi mental itu bukan jargon yang seperti masa-masa lalu yang perlu diteriak-teriakkan terus atau perlu diiklan-iklan terus.

“Saya kira bukan itu. Saya kira contoh lebih baik daripada kita berteriak. Memberikan contoh akan lebih baik daripada kita berteriak. Bagaimana bekerja yang baik,  bagaimana integritas yang baik, bagaimana nilai etos kerja yang baik saya kira itu yang nanti ke depan akan kita gerakan,” tutur Presiden Jokowi.

Pentingnya Infrastruktur

Dalam kesempatan itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan pentingnya pembangunan infrastruktur yang dalam 3,5 tahun ini dilakukan oleh pemerintah.

“Karena kita ini sebagai negara besar sudah terlalu jauh ditinggal oleh kanan kiri kita, sehingga ini yang perlu dikejar terlebih,” kata Presiden Jokowi saat bersilaturahmi dengan para budayawan di halaman Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (6/4) sore.

Menurut Kepala Negara, Indonesia bagian timur adalah sebuah wilayah yang betul-betul sangat jauh sekali kondisinya kalau dibandingkan dengan apa yang kita nikmati sekarang ini, terutama di Jawa.

Ia menceritakan, waktu 3 tahun yang lalu ke Wamena, harga bensin di sini Rp6.450 di sana yang harganya Rp60.000. Pada saat-saat cuaca yang enggak baik harganya bisa Rp100.000 per liter.

“Karena ketidaksiapan infrastruktur untuk mendukung harga itu sama dengan yang ada di Jawa,” ucap Kepala Negara menyampaikan alasannya.

Presiden Jokowi berjalan bersama para budayawan di halaman Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (6/4) sore. (Ist)

Kemudian ke kabupaten Nduga yang aspal 1 meter pun enggak ada. Dari Wamena yang sudah jauh, untuk ke Nduga itu butuh waktu  sebelumnya butuh waktu 4 hari 4 malam berjalan kaki, naik turun gunung, masuk ke hutan baru sampai dari Wamena baru masuk ke Nduga.

“Itulah yang saya lihat di sana. Di Wamena saya lihat, kemudian di Nduga kita lihat. Di Wamena saja harga bensin Rp 60.000, apalagi di Nduga, enggak ada yang jualan bensin karena semuanya jalan kaki,” ungkap Kepala Negara seraya menambahkan, inilah fakta-fakta yang kita hadapi, termasuk yag disampaikan oleh Lesik Keti Ara, Penyair  Aceh, mengenai Airport Rembele.

“Ini di Aceh Tengah yang sekarang jadi Bener Meriah, itu di Aceh bagian sini,” sambung Presiden Jokowi.

Presiden Jokowi menegaskan, bahwa infrastruktur itu tidak hanya masalah ekonomi. Namun, infrastruktur ini akan mempersatukan kita.

“Kalau ketimpangannya seperti yang tadi saya sampaikan ya kita tidak bisa akan bersatu.” ujar Presiden seraya menambahkan, mempersatukan dalam artian bahwa, dirinya pernah terbang dari Aceh di Banda Aceh langsung terbang ke Wamena memakan waktu 9 jam 15 menit.

“Artinya apa? Ya supaya menyadarkan kita semuanya bahwa bangsa ini bangsa yang besar. Kalau kita terbang dari London, 9 jam itu sampai ke Istanbul Turki itu bisa melewati berapa negara, mungkin 6, 7, 8 negara. Ya inilah negara kita,” tegas Presiden.

Tapi kalau itu tidak kita siapkan, entah airport-nya, entah pelabuhannya, entah jalannya, Presiden mengingatkan, kejadiannya ya ketimpangan antar wilayah itu akan semakin membesar.

Kebudayaan Sebagai Fondasi

Menurut budayawan Radhar Panca Dahana yang hadir dalam silaturahmi itu Presiden Jokowi sangat menyadari dan berusaha untuk mengimplementasikannya dalam kebijakan dan programnya bahwa seluruh pembangunan yang ada di negeri ini harus dilandaskan pada kebudayaan.

“Pondasinya, fundamennya itu kebudayaan. Dan pondasi dari kebudayaan itu adalah pembangunan manusia. Bagaimana caranya pembangunan itu meluhurkan kemanusiaan, memanusiakan kemanusiaan, memanusiakan kembali,” kata Radhar kepada wartawan usai silaturahmi.

Yang dibicarakan, lanjut Radhar, adalah masalah intoleransi dan kedangkalan di dalam beragama. Dan itu, menurutnya, menjadi tugas negara juga untuk bisa mengatasi masalah itu.

Selain itu, menurut Radhar, dalam pembicaraan itu juga disinggung soal kesenjangan, kesenjangan kebudayaan itu yang membuat beberapa orang lebih beradab dan sebagian kurang beradab yang mengakibatkan banyak ekspresi-ekspresi yang merugikan untuk bangsa dan negara ini.

Dalam kesempatan itu, Presiden Jokowi menyampaikan kesediaannya untuk bertemu dengan para budayawan secara rutin setiap 3-4 bulan sekali. Silaturahmi dengan budayawan itu dihadiri oleh Radhar Panca Dahana, Butet Kertaradjasa, Muhammad Sobary, Putu Wijaya, Nasirun, Lesik Keti Ara, Olga Lidya, dan Olivia Zalianty.

Kepada Bergelora.com dilaporkan Presiden Jokowi didampingi oleh Mendikbud Muhadjir Effendi, Mensesneg Pratikno, Kepala Bekraf Triawan Munaf, Koordinator Staf Khusus Presiden Teten Masduki dan Staf Khusus Presiden Sunardi Rinakit. (Calvin G. Eben-Haezer)

Add comment

Security code
Refresh