Politik
Seorang polisi nekad menolong seorang bocah setelah pengeboman di Mapolrestabes Surabaya, Senin (14/5). (Ist)

JAKARTA- Negara perlu segera kembalikan rasa aman dan mencegah fundamentalisme. Masyarakat perlu turut serta, terutama civitas akademika. Kesatuan Aksi Keluarga Besar Universitas Indonesia (KA KBUI) mengecam aksi kejahatan terorisme yang terjadi dan menyatakan belasungkawa sedalam-dalamnya dan mengirimkan rasa simpati dan solidaritas kepada para korban, yang meninggal dan luka-luka, serta keluarga korban yang ikut menderita akibat kejadian teror ini.

“Oleh karena itu Kesatuan Aksi Keluarga Besar Universitas Indonesia (KA KBUI) menuntut agar. Negara untuk segera mengembalikan dan menjamin rasa aman bagi setiap warganya. Negara tidak memberi ruang masuk bagi militer dalam penanganan terorisme,” tegasnya Koordinator KA KBUI, Ikravany Hilman kepada Bergelora.com di Jakarta, Senin (14/5).

Ia menegaskan agar negara harus memperkuat institusi kepolisian untuk bekerja lebih baik dengan tetap berlandaskan prinsip-prinsip hak asasi manusia.

“Negara perlu menambah jumlah personil kepolisian, menambah kemampuan intelejen untuk mendeteksi kelompok teroris, membangun dan menambah jumlah penjara bagi para pelaku teror,” katanya.

Negara menurutnya perlu meningkatkan pengawasan namun dalam melaksanakannya tetap harus menghargai privasi warga dan tidak merampas kemerdekaan individu.

“Masyarakat mengutuk tindak kekerasan terorisme karena terorisme bukanlah soal agama, tetapi kejahatan luar biasa berbasis kekerasan,” tegasnya.

Masyarakat juga katanya perlu menghentikan penyebaran paham anti-demokrasi, anti-perbedaan, rasis, sektarianis, fundamentalis yang menjadi paham yang menyuburkan tindakan terorisme.

“Masyarakat untuk berperan serta aktif dalam menghadapi terorisme dengan tidak berdiam diri bila mengetahui aktivitas-aktivitas yang berpotensi menyebarkan paham anti-demokrasi, anti-perbedaan, rasis, sektarianis, fundamentalis di dalam masyarakat,” katanya.

Semua Civitas Akademika sebagai institusi pendidikan harus mengajarkan dan menerapkan nilai-nilai keberagaman, kebebasan berpikir dan demokrasi. Semua Civitas Akademika harus ikut mencegah berkembangnya paham-paham fundamentalisme yang telah masuk ke ranah pendidikan.

Kembali Berduka

Indonesia kembali berduka. Pada hari Minggu, 13 Mei 2018 pagi hari serangan bom bunuh diri terjadi di tiga gereja yaitu Gereja Santa Maria Tak Bercela, Gereja Kristen Indonesia, dan Gereja Pantekosta di Surabaya. Setidaknya 13 orang tewas dan 41 terluka. Angka korban terus bertambah dari waktu ke waktu. Pelakunya diduga adalah para pembom bunuh diri yang berasal dari satu keluarga, suami isteri yang mengorbankan dua anak perempuan dan dua remaja.

Bom juga meledak di Rusun Wonocolo, di belakang Polsek Taman, Sepanjang, Sidoarjo pada malam hari. Rusunawa itu dihuni oleh satu keluarga. Akibat ledakan itu, satu orang yang diduga kepala keluarga tewas. Sedangkan anaknya mengalami luka dan dibawa ke rumah sakit.

“Rentetan aksi teror ini sungguh biadab dan tidak berperikemanusiaan, merampas rasa aman masyarakat dan sungguh melukai masyarakat Indonesia yang beraneka ragam. Kejahatan terorisme ini tidak dapat dibenarkan,” katanya. (Jawon)

Add comment

Security code
Refresh