Politik
Seorang polisi nekad menolong seorang bocah setelah pengeboman di Mapolrestabes Surabaya, Senin (14/5). (Ist)

JAKARTA- Akhirnya, Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD) mengutuk  aksi terorisme yang terjadi Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (13/5) dan pagi ini. PRD juga menyerukan kepada elit politik untuk menjauhkan diri kompetisi politik yang berorientasi pribadi/golongan dan mengumbar kebencian berbau SARA, yang hanya menjerumuskan bangsa ini dalam polarisasi dan perpecahan. Hal ini ditegaskan Agus Jabo Priyono, Ketua Umum Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD) kepada Bergelora.com di Jakarta, Senin (14/5)

“Kami menyampaikan duka cita yang mendalam terhadap korban dan keluarganya. Bagi kami, serangan terorisme tersebut tidak hanya mengoyak nilai-nilai kemanusiaan, tetapi juga melukai persatuan dan kesepakatan-kesepakatan yang membentuk kebangsaan kita,” tegasnya.

Ia menjelaskan, Indonesia sebagai “bangsa” (nation) di terima oleh beragam suku, ras, agama, dan tradisi yang mendiami Nusantara ini karena pertama, pengakuan terhadap perbedaan dan keragaman.

“Kita menerima kebhinnekaan,-- Indonesia sebagai rumah bersama “semua untuk semua”. Karena itu, tidak ada tempat bagi setiap ide yang mengangkangi kebhinnekaan,” tegasnya.

Kedua, mengakui jalan demokrasi, musyawarah dan mufakat sebagai jalan terbaik untuk menyelesaikan berbagai persoalan maupun untuk memperjuangkan berbagai ide dan cita-cita politik. Tidak ada tempat bagi penggunaan paksaan dengan jalan kekerasan maupun teror untuk memperjuangkan sebuah ide.

“Ketiga, kita punya kehendak bersatu, hidup bersama sebagai sebuah bangsa, karena ada yang mempertemukan (titik temu), yaitu cita-cita bersama,-- masyarakat adil dan makmur,” tegasnya.

Belum terwujudnya cita-cita bersama itu, apalagi jika terjadi praktek diskriminasi dan ketidakadilan sosial, menurut PRD, tentu melukai semangat kebangsaan dan membuat rapuh rumah kebangsaan.

“Oleh karena itu, terorisme adalah musuh bersama bangsa ini, karena berusaha meruntuhkan rumah kebangsaan kita. Karena itu pula, terorisme tidak bisa dihadapi hanya oleh Negara, tetapi oleh seluruh bangsa ini,” tegasnya.

Karena itu, Partai Rakyat Demokratik (PRD) mendesak Negara untuk mengambil tindakan tegas dalam mengantisipasi dan menghadapi aksi-aksi terorisme di Tanah air.

“Menyerukan kepada seluruh Rakyat Indonesia dan pemuka agama untuk tetap menjaga persatuan, toleransi dan persaudaraan, dengan menahan diri untuk tidak menyebar kabar palsu (hoax), ujaran kebencian, dan kesimpulan-kesimpulan dini/spekulatif yang memperkeruh keadaan,” tegasnya.

PRD mendesak pemerintah untuk membenahi kembali pendidikan kewarganegaraan kita, baik sekolah formal maupun non-formal, agar lebih memperkuat nilai-nilai kebangsaan,-- Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi dan keadilan sosial.

PRD juga menyerukan kepada elit politik untuk menjauhkan diri kompetisi politik yang berorientasi pribadi/golongan dan mengumbar kebencian berbau SARA, yang hanya menjerumuskan bangsa ini dalam polarisasi dan perpecahan.

“Penyelenggara Negara harus menjadi teladan bagi terwujudnya Pancasila dalam perbuatan maupun kebijakan,” tegasnya lagi

Kepada Bergelora.com dilaporkan, sebagaimana diketahui, setelah 3 (tiga) ledakan di Surabaya, Minggu (13/5) siang, pada malam hari juga terjadi ledakan di Sidoarjo. Pada Senin (14/5) pagi, aksi bom bunuh diri juga terjadi di gerbang masuk kantor Polretabes Surabaya. Sejauh ini 10, termasuk 4 (empat) petugas Polri luka-luka. (Web Warouw).

Add comment

Security code
Refresh