Politik
Cagub Petahana Lampung, Ridho Ficardo. (Ist)

SUKADANA – Beginilah kelakuan Calon Gubernur Lampung petahana M Ridho Ficardo. Dirinya tak hadir memenuhi panggilan Panwaslu Lampung Timur Selasa (12/6) untuk periksa soal ucapan kebencian dan SARA yang disampaikannya dalam kampanye dirinya. Sepertinya sudah menjadi kebiasaannya, tidak berani bertanggung jawab atas perbuatannya.

Hal sama juga dilakukan oleh Imer Darius, tangan kanan Ridho Ficardo, anggota DPRD Provinsi Lampung dari Partai Demokrat yang menjadi terlapor dalam penggunaan mobil dinas ketika kampanye di Sukadana, Lampung Timur.

Ketua Panwaslu Lampung Timur Lailatul Khoiriyah mengatakan keduanya, M Ridho Ficardo dan Imer Darius tidak hadir dalam pemanggilan terkait laporan warga mengenai ucapan SARA dan penggunaan kendaraan dinas dalam kampanye.

"Tidak ada yang hadir," kata dia ketika dihubungi melalui sambungan teleponnya, Selasa, (12/6)

Laili biasa dia disapa menerangkan Panwaslu Lampung Timur akan memanggil kembali besok untuk dimintai keterangannya.

"Kami kirimkan surat kembali kepada keduanya untuk hadir besok jam 9 dan 10," tuturnya.

Laili berharap keduanya dapat kooperatif memenuhi panggilan Panwaslu.

"Ya harus kooperatif karena kita juga sudah cukup mempunyai bukti, mendengarkan saksi dan meminta keterangan ahli. Nanti akan dikaji apakah memenuhi unsur atau tidak," ujarnya.

Laili menambahkan bila besok tidak hadir nanti akan disampaikan ke Sentra Gakkumdu untuk mendatangi yang bersangkutan.

"Bisa saja kita akan lakukan keterangannya dengan mendatangi kediaman yang bersangkutan," tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, Calon Gubernur Lampung M Ridho Ficardo dilaporkan warga Negaranabung terkait ujaran kebencian dalam pidatonya saat kampanye di Sukadana pada Senin 4 Juni 2018.

Laporan diterima langsung oleh Divisi Pengawasan Panwaslu Lampung Timur Uslih sekitar pukul 17.00 WIB. Junaidi melaporkan terlapor atas nama M Ridho Ficardo dan Imer Darius dengan nomor 01/LP/PLG/VI/2018.

Sebelumnya, dalam kampanyenya beberapa waktu lalu di Lampung Timur, Ridho Ficardo bicara tentang "kedaulatan pembangunan bukan di tangan mata sipit" dan meminta audiens merekam kemudian meng-upload pernyataannya itu ke situs YouTube.

Kebencian pada etnis ‘mata sipit’,--seperti yang berbau SARA dalam pilkada ini sengaja dihembuskan untuk menutup skandal kekerasan seksual dirinya dengan Sinta Melyati yang sudah menjadi terbuka dimata publik. (Salimah)

Add comment

Security code
Refresh