Politik
Muhammad Yamin, SH, Ketua Umum Sekretariat Nasional (Seknas) Jokowi. (Ist)

JAKARTA- Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan tetap merupakan partai terkuat dalam Pilkada 2018 baru-baru ini. Karena secara nyata PDI Perjuangan yang justru sukses mengantarkan 4 kadernya sebagai Gubernur, 3 Wakil Gubernur, serta 33 bupati/walikota dan 38 wakil Bupati/wakil walikota. Hal ini disampaikan oleh Muhammad Yamin, SH, Ketua Umum Sekretariat Nasional (Seknas) Jokowi kepada Bergelora.com di Jakarta, Sabtu (30/6).

“Dengan posisi politik PDI Perjuangan tetap kuat saya berani pastikan Presiden Jokowi akan menang telak dalam Pilpres 2019,” tegasnya.

Tak  lama setelah hasil quick count (hitung cepat) Pilkada serentak 2018 tayang di beberapa stasiun televisi, muncullah berbagai analisis tentang pergeseran peta kekuatan politik di Indonesia. Yang paling sering muncul di media sosial, juga media massa, adalah analisis yang disertai tabulasi pencapaian partai-partai politik dalam pilkada.

Misalnya, disebutkan bahwa Partai Nasdem merupakan partai yang paling banyak memenangkan pasangan calon gubernur/wakil gubernur. Sedangkan PDI Perjuangan digambarkan sebagai partai yang kadernya mengalami banyak kekalahan-- yang disorot terutama di Jawa Timur dan Sumatra Utara.

“Tapi, ada yang keliru dalam analisis itu. Pertama-tama harus dikatakan bahwa analisis berdasarkan tabulasi seperti itu tidak menggambarkan secara tepat realitas politik sebenarnya. Soal "kemenangan" Partai Nasdem itu sejatinya tidaklah sedahsyat itu. Itu hanya "kemenangan administratif", bukan kemenangan politis,” katanya.

Maksud M. Yamin, klaim Partai Nasdem menang di 11 provinsi lebih banyak karena ikut mengusung. Adapun kader Nasdem yang menang dalam pertarungan pilgub 2018 ini hanya 3 orang. Golkar malah cuma 1 orang.

“Bandingkan dengan PDI Perjuangan yang justru sukses mengantarkan 4 kadernya sebagai Gubernur, 3 Wakil Gubernur, serta 33 bupati/walikota dan 38 wakil Bupati/wakil walikota,” ujarnya.

Jadi, sekali lagi menurutnya, ukuran kemenangan politis dalam pertarungan pilkada mestinya adalah kader partai yang terpilih, bukan sekedar ikut mengusung. Tapi, yang lebih penting daripada tabulasi kemenangan diatas, justru adalah realitas politik bahwa partai banteng masih berjaya dalam berbagai survei-survei politik mutakhir.

“Perolehan suara PDI Perjuangan dalam pemilihan legislatif 2019 mendatang diperkirakan berkisar 25 % sampai 30 % dari keseluruhan pemilih. Ini artinya kekuatan partai banteng masih sangat diperhitungkan dalam pentas politik nasional. Tidak seperti yang dikatakan para pollster bahwa pengaruh PDI Perjuangan sudah menurun,” katanya.

Namun Yamin mengakui bahwa dalam pilkada serentak kali ini, partai banteng mengalami kekalahan di beberapa wilayah strategis tentu harus diakui. Banyak faktor yang terkait dengan kekalahan tersebut.

“Itulah yang harus menjadi pembelajaran bagi para pemimpin PDI Perjuangan untuk berbenah sesegera mungkin,” katanya.

Satu hal lagi tambahnya, hasil pilkada serentak 2018 ini juga mengkonfirmasi bahwa pengaruh Presiden Joko Widodo makin menguat menjelang Pemilihan Presiden tahun depan. Hal itu terlihat dari para calon yang memenangkan pilkada di wilayah strategis dengan segera menyatakan dukungannya kepada Jokowi, seperti Ridwan Kamil di Jawa Barat dan Khofifah Indar Parawansa di Jawa Timur.

“Kesimpulannya, berbeda dengan analisis tabulasi para pollster dan pengamat politik, saya berani menyatakan bahwa hasil pilkada serentak 2018 menggambarkan bahwa: posisi politik PDI Perjuangan tetap kuat, dan Presiden Jokowi akan menang telak dalam Pilpres 2019,” ujarnya. (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh