Politik
Hendardi, Ketua SETARA Institute. (Ist)

JAKARTA- Untuk memerangi terorisme, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) harus mengoptimalkan kerja-kerja fungsional Forum Komunikasi Pencegahan Terorisme (FKPT) yang dibentuk oleh BNPT di tingkat provinsi. Fungsi-fungsi komunikasi lintas sektoral FKPT harus ditingkatkan untuk mengenali sejak dini indikasi terorisme dan jaringan teror. Demikian Pers Hendardi, Ketua SETARA Institute kepada Bergelora.com di Jakarta, Sabtu (7/7).

“Segera revitalisasi lembaga ketahanan masyarakat desa (LKMD) di unit-unit kemasyarakatan terkecil, seperti desa/kelurahan bahkan RT/RW, untuk meningkatkan partisipasi dan kapasitas deteksi dini terorisme,” tegasnya.

Di samping itu menurutnya, pemerintah juga hendaknya memperluas kerja-kerja pencegahan terorisme yang mengakomodasi partisipasi masyarakat melalui ekstensifikasi pelembagaan FKPT hingga tingkat kabupaten/kota dan kecamatan.

“Kelompok-kelompok masyarakat hingga di unit terkecil di tingkat rukun tetangga, bahkan dasawisma, harus memiliki ketahanan sosial untuk melawan infiltrasi ideologi teror dan mempunyai sensitivitas sosial untuk mengidentifikasi serta melakukan pencegahan awal terhadap eksistensi terorisme, pelaku dan jaringannya,” katanya.

Sebelumnya, ledakan bom oleh teroris kembali terjadi di Jawa Timur, tepatnya di Kelurahan Pogar, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan. Pemilik empat bom yang meledak merupakan teroris asal Aceh yang bersama keluarganya mengontrak rumah milik warga setempat sejak dua tahun yang lalu.

“Kasus bom Bangil tersebut menunjukkan bahwa ancaman teror selalu mengintai kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara kita. Oleh karena itu aparat keamanan dan seluruh elemen warga harus selalu meningkatkan kewaspadaan dalam mengantisipasi dan mengidentifikasi setiap potensi teror,” katanya.

Ledakan bom teroris di kontrakannya tersebut juga menurut Hendardi mengindikasikan bahwa jaringan dan sel-sel teroris belakangan ini memelihara eksistensi diri mereka melalui kamuflase dengan cara tinggal sedekat mungkin dengan masyarakat.

“Dalam situasi demikian, peningkatan partisipasi masyarakat dalam upaya deteksi dini terorisme menjadi sebuah keniscayaan,” katanya.

Bukan Teror

Sebelumnya Kapolri Jenderal Tito Karnavian meluruskan pemberitaan mengenai ledakan yang terjadi pada sebuah rumah kontrakan di Jalan Sungkono RT 01/RW 01 Pogar Bangil, Pasuran, Jawa Timur, Kamis (5/7) kemarin.

Menurut Kapolri, ledakan tersebut adalah kecil, bukan ledakan besar. “Jangan disamakan dengan kasus Surabaya. Berdasarkan hasil forensik itu adalah low explosive seperti bahan mercon yang biasa digunakan untuk bom ikan tapi kadang-kadang digunakan untuk aksi teror,” kata Kapolri saat mendampingi Presiden Jokowi menghadiri pembukaan Rakernas XI APKASI 2018, di ICE BSD Serpong, Kabupaten Tangerang, Jumat (6/7) pagi.

Peristiwa itu, tegas Kapolri, bukan peristiwa serangan bom atau teror. Ia menjelaskan, pemilik bom ini semula merencanakan untuk menyerang TPS (Tempat Pemungutan Suara) pada saat pilkada. Akan tetapi karena kepolisian melakukan operasi besar dan menangkap sebanyak 138 orang pasca bom Surabaya, pemilik bom menjadi ragu-ragu dan tidak jadi melakukan serangan.

Ditambahkan Kapolri, meledaknya bom ini diduga karena sedang dimainkan oleh anak pemilik bom yang masih balita, dan sekarang dirawat di rumah sakit. Pemilik bom, lanjut Kapolri, melarikan diri, sementara istrinya berhasil ditangkap.

“Jadi peristiwa ini bom meledak sendiri, bukan serangan teror. Bedakan. Kalau serangan teror itu bom dibawa menuju target, sementara yang ini bom ada di rumah, dibuat mainan anaknya kemudian meledak,” terang Kapolri.

Ia berharap, peristiwa ini membuat masyarakat sadar terhadap aksi terorisme yang sudah berkali-kali memakan korban anak-anak.

Kapolri mengimbau masyarakat tetap tenang karena ini adalah bom kecil, dan polisi sudah menangkap istri pemilik bom, sementara anaknya berhasil diselamatkan.

“Kita sudah tahu pelakunya bernama Abdullah. Satu orang temannya sudah ditangkap, saya tidak mau sebutkan namanya karena masih dalam pengembangan,” kata Kapolri seraya berjanji, Polri akan menangkap semuanya. (Calvin G. Eben-Haezer)

Add comment

Security code
Refresh