Politik
Calon anggota DPRD Provinsi Lampung Dapil Bandarlampung dari Partai Nasdem, Rita Purnamawati. (Ist)

BANDAR LAMPUNG – Keterwakilan perempuan di parlemen lebih pada pengabdian yang lebih luas. Jika selama ini pengabdian hanya sebatas di lingkungan keluarga, dengan duduknya perempuan di kursi legislator, pengabdian itu meluas ke masyarakat. Meski demikian, pengalaman politik seorang perempuan masih menjadi pertanyaan khalayak bila nanti mewakili rakyat di kursi parlemen.

Calon anggota DPRD Provinsi Lampung Dapil Bandarlampung dari Partai Nasdem, Rita Purnamawati mengungkapkan, pengalaman politik bagi dirinya merupakan proses pembelajaran. Tapi proses itu telah dilalui sejak lama melalui berbagai organisasi.

“Selama ini kita intens di permasalahan pendidikan dan wanita. Dua faktor ini yang akan terus kita perjuangkan,” kata Rita Purnamawati pada Dialog Interaktif yang digelar RRI Pro 1 Lampung dengan tema ‘Keterwakilan Perempuan di Parlemen’ Selasa (31/7).

Keputusannya maju sebagai wakil rakyat, Rita menegaskan, bukan sebatas memenuhi kuota keterwakilan perempuan tapi lebih sebagai stimulus agar perempuan tergerak dan mengubah paradigma di masyarakat bahwa bukan hanya laki-laki yang pantas terjun di dunia politik.

“Ini panggilan jiwa dan memperluas pengabdian. Saya rasa ini juga tujuan kawan-kawan perempuan lain yang turut bertarung pada pemilihan legislatif 2019 mendatang,” ungkap Rita.

Di Nasdem Provinsi Lampung, kata Rita, di beberapa daerah ada lebih dari 50 persen keterwakilan perempuan yang untuk maju pada Pileg mendatang. “Ini membuktikan bahwa tidak hanya memenuhi kuota tapi perempuan diberi ruang yang lebih tidak sekedar pembedaan gender, tapi memang punya potensi untuk maju,” tegas Rita.

Rita menambahkan, bahwa dirinya terus konsentrasi pada persoalan-persoalan warga, terutama lewat Rumah Peduli yang ia komandoi, fokus terhadap persoalan pendidikan, persoalan perempuan dan kaum muda atau milenial, sebab dengan begitu masyarakat akan lebih dekat dan kami selaku perempuan juga peduli kepada mereka, apalagi nanti dipercaya mewakili mereka di parlemen.

Kepada Bergelora.com dilaorkan, pengamat politik Universitas Lampung (Unila), Aria Damastuti, mengatakan, keterwakilan perempuan di DPRD Lampung untuk Pileg 2019 mengalami kemunduran. “Saat ini di DPRD Lampung hanya 12 persen, padahal sebelumnya sudah 25 persen tapi di beberapa Kabupaten/Kota mengalami kemajuan. Ini menunjukkan resistensi perempuan lebih tinggi di akar rumput,” ungkap Ari.

Keterwakilan perempuan di DPRD, kata Ari, harus terus ditingkatkan agar misi yang diperjuangkan bisa tercapai. Untuk itu, Ari mendorong agar Partai dapat memenuhi 30 persen keterwakilan perempuan.

“Kini pemilih lebih melihat sosok bukan berdasarkan nomor urut. Jadi bagaimana potensi si caleg harus lebih di eksplor untuk memperoleh suara terbanyak. Masyarakat tidak lagi melihat Partai, tapi sosok. Selanjutnya, tinggal bagaimana si calon lebih intens menyapa dan meyakinkan konstituennya,” kata Ari. (Dero)

Add comment

Security code
Refresh