Politik
Eko Bambang Subiantoro, Direktur Riset PolMark Indonesia. (Ist)

JAKARTA- Pemilu 2019 yang akan datang akan diikuti pemilih baru dari kalangan generasi muda milenial yang menurut data PolMark Indonesia sebesar 31,48 persen dari data penduduk. Generasi milinial lahir dalam kurun waktu 1983-1999 yang saat ini berusia 19-35 tahun.  Selain faktor usia yang dinamis, pertumbuhan generasi ini sangat dipengaruhi oleh pesatnya pertumbuhan tehnologi. Demikian Eko Bambang Subiantoro, Direktur Riset PolMark Indonesia kepada media massa, Rabu (29/8) malam

“Tidak mudah untuk bisa memahami pola pikir dan memenangkan hati generasi milenial untuk partisipasi apalagi ikut memilih figur tertentu dalam Pemilu 2019,” ujarnya

Kelompok ini perlu menjadi perhatian bagi setiap kontestan Pemilu dalam pemilihan presiden dan wakil presiden juga pemilihan legislatif di tingkatan nasional, provinsi maupun kota dan kabupaten.

“Jangan mengharapkan dukungan kalau tidak berhasil memenangkan hati dan pikiran generasi milenial. Hal ini penting untuk diketahui pihak-pihak yang mengikuti konstestasi, karena generasi ini akan sangat mempengaruhi suara dukungan,” jelasnya.

Eko menjelaskan, generasi milinial adalah anak-anak muda yang sangat individualis dan tidak mudah dicekoki kepentingan politik tertentu, kalau tidak menarik bagi mereka.

“Mereka hanya tertarik pada hal-hal yang memang menjadi hobi, simpati pada yang menyentuh hati dan masuk akal. Sehingga tidak mudah untuk memanipulasi atau mencekoki isi kepala  agar mendapatkan simpati dukungan. Mereka hanya percaya pada figur yang memberikan keteladanan, bukan kata-kata,” ujarnya.

Oleh karenanya generasi milenial tidak mudah dimanipulasi atau terpapar hoax, karena mereka akan dengan mudah mengecek kebenaran sebuah isu yang yang terkait pada satu figur yang dikaguminya.

“Generasi milenial kebal terhadap hoax dan tidak mudah terpengaruh. Dengan peralatan tehnologi yang dimiliki mereka akan mendapatkan informasi lebih cukup dan akurat untuk menangkal hoax, bahkan bisa menyerang balik,” paparnya.

Sebagai anak muda, mereka juga mudah tertarik pada penampilan fisik seorang tokoh yang memiliki prestasi dan kelebihan tertentu. Namun demikian mereka akan memverifikasi kecerdasan, komitmen dan hasil kerja orang tersebut untuk membanding-bandingkan.

“Jadi tidak cukup penampilan menarik, tapi juga dibutuhkan kecerdasan, komitmen dan hasil kerja nyata, untuk bisa memenangkan hati generasi milenial,” ujarnya.

Dilihat dari struktur usianya, Pemilu 2019 adalah pemilu yang akan didominasi oleh pemilih muda (40 tahun ke bawah) — termasuk di dalamnya Pemilih Pemula, yaitu pemilih berusia 17-21 tahun pada saat pencoblosan dilakukan pada 17 April 2019 nanti.

“Pemilih muda Pemilu 2019 itu akan didominasi oleh Pemilih yang lahir antara tahun 1983-1999 atau pemilih berusia 20-36 tahun — yang dikenali sebagai Generasi Millenials. Bersama-sama dengan Generasi X dan Generasi Z, Generasi Millenials membentuk karakter unik pada Pemilu 2019,” jelas Eko.

Keunikan Pemilu 2019

Dalam Diskusi Publik PolMark, Rabu (29/8) Eko menjelaskan, Generasi millenials dan Generasi Z bisa disebut sebagai generasi digital pasca-internet. Mereka hidup dalam dunia sekaligus dunia nyata dan dunia maya. Mereka mengekspresikan diri dan berinteraksi dengan lingkungannya melalui media sosial.

“Kedua generasi itu memandang dirinya sebagai penghela dinamika dunia. Mereka memandang dirinya otonom dan menentukan. Mobilisasi tidak akan bisa menggerakkan mereka. Mereka hanya merasa bisa digerakkan oleh diri mereka sendiri,” ujarnya.

Generasi X berada dalam posisi yang “terdesak oleh sejarah” untuk menyesuaikan diri dengan karakteristik Generasi Millenials dan Generasi Z itu. Mereka memang bukan pemilik sah Zaman Digital tetapi mereka dipaksa menjadi bagian aktif dari Zaman Digital milik Generasi Z dan Generasi Millenials itu.

Semua karakteristik di atas mempengaruhi perilaku pemilih dalam Pemilu 2019. Partai Politik dan para kandidat (baik untuk Pemilu Legsilatif maupun Pemilu Presiden) yang tidak mampu mengorientasikan dirinya kepada pemilih dari Generasi Millenials dan Generasi Z berkemungkinan besar untuk terlindas oleh zaman. “Memenangkan Pemilu 2019 untuk sebagian besar bermakna “memenangkan aspirasi Generasi Millenials,” tegasnya.

Diskusi Publik

Sebelumnya PolMark Indonesia mengadakan Diskusi Publik dengan tema “Pemilu dan Ancaman Retaknya Kerukunan Sosial” mempresentasikan hasil-hasil lebih dari 73 survei yang dilakukan oleh Polmark Research Center (PRC) dalam rentang waktu 15 Januari 2016 sampai dengan 11 Juni 2018.

Sebanyak 73 hasil survei tersebut terdiri dari survei tingkat nasional, tingkat propinsi, kabupaten dan kota yang dilakukan PolMark Research Center - PolMark Indonesia di tingkat Nasional, Provinsi, Kabupaten dan Kota dalam rentang waktu 15 Januari 2016 sampai dengan 11 Juni 2018.

Metode pengambilan sampel untuk masing-masing survei tersebut adalah multistages random sampling. Jumlah responden untuk masing-masing survei di tingkat Nasional adalah 2.250 orang dengan MoE (margin of error) 2.1% dan 2.600 orang MoE 1.9%. Jumlah responden untuk masing-masing survei di tingkat Provinsi adalah 1.200 orang dengan MoE + 2,9%. Jumlah responden untuk masing-masing survei di tingkat Kabupaten dan Kota adalah 880 orang (MoE + 3,4%) dan 440 orang (MoE + 4,8%).

Dengan demikian, secara keseluruhan jumlah responden atau calon pemilih yang pandangannya tercakup dalam laporan ini adalah 66.530 orang.

Kepada Bergelora.com dilaporkan, beberapa narasumber yang hadir dalam Diskusi Publik itu adalah Maruarar Sirait dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan,. Mustafa Kamal dari Partai Keadilan Sejahterah (PKS), Ahmad Riza Patria dari Partai Gerindra, KH. Maman Imanul Haq  dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Rocky Gerung, Pengamat Politik, R. Siti Zuhro, Profesor Riset dan Peneliti LIPI dan Andi Arief dari Partai Demokrat. Acara ini akan dimoderatori  oleh Sandrina Malakiano, Deputy CEO PolMark Indonesia). (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh