Politik
Eko Bambang Subiantoro, Direktur Riset PolMark Indonesia. (Ist)

JAKARTA- Para kandidat dalam Pemilu 2019 baik dalam pemilihan presiden dan wakil presiden RI maupun pemilihan anggota legislatif masih belum mengerti benar bagaimana menggunakan media massa untuk menggalang simpati dan dukungan. Hal ini disampaikan oleh Demikian Eko Bambang Subiantoro, Direktur Riset PolMark Indonesia kepada Bergelora.com, Kamis (30/8) di Jakarta.

“Para calon kebanyakan belanja pemasangan iklan dalam berbagai bentuk dimedia massa. Padahal masyarakat memilih karena tahu dan yakin dengan program yang ditawarkan selain figur calon tentunya. Jangan mengandalkan belanja iklan media massa saja,” ujarnya.

Eko menganjurkan untuk menggunakan media massa lebih banyak memperkenalkan program, gagasan dan kegiatan-kegiatan bersama masyarakat.

“Rakyat sekarang menginginkan pemimpin yang bisa dekat dengan diri. Jadi hadir ditengah masyarakat merupakan program yang sangat penting dan pastikan media memuatnya,” jelasnya.

Sebelumnya dalam Diskusi Publik di Jakarta, Rabu (29/8) lalu PolMark Indonesia memaparkan penggunaan media sosial juga sangat penting dan berpengaruh untuk memperkenalkan diri dan menggalang simpati dan dukungan.

Berdasarkan survey yang dilakukan PolMark Research Center (PRC) terhadap akses media massa dan media sosial setiap hari menunjukkan, di Jawa sebanyak 3,5% masyarakat membaca koran, 4,4% mendengar radio, 60,9 menonton televisi, 14,8% mengkases internet 21,8% mengakses Facebook, 4,2% mengakses Twitter, 10,7% mengakses instagram, 24,4% membaca Whatsapp (WA), 10,5% menonton Youtube, 13,3% mengakses LINE, 10% menggunakan email, dan 5,1% membuka portal berita.

Sementara itu di Sumatera, sebanyak 3,9% masyarakat membaca koran, 3,0% mendengar radio, 57,8% menonton televisi, 10,6% mengkases internet 20,7% mengakses Facebook, 3,3 % mengakses Twitter, 10,4% mengakses instagram, 16,4% membaca Whatsapp (WA), 9,9% menonton Youtube, 5,9% mengakses LINE, 5,8% menggunakan email, dan 3,0% membuka portal berita.

Untuk daerah lainnya diluar Jawa dan Sumatera, sebanyak 6,1% masyarakat membaca koran, 3,9% mendengar radio, 50,4% menonton televisi, 14,0% mengkases internet 32,7% mengakses Facebook, 4,1% mengakses Twitter, 10,5% mengakses instagram, 20,6% membaca Whatsapp (WA), 11,8% menonton Youtube, 0,0% mengakses LINE, 10,8% menggunakan email, dan 3,8% membuka portal berita.

“Hanya para calon yang akrab dan bisa menggunakan media sosial secara efektif akan mendapatkan cakupan lebih luas, sehingga dikenal dan mendapatkan simpati dari masyarakat. Nah, belum semua calon legislatif mengerti soal ini,” ujarnya.

Diskusi Publik

Diskusi publik dengan tema “Pemilu dan Ancaman Retaknya Kerukunan Sosial” mempresentasikan hasil-hasil lebih dari 73 survei yang dilakukan oleh Polmark Research Center (PRC) dalam rentang waktu 15 Januari 2016 sampai dengan 11 Juni 2018.

Sebanyak 73 hasil survei tersebut terdiri dari survei tingkat nasional, tingkat propinsi, kabupaten dan kota yang dilakukan PolMark Research Center - PolMark Indonesia di tingkat Nasional, Provinsi, Kabupaten dan Kota dalam rentang waktu 15 Januari 2016 sampai dengan 11 Juni 2018.

Metode pengambilan sampel untuk masing-masing survei tersebut adalah multistages random sampling. Jumlah responden untuk masing-masing survei di tingkat Nasional adalah 2.250 orang dengan MoE (margin of error) 2.1% dan 2.600 orang MoE 1.9%. Jumlah responden untuk masing-masing survei di tingkat Provinsi adalah 1.200 orang dengan MoE + 2,9%. Jumlah responden untuk masing-masing survei di tingkat Kabupaten dan Kota adalah 880 orang (MoE + 3,4%) dan 440 orang (MoE + 4,8%).

Dengan demikian, secara keseluruhan jumlah responden atau calon pemilih yang pandangannya tercakup dalam laporan ini adalah 66.530 orang.

Kepada Bergelora.com dilaporkan, beberapa narasumber yang hadir adalah Maruarar Sirait dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan,. Mustafa Kamal dari Partai Keadilan Sejahterah (PKS), Ahmad Riza Patria dari Partai Gerindra, KH. Maman Imanul Haq  dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Rocky Gerung, Pengamat Politik, R. Siti Zuhro, Profesor Riset dan Peneliti LIPI dan Andi Arief dari Partai Demokrat. Acara ini akan dimoderatori  oleh Sandrina Malakiano, Deputy CEO PolMark Indonesia). (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh