Politik
oleh Eko Bambang Subiantoro, Direktur Riset PolMark Indonesia. (Ist)

JAKARTA- Peredaran Hoax (kabar bohong) melalui media sosial ternyata masih sangat tinggi, sehingga terjadi kompetisi tidak sehat di dalam media sosial. Hal ini terlihat dalam Survei PolMark Research Center (PRC) di DKI Jakarta pada Januari 2017 saat pilkada serentak akan dimulai.

“Sampai saat ini persoalan kita adalah bagaimana menyehatkan kompetisi dalam media sosial,” Hal ini disampaikan oleh Eko Bambang Subiantoro, Direktur Riset PolMark Indonesia kepada Bergelora.com di Jakarta, Minggu (2/9) malam.

Ia menjelaskan, sebanyak 21,2% pemilih yang menggunakan media sosial sering dan sangat sering menemukan bahwa informasi yang mereka terima melalui media sosial ternyata bohong, fitnah atau hoax.

“Sementara 39,6% pemilih pengguna media sosial lainnya mengaku jarang dan sangat jarang menemukan hal serupa,” ujarnya.

Dengan kata lain menurutnya, berita bohong, fitnah dan hoax secara keseluruhan menjangkau 60,8% pemilih pengguna media sosial.

“Hanya intensitasnya saja yang berbeda-beda,” ujarnya.

Sementara itu menurutnya tindakan menyebar luaskan klarifikasi sangat jarang dilakukan dengan me-retweet, mem-forward dan meng-share informasi yang belakangan diketahui tidak benar, bohong atau hoax.

“Hanya 0,2% dari responden yang sangat  sering dan 3,5% sering melakukan klarifikasi dengan me-retweet, mem-forward dan meng-share informasi yang belakangan diketahui tidak benar, bohong atau hoax,” ujarnya.

*Diskusi Publik*

Diskusi publik dengan tema “Pemilu dan Ancaman Retaknya Kerukunan Sosial” mempresentasikan hasil-hasil lebih dari 73 survei yang dilakukan oleh Polmark Research Center (PRC) dalam rentang waktu 15 Januari 2016 sampai dengan 11 Juni 2018.

Sebanyak 73 hasil survei tersebut terdiri dari survei tingkat nasional, tingkat propinsi, kabupaten dan kota yang dilakukan PolMark Research Center - PolMark Indonesia di tingkat Nasional, Provinsi, Kabupaten dan Kota dalam rentang waktu 15 Januari 2016 sampai dengan 11 Juni 2018.

Metode pengambilan sampel untuk masing-masing survei tersebut adalah multistages random sampling. Jumlah responden untuk masing-masing survei di tingkat Nasional adalah 2.250 orang dengan MoE (margin of error) 2.1% dan 2.600 orang MoE 1.9%. Jumlah responden untuk masing-masing survei di tingkat Provinsi adalah 1.200 orang dengan MoE + 2,9%. Jumlah responden untuk masing-masing survei di tingkat Kabupaten dan Kota adalah 880 orang (MoE + 3,4%) dan 440 orang (MoE + 4,8%).

Dengan demikian, secara keseluruhan jumlah responden atau calon pemilih yang pandangannya tercakup dalam laporan ini adalah 66.530 orang.

Kepada Bergelora.com dilaporkan, beberapa narasumber yang hadir adalah Maruarar Sirait dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan,. Mustafa Kamal dari Partai Keadilan Sejahterah (PKS), Ahmad Riza Patria dari Partai Gerindra, KH. Maman Imanul Haq  dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Rocky Gerung, Pengamat Politik, R. Siti Zuhro, Profesor Riset dan Peneliti LIPI dan Andi Arief dari Partai Demokrat. (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh