Politik
Pelukan Prabowo dan Andi Arief yang misterius. (Ist)

JAKARTA- Pagi ini, Kamis (13/9), beredar foto Andi Arief, Sekjend Partai Demokrat dirangkul erat oleh Letjend (Purn.) Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Gerindra. Setelah beberapa minggu terakhir Andi Arief menyerang secara keras Prabowo Subianto sebagai Jenderal kardus yang plinplan dan menciderai kesepakatan Koalisi Partai Demokrat dan Partai Gerindra bersama Agus Hari Yudhoyono (AHY).

Dalam benak publik masih bertanya-tanya,-- benarkah seperti yang disampaikan Andi Arief bahwa pengkhianatan itu karena mahar sogokan dana Sandiaga Uno sebesar Rp 500 milyar kepada Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadailan Sejahtera (PKS) Rp 500 milyar, seperti yang disampaikan Fadli Zon dalam pertemuan antar tim kecil Partai Gerindra dan Partai Demokrat.

Sayangnya Bawaslu keburu menutup kasus money politic ini,-- mumpung Andi Arief berhalangan hadir karena sedang mengurus kedua orang tuanya sakit di Bandar Lampung.

Diatas foto tersebut yang disebar Andi Arief sendiri, ia meninggalkan pesan, “Pak Prabowo sudah mengenal saya lama, Dia tahu saya tak pernah bermain dengan kata-kata. Dan saya tak pernah mengkhianati kebenaran,”

Foto Prabowo merangkul Andi Arief disambut nyinyir oleh berbagai kalangan, baik dari lawan maupun kawan-kawan seperjuangannya.

Pengamat sosial media Ajianto Dwi Nugroho salah seorang yang kecewa dengan foto tersebut.

“Payah. Tapi namanya juga politik. Hari ini ngomong A, besok ngomong B. Gak usah dipikirinlah.” Demikian Direktur Media Center Sinergy penuh perasaan, seperti patah hati.

Pengamat ekonomi, Salamuddin Daeng justru lebih tegas dan yakin, pertemuan Prabowo dan Andi Arief akan mengalahkan Joko Widodo dan Ma’aruf Amin.

“(Mereka-red) sudah damai. Kalau mereka men,” ujarnya lewat pesan Whatsapp.

Aktivis PDI-Perjuangan, Ronas justru menilai lain.

“(Itu bukan dirangkul-red). (Itu-red) dicekik,” katanya.

Senada dengan itu Kristinaus Setyawan seorang profesional yang tinggal dan bekerja di Singapura mengatakan sepertinya prabowo geram dengan Andi Arief.

“Ha..ha.. geram dia...minta dihilangin ini anak,”” tanggapannya melihat foto Andi dan Prabowo.

Didi Ratumbanua, aktivis 98 dari Sulawesi Utara melihat Andi Arief bukannya dipeluk tapi justru dicekik.

“AA pe muka rupa tako (Wajah AA seperti ketakutan-red). Wowo pe muka pe muka bengis deng mengancam, rupa mo makang. (Wajah prabowo bengis seperti mengancam-red). Wowo pe gestur memang killer man (gestur prabowo memang killer-red)

Sastrawan muda, Linda Christany menunjukkan kekagetannya melihat foto tersebut.

“Ya ampuuun. Mungkin ini maksudnya si AA biar bisa direkrut. Sungguh menggelikan si AA,” katanya.

Zeth Warouw, seorang advokat muda justru melihat sebaliknya. Menurutnya, ini branding bagus buat Andi Arief.

“Sejak jenderal kardus Andi Arief sudah viral kemana-mana. Yang ini juga viral. Andi bisa menjadi salah satu pemimpin alternatif pada tahun 2024. Yang lain pada kemane?” katanya.

Aan Rusdianto aktivis HAM melihat hal yang sama. Menurutnya Andi Arief adalah politisi muda yang akan berhadapan dengan tokoh-tokoh muda lainnya.

Menurutnya, Andi Arief adalah figur yang mewakili gerakan 98 untuk bisa menantang politisi yang sudah diatas saat ini.

“Dia pernah diculik, selamat dan tetap berjuang walaupun bersama SBY dan Parati Demokrat. Justru sekarang ujian buat Andi Arief untuk bisa lolos ditengah kesulitan Partai Demokrat,” ujar temannya yang pernah ikut diculik oleh tim mawar.

Andi Arief adalah salah satu politisi muda kontroversial saat ini. Ia berhadapan dengan tokoh-tokoh yang sedang moncer yang saat ini sedang mempersiapkan diri untuk merebut kekuasaan 2024 menggantikan Presiden Joko Widodo. Saat itu adalah tahun terakhir kekuasaan Presiden Joko Widodo setelah 2 tahun berkuasa.

Saat ini sudah dapat terpetakan, siapa generasi politisi muda Indonesia papan atas yang sangat populer secara nasional yang akan bertanding merebut RI satu dan dua. Mereka adalah Sandiaga Uno, Anies Baswedan, Ridwan Kamil, Ganjar Pranowo, AHY, Risma, TGB, Deddy Purwakarta dan Deddy Mizwar.

Sementara Andi Arief sendiri saat ini menjabat sebagai Sekjen Partai Demokrat sebelumnya direkrut oleh Soesilo Bambang Yudhoyono menjadi staff khusus Presiden dari 2009-2014 dan salah seorang komisaris di PT Pos Indonesia (2004-2009).

Jalan Andi Arief

Track politik Andi Arief sendiri sebelumnya penuh dengan turbulensi politik karena perkembangan situasi politik nasional dari jaman Orde Baru sampai saat ini. Ia pernah memimpin PRD (Partai Rakyat Demokratik) dari bawah tanah setelah Orde Baru menangkap jajaran dan memenjarakan pimpinan PRD Budiman Sujatmiko Cs. Pasca kerusuhan 27 Juli 1996.

Pada tahun 1997, Sebagai Pangkostrad, Prabowo Subianto membentuk Tim Mawar dari Kopassus untuk mengejar dan menangkap para pimpinan PRD bawah tanah. Belasan orang ditangkap salah satunya Andi Arief tertangkap di Bandar Lampung. Beberapa bulan kemudian karena tekanan gerakan massa dan desakan internasional Prabowo Subianto melepas Andi Arief dan beberapa orang pimpinan PRD lainnya. Walau demikian masih ada belasan orang kader PRD dan korban salah tangkap lainnya yang hilang sampai sekarang dan menjadi tanggung jawab Prabowo Subianto.

Sebelum masalah Jenderal Kardus, Andi Arief tidak pernah menyerang Prabowo Subianto. Mungkin sebagai penghormatan karena pernah membebaskan dirinya dan beberapa orang kader PRD dari penculikan Tim Mawar. Bahkan dalam perdebatan internal, Andi Arief berusaha untuk objektif melihat peran Prabowo Subianto dalam Orde Baru dan memuji ‘nasionalisme’ Prabowo.

Namun semua itu berbalik ketika, Prabowo mencalon dirinya menjadi calon presiden dan memilih Sandiaga Uno sebagai calon wakil presidennya. Dengan tegas Andi Arief menyatakan mantan komandan Kopassus ini sebagai jenderal kardus. Pernyataan menohok dari Andi Arief membuat panas telinga Prabowo Subianto, Partai Gerindra dan koalisi yang dibangun.

PAN dan PKS melaporkan Andi Arief ke Polisi. Sekelompok orang mendesak Bawaslu memeriksa data dari Andi Arief. Namun sampai hari ini, Andi Arief tidak juga dipanggil Polisi dan Bawaslu menghentikan pemanggilan Andi Arief. Intinya Sandiaga Uno sah menjadi Wakil Presidennya Prabowo Subianto, PAN dan PKS beruntung dapat masing-masing Rp 500 milyar.

Partai Demokrat, Soesilo Bambang Yudhoyono dan Andi Arief mau tidak mau bersatu dengan Koalisi Prabowo-Sandi, setelah ditolak Megawati Soekarnoputri masuk ke dalam Koalisi Jokowi-Ma’aruf. Akhirnya dalam sebuah pertemuan Andi Arief diajak berfoto dengan Prabowo Subianto. (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh