Politik
Mengenang Yoppie Lasut. (Ist)

JAKARTA- Hari ini, Selasa, 2 Oktober 2018. Yoppie Lasut, wartawan senior Sinar Harapan, dikebumikan di San Diego Hills, Karawang, Jawa Barat. Istri dan anak tercinta, saudara dan seluruh kawan-kawan seperjuangannya mengantarkan ke tempat peristirahatan terakhir Yoppie Lasut.

Sebelumnya saudara dan kawan-kawan Yoppie dalam 3 hari menemani Istri dan anaknya dalam malam-malam penghiburan di rumah duka Rumah Sakit Siloam, Semanggi, Jakarta, sejak  Jumat (28/10).  

Bergantian kawan-kawannya datang memberikan penghormatan terakhir pada perjuang tiga jaman Yoppie Lasut. Dirinya sejak dulu memang dihormati kawan dan ditakuti lawan dari jaman Soekarno, jaman Soeharto dan sampai saat ini.

Pada malam pertama berkabung, kawan-kawan dekat Yoppie sudah berdatangan. Mereka, aktivis dan wartawan-wartawan senior di dari tahun 60-an 70-an sampai tahun 80 an. Ada Aristides Katoppo, Yossy Katoppo dan Nico Sompotan dari Harian Sore, Sinar Harapan, August Parengkuan dari Kompas. Terlihat pengusaha Teddy Rachmad dan keluarga juga hadir. Ada pimpinan angkatan 74, Hariman Siregar. Ada, Beathor Suryadi, Shanty Parhusip dan Yenny Rosa Damayanti mewakili aktivis anti Orde Baru. Ketua Umum Seknas Jokowi, Mohammad Yamin juga hadir. Bahkan dari kalangan pendukung Parabowo Subianto seperti Satya Dharma, Rinjani dan Heru Nongko juga hadir. Tak lupa dari kalangan aktivis gereja seperti Rev. Shepard Supit ikut mengisi malam-malam penghiburan.

Heru Wardoyo, aktivis 80’an dari Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta (FKMY) mengatakan semasa hidupnya almarhum adalah sosok yang sangat dikenal dikalangan penggiat sosial politik pada generasi 70, 80 dan 90 an. Hampir tak ada generasi yang tak mengenal beliau. Bagi sebagian kalangan di masa Orde Baru, beliau dianggap nyeleneh karena membela para korban politik Orde Baru baik itu korban-korban dari kalangan Islam, PKI maupun nasionalis dan soekarnois.

“Setahu saya, beliau sangat kuat memegang prinsip-prinsip Kemanusiaan dan HAM. Sehingga ketika melakukan advokasi tak pernah melihat latar belakang politik. Meski berbagai tuduhan kerap melanda dirinya namun almarhum tetap tegak memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan yang sering diabaikan oleh kekuasaan politik. Nilai-nilai kemanusiaan dan semangat menegakkannya yang pernah dibagikan kepada kami akan terus memandu dan menginspirasi. Hormat kepada almarhum bung Yoppie Lasut. Tugas telah ditunaikan. Selamat jalan..selamat beristirahat dalam damainya Tuhan,” tegasnya.

Yoppie Lasut memang sudah berjuang sejak bangku SMP bergabung bersama Permesta bergerilya di Minahasa pada tahun 1950-an bersama Ventje Sumual. Yoppie sempat menulis buku dengan judul “Permesta” yang menceritakan pengalamannya.

Pada pemerintahan Soekarno, Yoppie aktif bersama kawan-kawannya membentuk Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) mengkritisi kedekatan Presiden Soekarno dan Partai Komunis Indonesia (PKI). Bersama Soe Hok Gie, Arief Budiman dan kawan-kawannya Yoppie mengerahkan aksi-aksi menantang pemerintahan Soekarno sampai pecah G-30-September.

Namun setelah Soeharto berhasil mengkudeta Soekarno dan memegang kendali kekuasaan Yoppie Lasut, Soe Hok Gie dan Arief Budiman mengkritik rejim militer Soeharto yang melakukan pembantaian terhadap kaum soekarnois dan kader-kader PKI. Tentang hal ini Soe Hok Gie menulisnya dalam “Catatan Harian Demonstran” sebuah buku yang berpengaruh dan menggerakkan mahasiswa Indonesia yang untuk melawan Rejim militeris Soeharto.

Pada tahun 1974 Yoppie Lasut, Rizal Ramli, Arief Budiman dan kawan-kawan terlibat dalam Malari (Makar Lima Belas Januari) sebuah istilah Soeharto pada gerakan mahasiswa yang ditunggangi konflik kepentingan antar Jenderal Soemitro dan Jenderal Ali Murtopo. Gerakan ini mengangkat isu anti Jepang yang menguasai ekonomi Indonesia saat itu. Yoppie dan Rizal Ramli bersama beberapa orang kawan ditangkap dan dipenjara Orde Baru.

Keluar dari penjara, Yoppy Lasut dan Ade Rostinah Sitompul (almarhumah) mendirikan Hidup Baru, sebuah lembaga yang melayani para tahanan dan narapidana politik (Napol dan Tapol) di seluruh Indonesia.

Petrus H. Hariyanto, mantan Sekjen PRD mengatakan,  Bagi narapidana politik (Napol) dan tahanan politik (Tapol) Orde Baru, nama Yopie Lasut sangat dekat di hati. Lembaga yang dia pimpin mempunyai program membantu kami para Napol dan Tapol, terlepas apapun idiologinya.

“Selain mengurus kami yang masih di dalam penjara Orde Baru, Yayasan Hidup Baru juga mempunyai program membantu para bekas Napol dan Tapol PKI,” ujarnya.

Dibawah tekanan Soeharto, Yoppie dan Bu Ade mengunjungi dan membantu kehidupan para tahanan politik di penjara. Dengan berpegang pada ajaran Yesus Kristus dan Deklarasi HAM PBB, dua orang ini membantu ribuan Tapol PKI, Tapol Islam, Tapol Timor-Timur, Tapol Papua dan Tapol Aceh. Pokoknya semua Tapol yang melawan Soeharto, tidak seorang pun dari mantan tahanan politik yang tidak mengenal Yopie Lasut dan Ibu Ade Rostinah Sitompul.

“Salah satu yang sangat kuingat, lembaganya sering bikin Kebaktian. Jemaatnya para tahanan Soeharto, yang menyandang predikat komunis dan Ateis. Beberapa hari setelah aku bebas dari penjara LP Cipinang, aku ikut kebaktian yg Yopie selenggarakan. Aku didaulat bersaksi akan campur tangan Tuhan dalam kehidupanku selama di Penjara.Ketika memasuki doa syafaat, para Napol PKI yang sering dicap ateis itu memanjatkan doa dengan khusuk dan menangis,” Petrus mengenangnya.

Mantan Tapol Partai Rakyat Demokratik (PRD) memang sangat dekat dengan Yoppie Lasut. Bahkan sehari setelah pecah 27 Juli 1996, Yoppie Lasut lah yang pertama kali dikejar oleh militer Soeharto, sehingga Yoppie memilih menyingkir ke Belanda. Di Belanda, Yoppie menyiarkan perlawan rakyat indonesia terhadap Orde Baru lewat Radio Belanda Hilversum.

“Mungkin di Indonesia hanya Bung Yopie yang bisa lakukan begini. Dan setiap perjumpaan bung selalu berhasrat berbicara politik, walau itu dalam sebuah acara ultah seorang anak. Selamat jalan bung, tugasmu sudah paripurna di dunia. Mengharapkan ke Allah Bapa yang berkuasa atas kita semua,” tegasnya.

Bob Randilawe: Mantan Ketua Majelis Prodem, Bob Randilawe juga menyampaikan bela sungkawa atas kepergian Yoppie Lasut. Aktivis 80-an memang dekat dengan Yoppie.

”Yoppie amat fenomenal di kalangan aktivis pro demokrasi. Terutama di masa-masa otoritarian orba. Bahkan hampir tak ada peristiwa politik yang bernada "kritis" yang terlewatkan oleh liputan mautnya di sebuah stasiun radio luar negeri Hilversum,” kenang Bob Randilawe.

Saat Jokowi mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI Jakarta sampai mencalonkan diri menjadi Presiden RI melawan Prabowo Subianto, Yoppie Lasut secara tegas mendukung Jokowi sampai saat menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Bob Randilawe menceritakan,” Pertemuan terakhirku dengan Bung Yoppie di kawasan Kebayoran Baru di Jenggala Center di tahun 2014 saat kita sama-sama hadiri orasi mantan-mantan aktivis pro demokrasi yang sepaham dengan agenda politik Nawacita Jokowi,” katanya.

“Bung Yopie sempat mendorong teman-teman mantan aktivis. Sebagaimana biasa Yoppie lakukan dimanapun, agar ambil peranan dalam kabinet Jokowi selama konsisten jalankan Nawacita. Saya hanya tersenyum mendengar desakan Yopie malam itu. Istirahatlah dalam damai di sorga Sang Pencipta... Sampai jumpa disana!” ujar Mantan Ketua Presidium Badan Koordinasi Mahasiswa Jakarta (BKMJ) ini.

Malam itu semua kawan Yopie menundukkan kepala.

“Tidak semua orang bisa mengerti jalan pikiran Yoppie, tapi kami semua merasa dekat dan menyayanginya,” demikian Hariman Siregar disamping jasad Yoppie.

Aristides Katoppo dan Mohammad Yamin terdiam sejenak memandang Yoppie. Ia tersenyum dan geleng-geleng kepala dan berucap, “Yoppie adalah orang berani. Bahkan paling berani. Sampai kadang kita ngeri melihatnya. Mar skarang so senang di Sorga,” demikian Tides kepada Yamin.

Yamin menimpali, “Selamat jalan Bung Yoppie! Kami lanjutkan perjuanganmu,” ujarnya.

Menurut Yamin jarang ada orang seperti Yoppie yang selalu hadir dikala orang susah. “Semua kita berterima kasih kepada pengabdian dan pelayanan Bung Yoppie...,” tandas Yamin.

Indro Tjahyono aktivis 78 mengenang Yoppie dalam akun facebooknya,-- setelah reformasi dinyatakan menyeleweng pada era Susilo Bambang Yudhoyono, Yoppie tidak henti-hentinya selama hampir 10 tahun, melakukan perlawanan bersama GAS (Gerakan Anti SBY). Setelah itu Yoppie mendirikan organ relawan GETAR (Gerakan Rakyat Tanpa Partai) yang berafiliasi dengan Seknas Jokowi untuk mendukung lahirnya pemerintahan baru di bawah Jokowi-JK.

“Apa yang selalu dikeluhkan Yopie Lasut adalah tentang perilaku rejim saat ini yang jauh berbeda dengan masa sebelumnya. Pahlawan masa lalu seperti Sukarno, Hatta, Agus Salim, Syahrir dan lain-lain; sebagai pejuang; bisa ikut menentukan kebijakan saat rejim baru lahir. Tetapi saat ini, dengan atribut relawan, walau mereka ikut dalam memperjuangan perubahan, ia dicampakkan begitu saja,” tegas mantan Direktur SKEPHI.

Danial Indra Kusumah mengirimkan pesan duka cita di akun facebooknya,--“Untuk Yoppie Lasut (sahabatnya Soe Hok Gie), Bahagia lah. Sedih, kawanku satu-satu pergi akan lama sekali, belum habis rinduku,” katanya.

Ia melanjutkan, “Biasanya orang akan mengambil posisi konservatif (kolot) bahkan reaksioner kalau sudah tua karena kebanyakan orang takut kehilangan hal-hal yang sudah dicapai dalam paruh sebagian besar hidupnya, meskipun itu adalah pencapaian yang salah. Tapi kau, Yoppie, tidak! Berkontradiksi (Berlawan-red) terus sampai akhir. Selamat, teladan yang bagus, Yoppie. Itu juga adalah kemenangan!” (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh