Politik
Benny Rhamdani, Ketua Komite I DPD RI dari Partai Hanura. (Ist)

JAKARTA- Sebaiknya Amien Rais tidak mengunakan ilmu dagang dalam  kasus hukum yang dihadapinya. Jangan lagi menggunakan cara-cara demikian dan harus menunjukan sikap ksatria dalam menghadapi kasus hukum apalagi panggilan polisi itu masih dalam posisi sebagai saksi. Hal ini ditegaskan politisi Hanura, Benny Rhamdani kepada Bergelora.com di Jakarta, Selasa (9/10)

“Amien Rais harusnya ksatria hadapi panggilan polisi. Tunjukan keteladan menjadi warganegara yang baik yang menghormati hukum. Sebagaimana yang selama ini sering diteriakannya. Jadilah pemimpin yang mampu menunjukan sikap samanya kata dan perbuatan,” katanya.

Jika tidak mampu seperti itu menurutnya, maka akan semakin ditinggalkan rakyat. Dan gaya seperti itulah yang menjadi penyebab dukungan politik rakyat untuk Probowo di Pilpres nggak naik-naik alias nyungsep ditempat.

 “Sikap untuk taat pada hukum, jujur dan berani bertanggung jawab itu hanya berlaku dan ditujukan kepada orang lain. Dan itu tidak berlaku bagi kelompok mereka,” katanya.

Ia mencontohkan dalam pemanggilan Polda Metro Jaya terkait dengan kasus penyebaran berita bohong Ratna Sarumpaet. Menghindarnya Amin Rais dari penggilan polisi,  menunjukan sikap Amin Rais yang tidak gentleman.

“Sikap itu menunjukan kualitas pemimpin yang tidak taat hukum dan tidak  memiliki kesadaran untuk memberikan keteladanan yang baik bagi rakyat,” katanya.

Sekaligus  menurutnya memberi contoh yang buruk dan kontaproduktif dalam upaya pembangunan kesadaran hukum masyarakat.

“Terlebih  alasan untuk menghindari masalah hukum tersebut, dibumbui dengan membangun opini dengan menjadi orang yang dizholimi dan dikriminalisasi oleh negara,” katanya.

Amien Rais menurutnya sebaiknya menunjukan sikap gentlemannya untuk datang memenuhi panggilan Polda Metro Jaya terkait posisinya sebagai saksi dalam kasus  penyebaran berita bohong Ratna Sarumpaet.

“Sehingga tidak jadi contoh buruk bagi generasi ke depannya. Apalagi selama ini Pak Amin sudah terlanjur mengaku sebagai tokoh reformasi yang selalu lantang bicara tentang penegakkan hukum,” katanya.

Bahkan menurutnya sangat lucu, terkait kasus yang dihadapinya, Amien Rais bermanuver dengan metode  atau pola menjadikan apa yang dia ketahui tentang sebuah kasus korupsi sabagai alat tukar dengan kasus hukum yang dihadapinya.

“Contoh terbaru, Amin Rais menyampaikan bahwa dia akan bicara ke publik terkait adanya Kasus korupsi yang dia ketahui. Seolah kasus yang dia ketahui itu akan digunakan sebagai alat Tukar atau barter dengan masalah hukum yang dihadapinya,” jelasnya.

Sikap Amien Rais itu menurutnya menunjukkan dirinya takut menghadapi hukum untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.

“Ini tentu lucu. Pak Amien Rais ini pejuang atau pedagang sih? Koq pemanggilan polisi seolah mau di barter dengan katanya ada kasus korupsi yang berhubungan dengan KPK yang akan dia publikasi. Adanya kasus yang dia ketahui, kok kesannya mau dijadikan Alat Tukar dengan kasus hukum yang dia hadapi. Ini benar-benar cara lucu-lucuan. Kalau tidak mau disebut sebagai cara akal-akalan,” katanya.

Benny juga mengatakan tim Prabowo Subianto kerap menunjukan dirinya sebagai “Macan Asia”, namun ketika berhadapan dengan persoalan hukum justeru menjadi 'Kucing Asia'.

“Kenapa menjadi "Kucing Asia dan bukan "Macan Asia"? Karena ketika mereka berhadapan dengan persoalan hukum mereka selalu berupaya menghindar dengan mencari berbagai alasan,” jelasnya.

Bahkan lebih menyedihkan menurutnya, kelompok Prabowo Subianto seperti orang yang mengalami split personality atau kepribadian ganda. (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh