Politik
Mendagri Tjajo Kumolo, Menko PMK, Puan Maharani, Menkopolhukam, Wiranto dan Menpan RB, Saefuddin dan gubernur dan wakil gubernur dari 34 provinsi di seluruh Indonesia menghadiri pembukaan Pekan Kerja Nyata Revolusi Mental Tahun 2018 lapangan Sario Manado, Provinsi Sulawesi Utara Jumat (26/10). (Ist)

MANADO- Mendagri Tjajo Kumolo menegaskan dalam menghadapi Pemilu 2019, semua pihak diuji apakah mentalnya sudah berubah secara revolusioner atau masih dengan mentalitet lama. Hal ini ditegaskan Mendagri Tjahjo Kumolo kepada pers menjelang Pekan Kerja Nyata Revolusi Mental Tahun 2018 di Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara Jumat (26/10).

“Dalam konteks Pemilu tugas kita dalam melaksanakan revolusi mental adalah melawan racun demokrasi yaitu politik uang, kampanye fitnah, menghasut, SARA, dan provokasi,” ujarnya.

Seharusnya menurutnya jika revolusi mental melahirkan kemampuan adu program, adu gagasan, memperkaya track record positif dimata publik. Revolusi mental mengajarkan ketaantan pada aturan yang disepakati dalam bentuk hukum, etika politik, saling menghormati dan menghargai.

“Supaya nantinya dalam membangun bangsa semua yang dipilih rakyat, dari legislatif di daerah sampai nasional, kepala daerah sampai presiden, semuanya dalam rangka menjaga Pancasila dan UUD’45 serta NKRI dan menjaga kemajemukan bangsa,” tegasnya.

Kementerian Dalam Negeri menurutnya saat ini sudah menyiapkan mekanisme dan program untuk memastikan percepatan pelaksanaan Revolusi Mental untuk memajukan bangsa dan negara.

“Salah satunya adalah membangun disiplin dan mental masyarakat yang taat aturan, memahami area rawan korupsi, terlibat dalam mempercepat reformasi birokrasi, terlibat dalam perencanaan anggaran, memantau pembelian barang dan jasa, mengawal dana hibah dan bansos, memastikan retibusi dan pajak dan memerangi jual beli jabatan,” demikian paparnya

Mendagri menegaskan bahwa revolusi mental harus dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu

“Dimulai dari diri saya sendiri sebagai pejabat publik. Apalagi yang dipilih langsung oleh rakyat di daerah,” tegasnya.

Gerakan Hidup Baru

Sementara itu Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum, Kementerian Dalam Negeri, Soedarmo menjelaskan Revolusi Mental dimaksudkan untuk membentuk manusia Indonesia yang berkarakter melalui gerakan hidup baru guna mengubah cara pandang, pikiran, sikap, dan perilaku manusia Indonesia seutuhnya.

Mengutip Presiden Joko Widodo yang mengatakan bahwa konsep Revolusi Mental yang digagasnya memiliki relevansi dan kontektualisasi yang sama dengan konsep Trisakti yang pernah diutarakan oleh Bung Karno dengan Tiga Pilarnya yaitu “Indonesia yang berdaulat secara politik, Indonesia yang mandiri secara ekonomi dan Indonesia yang berkepribadian secara sosial-budaya”.

“Praktek revolusi mental dalam kehidupan sehari-hari adalah menjadi manusia yang berintegrasi, mau bekerja keras, dan punya semangat gotong royong. Gerakan revolusi mental semakin relevan bagi bangsa Indonesia yang saat ini tengah menghadapi tiga problem pokok bangsa yaitu; merosotnya wibawa negara, merebaknya intoleransi, dan terakhir melemahnya sendi-sendi perekonomian nasional,” katanya.

Soedarmo menjelaskan, dalam rangka mempercepat, memasyarakatkan dan membudayakan Revolusi mental Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kemenko Bidang Polhukan, Kemenko Bidang Kemaritiman, Kemenko Bidang Perekonomian, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Utara melaksanakan Pekan Kerja Nyata Revolusi Mental (PKN-REVMEN) Tahun 2018.

PKN-REVMEN tahun 2018 dilaksanakan dengan tujuan antara lain sebagai bagian dari upaya membangun sinergi Pemerintah, Pemerintah Daerah dan masyarakat untuk percepatan revolusi mental dengan melalui berbagai program dan strategi serta sebagai sarana informasi dan komunikasi terkait dengan revolusi mental dan capaiannya. Selain itu juga untuk menunjukkan ke masyarakat aksi nyata pemerintah dalam mengimplementasikan Gerakan Nasional Revolusi Mental.

PKN-REVMEN Tahun 2018 di Provinsi Sulawesi Utara melibatkan kurang lebih 15.000 peserta dilaksanakan dengan mengutamakan aksi nyata yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan (Pemerintah, Pemerintah Daerah, Dunia Usaha, Dunia Pendidikan, dan Kelompok Masyarakat) dengan mengutamakan pencapaian target indikator setiap program gerakan Indonesia Melayani, Indonesia Tertib, Indonesia Bersih, Indonesia Mandiri dan Indonesia Bersatu, dengan mengurangi kegiatan-kegiatan yang bersifat seremonial

Kepada Bergelora.com dilaporkan, terdapat beberapa alasan menarik dibalik penetapan Provinsi  Sulut adalah kondisi sosio-kultural, kemajemukan masyarakat Manado dan sekitarnya merupakan potret indah dalam merangkai keberagaman dan cerminan kehidupan inklusif yang melindungi minoritas. Selain itu, posisi strategis Manado sebagai representasi Indonesia Timur jadi faktor penting untuk penyebaran implementasi 5 (lima) Gerakan Nasional Revolusi Mental. Meski terpisah jauh secara geografis namun tetap mewujudkan Indonesia bersatu, mandiri dan melayani.

Kegiatan PKN-REVMEN Tahun 2018 mengusung tema Revolusi Mental Untuk Indonesia Satu Mandiri dan Melayani rangkaian kegiatannya  dilaksanakan pada  tanggal 23 s.d. 28 Oktober 2018, yang didalamnya diisi dengan berbagai kegiatan terkait dengan revolusi mental antara lain temu nitizen dalam rangka Revolusi Mental, forum dialog bela negara, pembauran kebangsaan, pemberdayaan Ormas, adat istiadat dan kepercayaan, Rembuk Nasional (Gerakan Indonsia Melayani, Tertib, Mandiri, Bersih dan Bersatu), pameran revolusi mental, pagelaran seni  budaya, karnaval revolusi mental dan berbagai kegiatan terkait lainnya.

Hadir pula dalam acara itu, Menko PMK, Puan Maharani, Menkopolhukam, Wiranto dan Menpan RB, Saefuddin dan gubernur dan wakil gubernur dari 34 provinsi di seluruh Indonesia (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh