Politik
Marsma TNI Asep Chaerudin, M.A.S.S selaku Deputi Bidang Penanggulangan dan Pemulihan Badan Siber dan Sandi Negara dalam Rapat Koordinasi Nasional Menghadapi Pemilu Serentak 2019 di Jakarta, Kamis (22/11). (Ist)

JAKARTA – Setiap perkembangan yang muncul menjelang Pemilu 2019 sangat perlu diwaspadai. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Marsma TNI Asep Chaerudin, M.A.S.S selaku Deputi Bidang Penanggulangan dan Pemulihan Badan Siber dan Sandi Negara di Hotel El Royal Jakarta, pada acara Rakornas Kesiapan Pemilu Serentak 2019 yang diselenggararakan Kemendagri, di Jakarta, Kamis (22/11).

“Ancaman Siber menjelang perhelatan Pemilu menjadi ancaman yang sangat berbahaya dan dapat mengganggu kelancaran pesta demokrasi terbesar di dunia ini,” ungkap Asep, di acara  Rapat Koordinasi Nasional Persiapan Pelaksanaan Pemilu 2019 yang diselenggarakan oleh Kemendagri melalui Ditjen Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri.

Asep melanjutkan, ancaman ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Asep kemudian mencontohkan kasus yang terjadi di Kanada dan Filipina.

“Kasus di Kanada dan Filipina adalah pencurian data pemilih jutaan orang yang dilakukan oleh hacker. Ini sungguh mengerikan,” tukas Asep.

Menurut data BSSN, sejak Tahun 2004 sampai Tahun 2018, KPU menjadi instansi utama yang diserang oleh hacker dalam proses perhelatan pesta demokrasi. Fakta ini menurut Asep sangatlah berbahaya jika tidak ada langkah serius yang diambil oleh Pemerintah khususnya oleh BSSN sendiri. 

Kepada Bergelora.com dilaporkan, berdasarkan fenomena ini, Asep mengatakan bahwa BSSN sangat serius dan berkomitmen untuk secara intens menjalin komunikasi dengan berbagai instansi terkait mulai dari provider komunikasi, Kementerian/Lembaga, sampai dengan TNI dan Kepolisian.

“Kerjasama dan komunikasi intens harus terus dilakukan. BSSN tidak dapat bekerja sendiri dan harus ada sinergi dengan instansi lainnya,” tutup Asep. (Calvin G. Eben-Haezer)

Add comment

Security code
Refresh