Politik
Sekretaris Jenderal Partai Rakyat Demokratik (PRD) saat di dalam penjara Cipinang, Jakarta di masa perlawanan terhadap Orde Baru Soeharto. (Ist)

JAKARTA- Keinginan keluarga Cendana (Soeharto) agar kemenangan Prabowo Subianto bisa untuk mengembalikan Orde Baru merupakan niat jahat kepada seluruh rakyat Indonesia. Untuk itu setiap orang yang masih sadar akan ancaman bahaya Orde Baru tidak  berdiam diri tapi harus bersatu melawan niat jahat tersebut. Hal ini ditegaskan oleh Petrus H. Harijanto, mantan narapidana politik dari Partai Rakyat Demokratik (PRD) oleh rezim otoriter Soeharto dimasa Orde Baru.

“Semua orang yang pernah mengalami kejahatan orde baru tidak boleh diam. Masakan niat jahat diberikan karpet merah untuk berkuasa,” ujarnya.

Ia yakin, diantaran para pendukung calon presiden Prabowo Subianto masih ada orang-orang yang berpikiran waras karena pernah mengalami kekejaman Soeharto dan Orde Baru.

“Mereka seharusnya mengingatkan dan menyadarkan Prabowo Subianto bahwa pencalonan dirinya telah dirusak sendiri oleh kelompok cendana. Kawan-kawan aktivis yang berada dilingkaran Prabowo jangan diam saja, dan mengorbankan Prabowo dan seluruh rakyat Indonesia lagi,” tegasnya.

Mantan Sekretaris Jenderal Partai Rakyat Demokratik (PRD) ini menegaskan bahwa bangsa dan rakyat Indonesia tidak boleh lagi dirusak oleh kembalinya rezim otoriter orde baru.

“Cukup kami saja yang pernah merasakan jadi korban orde baru. Kebayang gak kalau anak cucumu nantinya diculik dan dirampas hidupnya ditangan militer dan polisi seperti kawan-kawan kami? Kebayang gak kalau rumah dan tanahmu dirampas tanpa ganti rugi seperti di berbagai tempat dimasa orde baru? Jangan biarkan keluargamu jadi korban!” ujarnya.

Petrus Harijanto yang saat ini memimpin Keluarga Besar Rakyat Demokratik (KBRD) ini menegaskan sekali lagi bahwa mengembalikan orde baru, sama saja mengembalikan kembali kekejaman militer.

“Yaitu menempatkan militer sekali lagi mendominasi seluruh sendi kehidupan kita. Semua akan berhadapan dengan militer. Kamu gak akan bisa bicara bebas dimedia facebook dan twitter. Kalau penguasa gak senang kamu hilang diculik. Mau seperti itu dialami anak cucumu?” ujarnya.

Represi dan Korupsi Orde Baru

Ia menceritakan dimasa orde baru, kebebasan berorganisasi diberangus. Semua kegiatan sosial harus seijin Babinsa, koramil, korem dan Kodam Setempat. Stabilitas politik dibangun dilakukan dengan mengedepankan politik represi.

“Hasilnya seperti sekarang ini Indonesia jadi kerdil dan susah maju. Korban pelanggaran HAM jutaan orang tidak pernah bisa dituntaskan oleh negara dan membuat keluarga menderita seumur hidup,” jelasnya.

Petrus juga mengingatkan bahwa penyakit korupsi dimana-mana sampai saat ini susah diberantas merupakan mentalitet warisan dari masa orde baru yang sudah mengakar dalam birokrasi dan politisi dari nasional sampai desa-desa selama 32 tahun orde baru.

“Makanya perang terhadap korupsi sangat sulit dilakukan karena sisa-sisa orde baru masih bebas berkeliaran dan mengajarkan bagaimana cara melakukan korupsi pada birokrat dan politisi generasi saat ini. Jadi kalau mau negara bebas korupsi tuntaskan memberantas sisa-sisa orde baru. Bukan malah dipelihara dan diberikan kesempatan kembali lagi,” tegasnya. (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh