Politik
Gerakan masyarakat Jejaring Anti-Bohong (JAB) dideklarasikan di Jakarta, Rabu (28/11).

JAKARTA -- Gerakan masyarakat Jejaring Anti-Bohong (JAB) dideklarasikan di Jakarta, Rabu (28/11). Gerakan ini sebagai upaya untuk melawan informasi yang dinilai bohong yang disebarkan oleh kubu pasangan Capres-Cawapres, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

"Ini merupakan gerakan masyarakat, ini untuk pertama kalinya di Jakarta, dan kita bekerja sama dengan 1.400 relawan," kata Sinal Blegur, Koordinator Jejaring Anti-Bohong usai deklarasi.

Aktivis asal Nusa Tenggara Timur (NTT) ini menilai selama ini kubu Prabowo-Sandiaga seringkali melontarkan informasi-informasi bohong yang tidak sesuai fakta. Informasi bohong tersebut, seringkali diulang-ulang agar seolah menjadi benar.

"Hal inilah yang ingin dilawan JAB yang memiliki tagline 'yang bohong di-JAB saja'," ucapnya.

Kepada Bergelora.com ia mencontohkan, Prabowo mengatakan kemiskinan naik 50 persen, padahal Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan tingkat kemiskinan berada 9,8 persen, dan tidak ada kenaikan 50 persen. Selain itu, Prabowo juga menyebut 99 persen bangsa Indonesia mengalami hidup pas-pasan.

"Hal itu jelas sebuah angka kebohongan, tidak ada itu, katanya diambil dari Bank Dunia, ternyata tidak benar," ujar Alumni Universitas Sebelas Maret, Surakarta ini

Ia mengatakan, kalau kebohongan demi kebohongan terus direproduksi, hal ini jelas membahayakan akal sehat masyarakat. Demokrasi yang seharusnya berjalan dengan mengetengahkan akal sehat, digerogoti oleh kebohongan-kebohongan yang justru merusak demokrasi itu sendiri, katanya.

"Inilah yang akan kita lawan, sebagai pendukung Jokowi - Ma'ruf, kita ingin demokrasi yang sehat, demokrasi dengan akal sehat, bukan menyebar kebohongan," imbuhnya.

Ia menyampaikan saat ini Jejaring Anti-Bohong, baru dideklarasikan di Jakarta. Kendati demikian, tidak menutup kemungkinan di berbagai kota lainnya.

Dalam kesempatan yang sama, aktivis korban penculikan Tim Mawar, Kopassus, Aan Rusdianto mengingatkan bahwa kebohongan yang sengaja disebarluaskan oleh Tim Prabowo Sandi selama ini justru mencerminkan bahwa kepemimpinan yang akan dibangun oleh capres-cawapres Prabowo-Sandi dimasa depan adalah kepemimpinan yang dipenuhi kebohongan.

"Dari kampanye sebelum berkuasa saja sudah banyak berbohong, apalagi kalau sudah berkuasa. Tentu rakyat Indonesia yang sudah cerdas saat ini tidak mudah dibohongi. Tapi kebohongan tidak bisa dibiarkan. Karena kebohongan akan menjadi data palsu dan dan sangat potensial menjadi pemerintahan yang korup, manipulatif dan otoriter," tegasnya.

Aan Rusdianto kemudian menegaskan bahwa bangsa dan rakyat Indonesia tidak mungkin lagi membiarkan kemajuan peradaban Indonesia dihambat oleh sekelompok orang ambisius hanya untuk menumpuk kepentingan pribadi seperti masa Orde Baru 32 tahun yang kelam.

"Namun semua pihak yang sadar akan kepentingan bangsa dan negara tidak boleh tinggal diam menghadapi berbagai kebohongan. Awasi dan laporakan semua kebohongan yang disampaikan dilingkungannya, di media dan media sosial. Laporakan ke aparat hukum terdekat. Umumkan segera bahwa yang mereka sampaikan itu adalah kebohongan. Tunjukkan fakta sebenarnya," tegas Alumni Universitas Diponogoro ini.

Budayawan Wibowo 'Jemek' Arif dalam kesempatan itu juga mengingatkan bahwa Presiden Joko Widodo sudah menegaskan agar melawan semua kebohongan dengan cara bicara langsung pada rakyat. Bukan hanya berbicara di media massa dan media sosial, menurutnya Perintah langsung dari Presiden adalah langsung "door to door".

"Jadi sudah jelas. Tugas semua relawan adalah memastikan rakyat mendapatkan informasi yang benar dan sudah mendapatkan fasilitas pelayanan publik yang disedia oleh Pemerintah," ujar alumni Filsafat Universitas Gadjah Mada ini.

Saat ini juga menurut Jemek, tugas penting kaum budayawan dan seniman untuk memerangi berbagai kebohongan yang disebar ditengah masyarakat.

"Ini pertaruhan peradaban bangsa Indonesia kedepan, apakah akan memilih pemimpin yang akan membawa Indonesia ke jaman gelap seperti jaman Orde Baru dimasa lalu, ataukah kita berhasil mempertahankan pemimpin yang sudah teruji menuju Indonesia yang gilang gemilang untuk generasi mendatang," tegas budayawan asal Blora ini.

Jemek menyerukan agar masyarakat dari desa dan kelurahan dapat segera membangun Jaringan Anti Kebohongan (JAB) untuk menjadi juru penerangan di masyarakat agar tidak mudah termakan kebohongan (hoax).

"Narasi kebenaran harus dikibarkan, walaupun ditengah rimba kebohongan beracun. Caranya terserah. Ini tugas sejarah setiap anak Indonesia," tegasnya. (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh