Gambar cover depan buku Perang Tondano oleh Girot Wuntu (Ist)

TONDANO- Sore turun di Tondano. Monumen Benteng Moraya tegak berdiri di tengah persawahan dan rawa Danau Tondano. Jadi saksi atas perlawan ribuan rakyat dan waraney (laskar) Minahasa yang gugur dalam Perang Tondano selama 150 tahun. Mendiang Giroth Wuntu, seorang budayawan dalam bukunya, ‘Perang Tondano’ menyebutkan perang itu sebagai perang patriotik rakyat Minahasa melawan penjajahan Belanda yang berlangsung secara berulang-ulang dalam kurun waktu satu setengah abad. Perang perlawanan yang pertama telah dimulai pada 1 Juni 1661, dan berakhir dengan perang perlawanan terbesar pada 14 Januari 1807 sampai 5 Agustus 1809. Tulisan ini sekedar sebuah catatan perjalanan singkat Bergelora.com tentang pembangunan Benteng Moraya di Tondano.