Pasca bom teroris di gereja Surabaya, Minggu (13/5). (Ist)

Diam-diam dunia pendidikan Indonesia telah dikuasai dengan pikiran radikal yang menolak NKRI dan kenyataan bahwa bangsa ini bersatu dan hidup dalam keberagaman. Laila Rohmatin,  jurnalis di Harian Jogja menulis pengalamannya dalam akun facebooknya dan dimuat Bergelora.com. (Redaksi)

Oleh: Laila Rohmatin

DALAM keluarga, hanya kami berdua yang diizinkan menuntut ilmu di sekolah umum. Saudara kami semuanya harus sekolah di pondok pesantren dan UIN.

Selepas SD saya ingin sekolah di SMP favorit di kota. Tapi orang tua tak mengizinkan. Saya sekolah di ponpes pelosok. Perlawananpun dimulai. Di ponpes ada siswa yang enggan upacara, itu biasa. Menolak hormat ke bendara dan nyanyi Indonesia raya, itu pemandangan lumrah.

Cekokan bahwa orang orang di luar Islam itu dosa, kami lahap tiap hari. Hahaha.. Seharusnya saya punya bakat jadi teroris. Tapi sayang, paham-paham itu kalah ngehits dengan lagu Dewa 19 yang saya dengarkan tiap hari.

Sepupu saya banyak yang beraliran Islam garis keras. Saya pernah dipaksa privat pengajian. Musik itu haram. Dandan itu haram. Pakai celana itu haram.

Saya sempat stress waktu itu. Tapi saya pendam sendiri.

Perlawanan batin memuncak dan saya menolak sekolah di Aliyah. Saya ingin menikmati pendidikan yang tidak membuat saya gila...

Tamat ponpes,  saya pergi ke Yogja, berjuang mengalahkan ribuan siswa untuk masuk sekolah perawat negeri. Sekolah gratis karena semua ditanggung negara. Tentu beda dengan ponpes saya dulu yang ogah-ogah dengan negara.

Berkumpullah saya dg orang orang dr berbagai agama, suku, dan etnis. Kali pertama saya satu kamar dengan orang nasrani. Punya guru ilmu kebidanan orang nasrani. Bertemu dengan orang yang tidak berhijab, pakai celana pendek. Tapi bacaan saya setiap pulang praktek dari Sardjito adala Sabili dan Adil.

Dan.. eng ing enggg... Semua baik-baik saja.

Tamat sekolah perawat saya masuk UGM. Berkawanlah saya dengan orang yang ngaku atheis, pengagum Karl Marx, penganut paham agama itu candu, dan lainnya. Saya juga ikut Dewan Mahasiswa UGM kala itu.

Perlahan, bibit bibit radikalisme yang saya terima selama tiga tahun sirna...

Merasa trauma dengan pemberontakanku yang melelahkan, adikku bebas melenggang di sekolah umum. SMP favofit, SMA favorit, dan kedokteran UGM...

Tentu, cara pandang kami dengan kakak-kakak dalam memaknai perbedaan itu beda. Bagi kami agama lain itu baik-baik saja. Tapi tidak dengan keluarga lain. Perdebatan hingga kini masih terjadi, terutama saya.

Bukan pekerjaan yang mudah meyakinkan keluarga bahwa agama lain itu baik. Dan hingga kini belum bisa..

Bahkan saya dilarang operasi di rumah sakit Kristen. Padahal rumah sakit ini bisa BPJS..

Saya juga pernah diminta keluarga (keluar dari-red) kerja karena bos saya nasrani.

Hahaha.. Bisa dibayangkan jika saya dulu tidak mati-matian menolak sekolah di Aliyah. Mungkin saya juga sudah jadi teroris pendiam, yang siap Booommm.. jika ada kesempatan.

Tapi tentu, tidak semua anak bisa melawan orang tua...

Jadi, bibit bibit radikalisme itu bersinggungan dengan pendidikan. Dia tumbuh subur atau tidak tergantung kesempatan dan seberapa sering si individu piknik wacana...

Jadi sering-seringlah piknik wacana...