Irena Nur Fadila (Co-Pilot) pesawat Dimonim Air yang tertembak di Nduga (tabloidjubi.com)

Kedamaian Pilkada 2018 dicemari oleh peristiwa di Nduga, Papua beberapa waktu lalu. Hal ini seharusnya tidak perlu terjadi apabila ada pendekatan dan sosialisasi  yang bisa diterima masyarakat setempat jauh sebelum pencoblosan. Wartawan Senior Sinar Harapan, Kristin Samah menyoroti Nduga untuk Bergelora.com. (Redaksi)

Oleh: Kristin Samah

HATI-hati mengucap janji politik. Apalagi bila ada yang mencoba bermain-main dengan sentimen agama atau separatis. Menang-kalah, pihak yang paling dirugikan adalah rakyat sendiri.

Kabupaten Nduga, Papua, menjadi bukti. Korban berjatuhan. Nduga dikenal sebagai basis Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang selama beberapa tahun terakhir tidak agresif melakukan kegiatan. Namun karena jaringan telekomunikasi sulit, akses untuk mencapai lokasi hanya bisa menggunakan pesawat carter atau speedboat melalui Kabupaten Asmat, tidak banyak informasi bisa diperoleh dari kabupaten itu.

Pesawat Twin Otter yang mengangkut logistik Pilkada ditembaki KKB ketika akan mendarat di Bandara Kenyam, Kabupaten Nduga. Akibatnya, kopilot, Irena Nur Fadila terluka di pergelangan kaki terkena serpihan peluru. Tak hanya itu. Pesawat kedua yang membawa aparat keamanan pun ditembaki. Pilot tertembak di bagian punggung.

Korban juga jatuh dari kalangan masyarakat biasa. Penduduk pendatang yang sedang menjaga toko meninggal tertembus peluru KKB di bagian perut. Istrinya tewas akibat sabetan parang di bagian kepala sedangkan anaknya yang masih belia dalam kondisi kritis setelah disabet parang di bagian wajah. Seorang lagi, Zaenal Abidin tewas akibat tembakan di rusuk kiri.

Sampai sekarang pemilihan gubernur di Kabupaten Nduga hanya bisa dilakukan di tiga distrik karena faktor keamanan. Duka tak terduga terjadi di Kabupaten Nduga.

Sejak awal, KPU menyatakan selama proses pemilihan gubernur, Papua adalah daerah yang paling rawan. Sementara untuk pemilihan bupati/ walikota terdapat lima daerah yang dinyatakan berpotensi konflik. Dari kelima daerah itu empat di antaranya ada di Papua yaitu Kabupaten Jayawijaya, Puncak, Timika, dan Paniai. Sampai sekarang pemilihan bupati di Paniai belum bisa dilaksanakan.

Sebelum Pilkada memang terdengar “gorengan” isu merdeka bila salah satu pasangan calon gubernur memenangkan Pilkada. Ada juga soal janji sejumlah uang untuk memenangkan calon tertentu.

Ternyata janji-janji tak seindah ketika diucapkan. Apalagi bila janji sudah mulai sulit ditagih. Sel tidur KKB pun seperti sekam dihembus angin. Kembali membara. Korban berjatuhan. Baku tembak antara aparat keamanan dengan KKB masih berlangsung.

Pilkada, sebagai sebuah proses politik pemilihan pemimpin di tingkat daerah bukanlah sebuah gawe yang kotor dan kejam.

Namun Kabupaten Nduga menjadi bukti. Permainan isu sensitif telah memakan korban jiwa. Di daerah-daerah lain, mungkin bukan korban nyawa yang harus diperhitungkan. Akan tetapi, berapa banyak jiwa-jiwa yang masih hidup tidak lagi memiliki hati untuk Indonesia Raya kecuali untuk kepentingan diri sendiri dan kelompoknya.