Opini
Sandiaga Uno (Ist)

Ternyata, kepentingan Sandiaga Uno mencawapreskan diri adalah untuk mengamankan bisnisnya yang sudah terseok-seok. Harapan jika terpilih menjadi wakil presiden maka dengan mudah mengambil alih kembali tol cipali dan menghidupkan kembali kilang TWU-nya dengan cara mengambil crude bagian pemerintah semurah mungkin walaupun merugikan negara. Inas N Zubir, Ketua Fraksi Hanura membongkarnya dan dimuat Bergelora.com (Redaksi)

Oleh: Inas N Zubir

GROUNDBREAKING tol cipali dilakukan pada tahun 2011 dimana pada saat itu konsensinya dipegang oleh PT. Lintas Marga Sedaya anak perusahaan PT. Baskhara Utama Sedayu milik Sandiaga Uno, kemudian tol cipali mangkrak karena sandy kedodoran dana untuk membangun tol cipali.

Kemudian PT. Baskhara Utama Sedayu pemilik saham PT. Lintas Marga Sedaya dilego 100% oleh Sandy dengan kepada kepada anak perusahaan ASTRA yakni PT. Astratel dan setelah itu barulah pembangunan tol Cipali tersebut dapat dimulai lagi pada bulan juli 2015.

Tri Wahana Universal (TWU) adalah perusahaan kilang minyak mini yang berlokasi di Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur seluas 7,2 Ha dengan jarak 7 Km dari sumur minyak Lapangan Banyu Urip yang dioperasikan oleh ExxonMobil Cepu Limited, dimana sebagian besar saham TWU dikuasai oleh Sandiaga Uno melalui PT Saratoga Investama Sedaya Tbk sedangkan sisanya milik Rudi Tavinos, pengusaha dari minangkabau.

Produksi TWU ditunjang 100% bahan bakunya dari lapangan banyu urip yang dikelola Exxon Mobil Indonesia, yakni crude bagi hasil untuk negara yang dikelola oleh Pertamina, dimana selama era SBY crude bagian ini dijual murah kepada TWU tanpa melalui proses tender, dan yang paling mengherankan adalah kuasa jual crude bagian Negara tersebut diberikan kepada Exxon Mobil Cepu dengan formula harga mulut sumur, padahal Pertamina melalui Pertamina EP Cepu adalah pengelola crude bagian Negara tersebut.

Pada tahun 2015, DPR mempersoalkan murahnya minyak bagian negara yang dijual kepada TWU, dimana kemudian awal tahun 2016 transaksi penjualan crude bagian Negara tersebut dihentikan karena kontrak transaksi jual beli crude bagian Negara untuk TWU berakhir tgl 16 Januari 2016, dan tidak diperpanjang, akibatnya produksi kilang-pin terhenti tanggal 20 Januari 2016.

Pada bulan Agustus 2016, TWU kembali beroperasi setelah Kementerian ESDM menentukan formula sementara yang tertuang dalam  Kepmen ESDM Nomor 168.K/12/DJM.B/2016 tentang Penetapan Formula Harga Minyak Mentah Indonesia Sementara Untuk Jenis Minyak Mentah Banyu Urip, aturan yang ditetapkan 23 Juni 2016 itu menyebutkan harga minyak mentah Banyu Urip di titik serah FSO Gagak Rimang sebesar ICP Arjuna dikurangi US$ 0,50 per barel.

Harga tersebut digunakan kemudian dalam Perjanjian Jual Beli Minyak antara Pertamina dan PT Tri Wahana Universal (TWU). Jadi tidak ada lagi penjualan dari titik serah fasilitas produksi awal (Early Production Facility/EPF) atau mulut sumur.

Formula sementara tersebut dinilai sangat tidak menguntungkan Negara, oleh karena itu pemerintah mengubah kembali harga minyak dari Lapangan Banyu Urip melalui Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor 4028 K/12/MEM/2017. Keputusan yang berlaku 21 November 2017 itu menyebutkan formula minyak mentah Banyu Urip adalah ICP Arjuna plus US$5,50 per bareI pada titik serah fasilitas di penampungan terapung (Floating Storage and Offloading/FSO) Gagak Rimang.

Dengan harga minyak dunia diatas US$. 50,-, kilang TWU tidak lagi ekonomis sehingga perusahaan memutuskan untuk menghentikan operasional-nya tanggal 31 Januari 2018 yang lalu.

Selain itu, Sandiaga Uno juga harus melepas sahamnya di salah satu tambang batubaru terbesar di Indonesia yakni Adaro bahkan baru-baru saja Sandiaga terpaksa melepas saham Saratoga ke pasar saham tapi sayangnya sepi peminat.

Dijualnya tol cipali, terhentinya kilang TWU, dan dilegonya saham Adaro serta yang terakhir dijualnya saham Saratoga, induk perusahaan-perusahaan Sandiaga Uno, adalah bukti terseok-seoknya Sandiaga Uno di dunia bisnis, oleh sebab itu dia harus segera banting setir menjadi politikus demi mengejar jabatan tertinggi di negri ini, dengan harapan jika terpilih menjadi wakil presiden maka dengan mudah mengambil alih kembali tol cipali dan menghidupkan kembali kilang TWU-nya dengan cara mengambil crude bagian pemerintah semurah mungkin walaupun merugikan negara.

Add comment

Security code
Refresh