Opini
Lukisan wabah Cyprian 251 M  di jaman Romawi. (Ist)

Penghentian Ibadah gereja karena wabah Corona menimbulkan pro kontra dikalangan umat dan pimpinan gereja. Perdebatan belum menyentuh pada tugas umat Kristen dan gereja dalam menghadapi wabah Corona yang sedang merebak. Amos Ursia, seorang pengamat sosial muda dari Bandung menyorotinya buat pembaca Bergelora.com. (Redaksi)

Oleh: Amos Ursia

HARI ini saya mendapat pemberitahuan tentang pelaksanaan ibadah mingguan di gereja lokal. Dalam menanggapi penyebaran COVID - 19, gereja lokal saya mengalihkan ibadah dari gereja ke rumah jemaat. Hal ini terjadi karena himbauan pemerintah kota dan provinsi setempat. Di beberapa daerah, terutama DKI Jakarta dan Jawa Barat, kegiatan ibadah mingguan tidak bisa dilaksanakan di gereja. Sebenarnya beberapa gereja sudah melakukan ibadah melalui media online sekitar dua minggu lalu.

Terjadi beberapa diskusi dan perdebatan karena hal tersebut. Ada yang sepakat bahwa ibadah dalam gedung gereja harus dialihkan, tetapi ada juga yang kurang setuju. Ada yang memilih alternatif ibadah online, tetapi ada juga yang memilih ibadah keluarga secara berkelompok. Ada diskusi ringan dan ada juga diskusi teologis tentang hakikat ibadah yang mengacu kepada ayat Alkitab. Diskusi panjang dan perdebatan pun sudah berlangsung selama beberapa minggu terakhir.

Tetapi ada beberapa keresahan yang mengusik saya, karena tampaknya perdebatan dan diskusi panjang yang terjadi hanya seputar isu internal gereja saja. Perdebatan hanya soal pelaksanaan ibadah mingguan, persekutuan, dan penundaan rutinitas gereja. Pada akhirnya masalah besar secara global tentang wabah dan penyakit tidak juga selesai dengan perdebatan ini.

Seakan-akan gaung perdebatan tentang ibadah online atau offline lebih besar dibanding peran nyata gereja di tengah orang yang kesakitan dan tidak memiliki akses kepada masker atau hand sanitizer. Dalam kondisi ini bagaimana posisi dan peran gereja ketika menyikapi wabah? Apakah semua perdebatan itu hanya soal penundaan rutinitas gereja saja?

Sejarah gereja dan kekristenan sudah berlangsung selama 2000 tahun. Sehingga banyak hal telah dilalui, mulai dari penyiksaan sampai perpecahan, mulai dari wabah sampai perang. Hubungan wabah dan kekristenan bisa kita lihat berbagai periode sejarah, mulai dari era Reformasi sampai Kristen mula-mula.

Ada sebuah wabah yang benar-benar menarik diamati, tepatnya dalam era kekristenan mula mula, yaitu wabah Cyprian. Banyak ahli berpendapat wabah ini terjadi semenjak tahun 251 Masehi, wabah ini menjadi salah satu wabah paling mematikan dalam sejarah kekaisaran Roma. Wabah ini tersebar hampir ke seluruh daerah kekaisaran, mulai dari Afrika, Timur Tengah, sampai Eropa.

Ribuan mayat tergeletak di jalan jalan kota, dengan kulit berbintik hitam seperti cacar. Orang yang tertular wabah ini akan mengalami beberapa gejala, seperti tenggorokan yang perih, muntah, diare, lalu pada akhirnya akan kehilangan kemampuan mendengar dan melihat. Demam yang hebat adalah penanda bahwa penyakit ini sudah parah, akhirnya, orang yang terkena penyakit itu akan meninggal. Masalahnya penularan dari wabah ini terjadi melalui kontak fisik, bahkan melalui pakaian sehari hari. Dalam kota Roma saja setiap harinya ada sekitar 5000 kematian, belum lagi jika dijumlahkan dengan daerah-daerah lain.

Para sejarawan, seperti William McNeil dan Zinsser, belum bisa memastikan jumlah korban pasti wabah ini, karena terbatasnya sumber sejarah. Tetapi ada sebuah catatan sejarah yang penting dalam wabah ini, yaitu risalah yang berjudul “De Mortalitate”. Penulisnya bernama Cyprian, ia adalah seorang uskup dari Kartago, Afrika Utara. Dalam risalah itu Cyprian menulis gejala dan proses persebaran penyakit tersebut. Catatan tersebut sebenarnya berisi penghiburan dan penguatan, terutama melalui kutipan dari perkataan Paulus. Penghiburan itu ditulis karena banyak orang Kristen yang terkena penyakit tersebut dan meninggal.

Seruan seruan Cyprian dalam De Mortalitate sangat penting, karena menurut beberapa sejarawan, terjadi pertambahan umat Kristen secara besar besaran karena pelayanan dan seruannya. Cyprian menganggap wabah mematikan itu sebagai pengujian iman Kristen yang sesungguhnya. Berkali-kali ia menegaskan untuk berani, memiliki pandangan menuju Kristus, dan bergembira karena penderitaan dalam Kristus.

Cyprian juga menulis agar jemaat tidak mempermasalahkan siapa yang terkena wabah, karena waktu itu jemaat Kristen berharap orang-orang Pagan yang seharusnya terkena wabah dan meninggal. Cyprian meluruskan pandangan itu, bahkan ia menyerukan para jemaat untuk menolong orang orang Pagan yang kesakitan, menolong mereka yang bahkan seringkali mempersekusi jemaat mula mula.

Seruan-seruan itu pada akhirnya berdampak pada aksi nyata umat Kristen mula-mula dalam menyikapi wabah. Mereka bekerja sama untuk merawat dan membantu mereka yang kesakitan. Baik itu orang Kristen maupun orang-orang yang beragama Pagan. Aksi nyata ini berdampak secara sangat mendalam kepada kehidupan sosial di kekaisaran Romawi khususnya di Kartago. Pada pertengahan abad ketiga, ratusan orang beragama Pagan percaya dan menjadi orang Kristen.

Tetapi wabah bukanlah masalah utama bagi umat Kristen mula-mula. Abad ketiga adalah masa kekuasaan kaisar Decian, Gallus, dan Valerian, ketiganya tercatat sebagai kaisar yang memperkusi orang orang Kristen. Dalam catatan John Foxe, ribuan orang Kristen dipersekusi dan ditindas pada abad ketiga. Catatan De Mortalitate juga menurut beberapa sejarawan adalah seruan untuk menjadi martir dalam kondisi politik di Kekaisaran Romawi masa itu. Ketika masa Kaisar Valerian, ribuan umat Kristen di wilayah pelayanan Cyprian mengalami siksaan luar biasa.

Dalam catatan John Foxe, 300 orang Kristen di Utica, dekat Kartago, dibakar hidup-hidup. Mereka ditempatkan di pinggiran lubang besar yang berisi bara api, lalu dituntut untuk memilih antara memberikan persembahan kepada dewa Jupiter atau dilemparkan ke dalam lubang. Mereka bersama-sama memilih untuk melompat ke dalam lubang berapi hingga terbakar dan meninggal secara mengerikan.

Cyprian sendiri diadili oleh gubernur yang bernama Aspasius Paternus pada tahun 257. Ia lalu dihukum mati di Kartago pada tahun 258. Pada tahun 266, wabah tersebut berakhir. Umat Kristen mula mula di abad ketiga telah melalui penderitaan wabah dan penyiksaan luar biasa. Meskipun dihajar wabah dan disiksa, mereka tetap ada untuk yang membutuhkan. Meskipun menderita dan kekurangan, tetapi mereka tetap memberi.

Tantangan yang dihadapi oleh Cyprian dan jemaat mula-mula berbeda sekali dengan apa yang kita hadapi hari ini. Di Indonesia kita tidak dibakar atau dicambuk. Kita juga tidak dalam kondisi darurat, yaitu ketika rumah sakit terlalu penuh sehingga mengharuskan gereja membuka ruangan kebaktian untuk menampung pasien yang terkena wabah.

Tetapi ada sebuah api kecil yang serupa dengan semangat 1700 tahun lalu, yaitu menjadi terang dan garam. Kita adalah jemaat yang sama dengan jemaat abad ketiga, yang diajarkan untuk tetap memberi meskipun hidup berkekurangan.

Dalam kondisi seperti ini, hal kecil sangatlah berguna, apalagi untuk mereka yang tidak memiliki akses. Jika jemaat di Kartago merawat mereka yang kesakitan, apakah yang dapat kita lakukan? Dapatkah kita menjadi Cyprian Cyprian kecil dalam kepanikan wabah hari ini?

Add comment

Security code
Refresh