Opini
Ilustrasi kehidupan bersama Corona. (Ist)

Penanganan wabah Corona mengantarkan peradaban baru pasca pandemi.  Christianto Wibisono, Ketua Pendiri PDBI (Pusat Data Bisnis Indonesia) menyorotinya untuk pembaca Bergelora.com. (Redaksi)

Oleh: Christianto Wibisono

PAGI ini seperti biasa kolom Dahlan Iskan selalu menggelitik, tentang ambisi Vietnam mempertahankan status negara bebas korban mati Covid. Dan minta bantuan Jepang untuk men-transplant paru ke pasien No.91, seorang pilot Prancis yang bekerja di Vietnam.

Tapi hari ini, kolom DI’sway sekaligus memuat polemik dengan pengamat bursa Yanuar Rizky. Salah satu point adalah bagaimana mengatasi penumpang gelap dalam operasi Penanggulangan krisis ekonomi pasca Covid. Perlu win-win solution mestinya seperti The Fed Bank Sentral AS yang dengan QE-nya mempengaruhi supply uang global. Suka tidak suka termasuk RRT juga  mengalami dampak QE The Fed, cetak uang ala bank sentral AS. Tapi satu point lagi yang diungkap Yanuar adalah win-win dengan HNWI, High Nett Worth Individual (orang kaya raya di puncak piramida ekonomi dunia). Entah itu WN Indonesia atau WN asing, tidak peduli pokoknya kaya untuk ikut beli Obligasi SUN Indonesia.

Dunia memang harus bertransformasi dari pola hidup pra-Covid, masuk dalam era berdamai dengan Covid dalam Normal Baru Pax Covidica. Para teoritis geopolitik dan world system seperti Immanuel Wallersetein sampai Francis Fukuyama, Samuel Huntington dan Kissinger, semua berbicara tentang sistem dunia dengan hegemoni pusat dan periferi pinggiran. Sampai abad XV bisa muncul imperium nasional atau subregional kawasan sub benua di Timur Tengah paralel dengan Tiongkok di Timur. Pelbagai “bangsa” bergiliran mendominasi dari Accadia, Assyria, Babylonia, Carthago, Egypt (Mesir), Sheba (Ethiopia dengan bumbu romantis Nabi/Raja Sulaiman dengan Ratu Sheba), Persia, Mogul (India) Junani, Romawi. Indonesia sudah mengorbit mendirikan Borobudur dan punya imperium sub regional Nusantara, Sriwijaya dan Majapahit.

Setelah abad XV, bisa lahir imperium Spanyol Pax Hispanica yang mengandalkan penjarahan harta karun Amerindia di Amerika Selatan. Inilah penguasaan harta karun yang parasit hanya mengeduk hasil tanpa produksi dan menghasilkan inflasi dan kemerosotan Pax Hispanica.

Lahirlah imperium kedua terkaya sedunia Pax Neerlandica, Belanda menjajah Nusantara. 200 tahun pertama Belanda memakai modal VOC, korporasi BUMN go public pertama di dunia 1602, yang akan bangkrut 1799. VOC bangkrut bukan karena perang raja-raja Nusantara, tapi karena korupsi mewariskan utang. Belanda menjadi kaya raya karena monopoli perdagangan komoditi Nusantara. Tapi dagang cara monopoli hanya sekelas lebih tinggi dari “penjarah model Spanyol”. Lalu muncul revolusi industri yang mengubah secara kualitatif daya kreasi manusia, yang dipelopori Inggris melejit menjadi Pax Britannica.

Mengalami tantangan imperium Prancis dan Jerman, Inggris melemah dan AS mulai tampil sejak Perang Dunia I menegakkan Pax Americana. Sementara di Timur yang sempat mempunyai imperium Mongol Genghis Khan, sejak 1917 dipimpin Uni Soviet dengan ideologi komunisme, anti pasar bebas dan anti borjuasi kaya. Pax Communista Uni Soviet lahir 1917 diikuti oleh negara satelit Eropa Timur dan Tiongkok tahun 1949. Setelah 30 tahun Pax Mao-ista bangkrut karena tidak bisa mendeliver sembako, dan Deng Xiaoping memutuskankembali ke pasar dengan alasan pasar lebih tua dari Marxist.

Sementara itu Pax Americana mengalami apa yang disebut oleh Paul Kennedy overstretch dalam buku The Rise and Fall of the Great Powers. Terjadi dilusi kekuatan AS karena overburden dengan biaya jadi “polisi dunia” Pax Americana. Dalam balapan ekonomi dunia, AS ketinggalan karena yang mengejar lebih lincah, lebih gesit, lebih rajin, lebih disiplin.

Jerman, Jepang dan kemudian Tiongkok melejit menuju Pax Germanica di Eropa dan Pax Japonica di Asia Timur. Di Timur Tengah ISIS berambisi menegakkan Pax Islamica dengan pelbagai mode khalifah Suni Wahabi Arab Saudi vs Shiah Iran, yang bermimpi kembali ke zaman Darius Cyrus Xerxes, ketika Persia sempat mengancam Romawi bila mereka sampai di Maraton. Seandainya Persia yang menang di Maraton atas Romwai, maka sejarah dunia mungkin berbeda.

Sekarang ini Pax Americana dan Pax Sinica sedang “berduel“ untuk memperebutkan hegemoni. Tapi AS sudah babak belur dan mengeluh menagih uang satpam, budget pemeliharaan pasukan militer AS di Korea dan Jepang harus ditanggung oleh Korea dan Jepang 27 miliar dolar AS dan  8 miliar dolar AS.

Hikmah dari munculnya kekuatan bukan negara (nonstate actor) Angkatan Covid menegakkan Pax Covidica inilah yang harus direspon oleh elite dunia termasuk elite dinasti Menteng Indonesia. Bahwa seluruh anggaran pertahanan militer seyogyanya ditumpahkan jadi angggaran kesehatan untuk survive dan memelihara eksistensi Homo Sapiens dari serbuan Angkatan Covid .

Yang menyedihkan adalah bahwa di tengah medan perang antara Homo Sapiens lawan Covid, justru manusia masih  melanjutkan gaya hidup self destruksi lama. Sekarang ini serangan Angkatan Perang Covid ini perlu dihadapi dengan perdamaian seluruh umat manusia.

Jangan lagi ada saling bunuh, saling perang saudara, pakai dalih SARA, agama dan hawa nafsu destruktif lainnya. Jangan lagi ada perang karena yang miskin ingin menjarah yang jaya. Stop perang dan generalisasi orang kaya pasti jahat curang dan penumpang gelap. Orang miskin semua malaikat welas asih. Kaya atau miskin sekarang ini akan digebuk oleh bala tentara Covid kalau nekad bikin aksi massa .

Pax Covidica normal baru ini adalah masa depan umat manusia. Kecuali kalau memang manusia sendiri tidak bisa bersih dari persaingan curang dengki Homo Sapiens pra-Covid. Dana orang kaya di sistem moneter global memang bisa digerakkan dan dipulihkan. Mumpung sekarang elite seharusnya bisa menggulirkan ide win-win solution, semua berkontribusi untuk hidup dalam era Pax Covidica.

Ada dana di Singapura 1,4 triliun dolar AS ACU. Itu sangat cukup untuk mengungkit ekonomi Indonesia tanpa polemik penumpang gelap berbasis sara pra-Covid. Elite Indonesia silahkan pilih; Anda tetap primitif SARA anti HNWI atau mau berdamai dalam era Pax Covidica. Tidak ada lagi kerumunan SARA termasuk pemilu juga secara virtual online. Tidak ada lagi pengerahan massa untuk demo atau untuk dalih aksi sara. Pax Covidica akan mengamankan dunia dan manusia, kecuali kalau manusia itu sudah turun derajat jadi virus, yang tidak bisa memikir kecuali hantam kromo terhadap sesama genus.

Add comment

Security code
Refresh