Opini
Fachru Rizal, teknisi khusus pesawat Boeing 737-Series. (Ist)

Kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ 182 membawa duka mendalam seluruh masyarakat Indonesia. Masyarakat ingin mengetahui penyebab kecelakaan di perairan Kepulauan Seribu itu. Sambil menunggu hasil lengkap dari pemeriksaan KNKT Bergelora.com mewawancarai Fachru Rizal, teknisi khusus pesawat Boeing 737-Series. Walaupun sedang dikarantina karena Covid-19, dirinya ingin memberikan penjelasan umum pada pembaca. (Redaksi)

Benarkah pesawat meledak ?

Benar! Meledak di air itu sudah pasti. Dikarenakan engine dalam compressor yang diolah di combustion chamber terdapat udara panas bertekanan tinggi. Tiba-tiba masuk ke dalam air,-- sudah pasti meledak

Tidak mungkin pesawat  meledak  di udara. Semua pesawat mempunyai engine instrument . Pasti sebelum meledak di udara engine instrument akan memberikan indikasi pada engine tersebut. Seperti mobil aja, ada lampu indikator kalau ada masalah.

Apa benar Lost Power disebabkan korosi?

Pastinya nanti dari black box yang akan menjawab semua. Itu kewenangan KNKT. Yang pasti pesawat kan lama gak terbang karena pandemi. Sebelum terbang, pada semua pesawat dilakukan functional test (ground run). Setelah dinyatakan baik oleh tehnisi yang punya standar rating untuk Boeing 737 500 yang ditunjuk perusahaan penerbangan,--dia harus tanda tangan hasil functional test. Mereka mengecek melalui ground run, setelah engine dinyatakan baik seorang engineer berlisensi akan menanda tangani Return to service/serviceable  yang dilaporkan ke QA (Quality Assurance) perusahaan

Mengapa terjadi ledakan?

Jadi pesawat Sriwijaya itu meledak saat kena air. Turbin kompresor menghasilkan. Udara panas yang bertekanan diolah pada combustion chamber dan akan dikeluarkan pada exhaust. Tiba-tiba udara panas di dalam ruangan  tersebut terkena air. Ya pasti meledak dan impact pada body pesawat yang bertekanan  Bayangkan saja paku panas terkena air dalam gayung akan mengeluarkan asap udara. Saat udara panas  dalam turbin diolah kompresor melalui combution chamber, tiba-tiba masuk dalam air. Maka meledaklah. Jadi gak mungkin meledak di udara.

Mengapa badan pesawat juga hancur berkeping?

Ketika pesawat mau terbang, pintu ditutup, cabin pressurized sudah mulai bekerja. Sehingga kita di dalam pesawat pernapas seperti kita bernapas di darat. Padahal tekanan dalam kabin sangat tinggi. Kalau pintu terbuka saat di udara, kita akan tersedot keluar.

Jadi setelah dipicu ledakan pada engine,--badan pesawat yang bertekanan tinggi ikut meledak menghancurkan tubuh pesawat seisinya menjadi berkeping-keping.

Dalam beberapa kejadian pesawat mengurangi power dan mengambang? Mengapa Sriwijaya tidak ngambang tapi menukik?

Sejak take off pesawat dalam posisi full power. Dealam posisi mencari lift, pesawat  belum dinyatakan aman karena blum mencapai ketinggian yang diperlukan (cruising speed) Masih kecepatan penuh di ketinggian 10.700 feet dan akan terus climbing ke posisi 29.000 feet. Tiba-tiba pesawat nge-drop dari posisi 10.700 feet ke 250 feet dalam waktu 1 menit.

Soal sinyal dari black box bagimana?

Black Box tidak mungkin mengeluarkan sinyal karena tidak ada frequency pada alat tersebut. Hanya saja ada alat yang menyertai yaitu battery beacon pada black box. Kalau jatuh di darat maka sinyal yang keluar dari ELT (Emergency Locater Transmiter) kalau baterai normal akan mengeluarkan sinyal frequency pada kantor pusat Basarnas dan kepada pesawat yang lewat.

Jika pesawat jatuh di air, Emergency Locator Beacon (ELBA) akan mengeluarkan sinyal. Kadang orang lalai sudah tiga tahun baterainya tidak diganti ganti. Kayak remote pintu mobil, pas parkir mau buka pintu, udah gak nyala. Padahal waktu tutup pintu bisa. Mungkin pas tutup itu power terakhir masih bisa. Tapi pas buka pintu gak bisa. Ternyata baterai sudah weak, karena kita lalai. Kalau pada pesawat,  penerbangan, nanti akan ditelusuri semua oleh KNKT. Jadi black box sangat penting untuk mengetahui kejadian di dalam cokpit 1 jam pembicaraan atau situasi  terakhir maupun peristiwa penerbangan itu sendiri.

Ada yang mengatakan pengawasan regulator gak jalan, apa kesulitannya?

Pengawasan regulator dalam kurun waktu terakhir ini sudah sangat ketat. Para operator penerbangan sekarang sudah banyak yang mematuhi peraturan keselamatan penerbangan setelah banyak kejadian kecelakaan pesawat terbang. Sebagai contoh dulu ada perusahaan penerbangan yang tidak perlu saya sebut meskipun sudah ditutup. Manajemen perusahaan banyak tidak mematuhi peraturan-peraturan yang sudah di standarisasi oleh FAA, dinas kelaikan maupun pabrik pembuat pesawat. Oleh karena banyak tidak mematuhi akhirnya banyak terjadi kecelakaan. Pada tubuh internal perusahaan pada akhirnya dengan tegas menutup perusahaan tersebut.

Jadi untuk memperketat pengawasan bagaimana?

Untuk memperketat pengawasan, semua hal penerbangan sebenarnya sudah ada standard maintenance dari pabrik pembuat pesawat, tinggal laksanakan saja. Pengawasan oleh Dirjen DKU PPU gampang dan selamat kalau mau disiplin.

Jadi apa kiat penumpang memilih pesawat biar selamat?

Kalau kiat penumpang memilih pesawat biar selamat ya naik pesawat apa saja. Yang penting perusahaan penerbangan yang ditumpangi mempunyai maintenance (perawatan pesawat) yang sudah mengikuti standard pabrik,--apapun pesawat maupun perusahaannya. Kecelakaan pesawat itu sudah takdir tidak di darat maupun di udara. (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh