Opini

Kemal A. Surianegara (Ist)‏Kemal A. Surianegara (Ist)‏JAKARTA- Ternyata disamping Sepuluh Perintah Allah lewat Nabi Musa yang dikenal dengan The Ten Commandement, orang Jawa sudah mengenal 10 ajaran yang dikenal dengan 10 Perintah Jawa. Nabi Musa dipercaya menerima perintah dari Tuhan ketika membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir 4.000 tahun lalu. The Ten Commandement menjadi dasar hukum Taurat yang ditulis oleh Musa dan menjadi Pentateveh atauPentateukh (Lima Kitab Taurat), kitab suci bangsa orang agama Ibrani (Yahudi). Lima kitab Taurat itu disebut sebagai perjanjian lama dalam Alkitab agama Kristen.

 

Sepuluh Perintah Jawa diungkapkan oleh budayawan, Kemal A. Surianegara kepada Bergelora.com seusai diskusi yang digelar oleh Poppy Dharsono Foundation (PDF) di Jakarta, Rabu, (13/5) lalu. Alumni Perancis ini  memaparkan dan menjelaskan 10 perintah Jawa itu sebagai berikut:

1. Mulat Sliro (Melihat ke dalam diri)

Lebih dekat dari urat leher. Mengenal diri guna mengenal Tuhan dalam diri dengan cara membaca kitab atau cetak biru pribadi. Tujuannya untuk menemukan jati diri dan menciptakan makna hidup dengan berkarya nyata. 'Jiwa yang beraga' menanti kematian sebagai pembebasan dari penjara raga. Berani meyakini, menghadapi, menjalani dan mensyukuri hidu. Bebas dari takut mati. Hidup adalah pilihan
To be or not to be, that is the question. Be happy, don't worry. The real battle is the battle of the mind. The fear of death is the mother of all fears. You are your own best friend and your own worst enemy.

2. Meneng, Hening, Hanung, Menang

Meneng berarti diam, kontemplasi, meditasi. Hening berarti mengheningkan cipta, pikiran dikosongkan jadi putih, bersih dan jernih. Hanung berarti mencapai titik terang cahaya. Menang berarti menaklukkan nafsu jahat ego agar Sang Sukma menjadi Panglima.

3. Tepo Sliro (Tenggang rasa)

Hidup se-pengertian walaupun tidak se-pengakuan. Saling peduli, saling menolong, saling asah, saling asih dan saling asuh.

4. Sabar

Dalam menghadapi segala cobaan, godaan, ujian hidup, terutama menahan marah.  Tangga di atas sadar guna meningkat jadi insan bertaqwa.

5. Nrimo

Menerima apapun apa adanya tanpa menolak, menilai, atau mengeluh, karena setiap insan bertanggung-jawab penuh atas semua perbuatan dan apapun baik atau buruk yang terjadi pada dirinya.

6. Eling

Selalu ingat Tuhan, kesadaran tinggi. Menjadi ciri khas makhluk cahaya yang terhubung dengan energi alam semesta. Senantiasa selalu hadir saat ini disini.

7. Waspodo

Tidak lengah atau gegabah, hati-hati dan teliti. Tidak meremehkan hal kecil yang bisa berakibat besar. Karena ‘the devil is always in the details’. Siap siaga, sigap bertindak secara tepat setiap saat, pada tempat dan waktu yang tepat pula.

8. Prasojo

Pola hidup sederhana dalam bersikap, berpikir, berucap dan bertindak. Kesederhanaan membuka jalan menuju kesempurnaan hidup insan seutuhnya.

9. Andhap Asor

Duduk sama rendah. Berdiri sama tinggi. Sama rasa sama rata. Hidup rukun damai dengan semangat berkarya nyata kerjasama gotong-royong.

10. Toto Kromo

Menjaga dan memelihara tata cara, sopan santun. Aturan harus diterapkan dan penerapannya harus teratur. Tiada tujuan yang menghalalkan cara, sesuai batasan etika, logika dan estetika, bagi insan bebas, berbudaya dan beradab. Everything is in the manner. It's the manner that counts (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh