Opini

Spektrum warna gender dalam simbol LGBTIQ (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Intersex, dan Queer) (Ist)Spektrum warna gender dalam simbol LGBTIQ (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Intersex, dan Queer) (Ist)Oleh : Dr. Ryu Hasan, Sp.BS**

"Pada mulanya manusia adalah non-gender..."

Kalimat di atas tidak diambil dari kitab suci manapun, tapi merupakan pernyataan resmi dari pengetahuan ilmiah teranyar yang justru tidak suci --ya memang tidak suci, karena pengetahuan ilmiah boleh dikoreksi, digonta-ganti kapan saja jika ada fakta baru yang lebih benar.

Tugas termulia seorang saintis adalah mengoreksi hal-hal yang seolah-olah benar.

Gender atau jender atau apalah --saya tidak ingin berpolemik tentang bahasa Indonesia yang benar-- adalah perasaan identitas diri, ini beda dengan jenis kelamin, ada kalanya jenis kelamin seseorang laki-laki tapi gendernya perempuan, tapi ada kalanya juga seseorang berjenis kelamin perempuan tapi bergender maskulin.

 

Dan yang disebut jenis kelamin maupun gender bukanlah hal yang bisa dikelompokkan secara dikotomis seperti hitam dan putih, tapi merupakan spektum seperti abu-abu yang berada di atara dua kutub ekstrim hitam dan ekstrim putih.

Biasanya, untuk membedakan jenis kelamin seseorang, secara sederhana, kita bisa tentukan dengan melihat alat kelaminnya. Tapi sebenarnya tidak sesederhana itu. Ada individu yang kalau kita lihat sepintas dari alat kelaminnya nampaknya dia laki-laki. Misalnya kita lihat jelas-jelas dia punya penis, ternyata dia juga punya uterus (rahim).

Jika kita memaksa memisahkan laki-laki dan perempuan secara dikotomis, kita akan kebingungan menentukan jenis kelamin orang seperti ini. Yang namanya gender lebih rumit lagi, karena sering tersembunyi, kita tidak bisa menentukan gender seseorang dari penampakan fisiknya. Ia baru mulai nampak jika individu tersebut melakukan aktivitas.

Lha terus kalau begitu dimanakah letaknya penentu gender kita ini? Jawaban dari pengetahuan ilmiah teranyar untuk pertanyaan ini jelas, otaklah yang menjadi sumber identitas gender seseorang. Fakta pengetahuan ilmiahnya adalah bahwa kita tumbuh dan berkembang dengan struktur otak yang penampakan fisiknya seolah-olah sama, namun secara alamiah otak laki-laki dan perempuan memang bekerja secara berbeda. Ketika kita bicara tentang otak laki-laki dan otak perempuan, yang kita bicarakan adalah gender dan bukan jenis kelamin.

Dulu, para dokter bahkan saintis terbiasa beranggapan bahwa secara budaya gender terbentuk pada manusia saja, dan tidak pada binatang non-manusia. Itu dulu, sekarang beda lagi.

Saat saya sekolah kedokteran pada tahun 1980-an, dunia sains sudah mengetahui bahwa otak hewan jantan dan betina mulai berkembang dengan cara berbeda sejak masa janin di dalam rahim. Hal ini menunjukkan bahwa dorongan kawin, melahirkan dan membesarkan anak sudah terprogram dalam otak hewan --tak terkecuali manusia-- sejak awal pertumbuhan organ ini.

Tapi ajaibnya, saat saya sekolah dulu --bisa jadi sampai sekarang juga-- nuansa yang diajarkan tetap saja bahwa bagi manusia, perbedaan utama gender adalah karena cara orang tua membesarkan anaknya! Barangkali hal ini dikarenakan masih ada perasaan tidak nyaman mengakui bahwa manusia adalah anggota keluarga besar Kingdom of Animalia.

Sebenarnya sudah cukup lama saintis tahu bahwa hal itu tidaklah sepenuhnya benar, perkembangan otak manusia ternyata sama dengan hewan yang lain dalam urusan gender ini.

Hingga memasuki usia 8 minggu, semua otak janin manusia adalah non-gender dan unisex. Ini bukan upaya sakralisasi manusia. Dengan mengatakan manusia pada mulanya non-gender atau unisex bukan berarti pada mulanya manusia tidak doyan urusan sex. Memang demikian adanya bahwa gender dan jenis kelamin janin manusia sejak usia 0 sampai 8 minggu seragam.

Tapi kalau kita tetap memaksa menentukan gender dan jenis kelamin janin pada usia tersebut sebagai laki-laki atau perempuan, jawabannya sangat jelas bahwa jenis kelamin dan gender adalah perempuan. Dari sudut pandang ilmu Biologi modern, default (dasar) jenis kelamin semua mamalia memang perempuan, dan manusia adalah masuk dalam keluarga besar mamalia.

Perkembangan otak perempuan dan laki-laki ditata mengikuti rancangan yang didesain oleh gen-gen dan hormon-hormon seks sejak awal pertumbuhannya sebagai organ pertama yang terbentuk semasa pertumbuhan janin.

Semua otak manusia yang pada dasarnya adalah berjenis perempuan --kalau tidak boleh dibilang non-gender-- dan bisa berubah jadi laki-laki akibat hadirnya gen-gen yang ada dalam kromosom "pengganggu" yang biasa kita sebut dengan kromosom Y, gen-gen ini yang mengktifkan hormon-hormon seks laki-laki.

Di sinilah gender kita yang pada mulanya seragam harus menemui persimpangan jalan, otak kita dipaksa menerima serangkain keadaan sehingga mau tidak mau tiap individu mendapatkan "takdir biologis"nya masing-masing --tanpa diberi hak memilih-- harus melewati persimpangan dan melalui satu dari jalur-jalur yang ada setelahnya. Bukan hanya 2 atau 3 atau 10 jalur yang ada di selepas persimpangan, tapi ada ribuan bahkan jutaan. Bukan hanya dikotomi, tapi spektrum.


Namun karena kita terbiasa melihat dunia secara hitam putih, agar lebih mudah, mari kita sederhanakan keadaan yang kompleks ini secara dikotomis (ini untuk lebih mempermudah saja lho ya).

Suatu gelombang testosteron yang dimulai pada minggu ke-8 usia janin manusia akan mengubah otak kita yang mulanya perempuan itu menjadi otak laki-laki. Mekanismenya adalah bahwa banjir testosteron mematikan sel-sel tertentu di pusat komunikasi dan menumbuhkan lebih banyak sel di pusat seks dan agresi!

Hal ini memberi keuntungan evolusioner. Di dunia purba yang liar, laki-laki yang doyan kawin akan memperbesar kemungkinan spesiesnya survive. Otak laki-laki juga lebihmentoloan (tegaan) dan agresif. Salah satu kelebihan yang dimiliki laki-laki adalah ia pandai dalam hal berburu.

Bayangkan saja kalau buruan sudah didepan mata terus si pemburu merasa kasihan dan iba lantas pulang ke kelompoknya sambil berujar: "Nggak tega saya lihat rusa yang imut tadi...", bisa-bisa semua anggota kelompok harus puasa berhari-hari lantaran tidak ada hasil buruan yang didapat.

Jadi, jangan heran kalau gender perempuan lebih mahir berkomunikasi dan laki-laki lebih agresif karena sejak awalnya gen-gen kita memang berkehendak demikian.

Kemudian, bagaimana persimpangan jalan gender pada janin ini bisa mempengaruhi cara kita bertingkah dan bersikap? Salah satunya disebabkan terjadinya perbedaan pertumbuhan sirkuit pusat komunikasi di otak kita, di mana sirkuit ini pada satu individu lebih besar dari yang lain.

Jika gelombang testosteron tidak terjadi, otak perempuan akan terus tumbuh tanpa gangguan sebagai otak janin perempuan. Bahkan pada janin perempuan, otak perempuan menumbuhkan lebih banyak lagi sambungan di sirkuit-sirkuit komunikasi serta area-area yg memroses emosi.

Bayi perempuan pada umumnya lebih pandai berbicara ketimbang saudara laki-lakinya, hal inipun dikarenakan struktur sirkuit otak verbalnya memang berbeda. Secara statistik, laki-laki menggunakan sekitar 7.000 kata perhari, jauh di bawah perempuan yang rata-rata menggunakan 20.000 kata perhari. Statistik ini menunjukkan kemampuan verbal otak laki-laki dan perempuan yang berbeda.

Konsekwensi lainnya, persimpangan gender ini menetapkan takdir biologis bawaan kita dan mewarnai cara pandang manusia menghadapi kehidupan dunia ini. Misalnya, dalam hal "saling pandang," otak perempuan mengartikannya sebagai ajakan persahabatan, sebaliknya otak laki-laki menganggap hal ini sebagai tantangan perang.

Pada dasarnya, hal pertama yg diperintahkan otak perempuan kepada seorang bayi baru lahir adalah mempelajari wajah-wajah yang dilihatnya. Hanya anak berotak perempuan yang sudah terprogram sejak lahir saja yang mahir berbalas pandang, sedangkan pada anak berotak laki-laki tidak demikian.

Selama pertumbuhan janin, otak perempuan tidak mengalami banjir testosteron yang menciutkan sirkuit-sirkuit komunikasi, pengamatan dan emosinya. Sehingga saat lahir, bayi perempuan lebih mahir mengenali wajah. Bahkan hingga 3 bulan pertama kehidupannya, ketrampilan bayi dengan otak perempuan dalam hal urusan kontak mata dan saling kenal wajah meningkat lebih dari 400%.

Sebaliknya, ketrampilan bayi laki-laki menatap wajah selama rentang waktu 3 bulan pertama tidak meningkat sama sekali. Kebanyakan orang berfikir bahwa anak laki-laki tumbuh sebagai laki-laki karena diasuh dan dibesarkan secara laki-lak atau sebaliknya, padahal ini perkara jenis otak saja.

Bayi perempuan mampu menerjemahkan emosi ibunya dengan lebih mudah karena otak anak perempuan tidak mengalami rendaman testosteron saat masih sebagai janin. Perangkat otak yang superior dalam berkomunikasi dan mengartikan nada emosi berperan sejak dini dalam perilaku bayi berotak perempuan.

Tapi rendaman testosteron pada otak janin laki-laki benar-benar mengubah sirkuit otak yang asalnya semua berjenis perempuan menjadi otak laki-laki yang serba canggung dalam memahami emosi.

Sebenarnya, rendaman tertosteron di otak janin laki-laki juga memberikan keuntungan evolusioner menghasilkan perilaku penjelajah, kontrol otot, dan permainan kasar pada bayi laki-laki. Yang nantinya diperlukan untuk perannya sebagai pemburu dan pelindung kelompok dari bahaya dan predator. Ini masalah pembagian tugas sosiobiologis.

Perbedaan otak pada bayi laki-laki dan perempuan makin melebar saat memasuki usia 12 bulan kehidupan mereka, ini yg disebut masa pubertas pertama atau disebut pubertas infantil. Pada masa pubertas infantil, otak bayi perempuan usia setahun mengalami rendaman estrogen dan otak bayi laki-laki usia setahun mengalami rendaman testosteron untuk yang kedua kalinya!

Pubertas infantil berlangsung selama 9 bulan pada bayi laki-laki dan 24 bulan pada bayi perempuan. Ini akan sangat memperlebar perbedaan cara kerja otak mereka.

Rendaman estrogen mendorong pertumbuhan dan perkembangan neuron yang berujung meluasnya sirkuit-sirkuit observasi, komunikasi dan pengasuhan pada otak perempuan. Hormon estrogen menyiapkan sirkuit-sirkuit otak bawaan lahir pada perempuan sehingga gadis kecil ini akan lebih mampu menguasai ketrampilan mengolah nuansa sosial dan kesuburan reproduksinya. Ini sebabnya kenapa gadis kecil bisa begitu mahir secara emosional, meskipun mereka masih memakai pempers.

Di persimpangan yang lain, rendaman testosteron yang kedua kalinya pada otak laki-laki akan merangsang otot anak laki-laki untuk tumbuh lebih besar, ini untuk mendukung sifat agresifnya. Dan pada masa pubertas infantil berakhir, perilaku anak laki-laki dan perempuan menjadi makin jauh berbeda, hal ini semata-mata karena kondisi kimiawi dalam otak mereka masing-masing.

Setelah periode pubertas infantil berakhir, fase banjir estrogen pada otak perempuan dan banjir testosteron yang kedua kalinya pada otak laki-laki pun mereda, perempuan dan laki-laki masuk jeda masa kanak-kanak hingga nanti usia 8-12 tahun saat mereka memasuki masa pubertas kedua, masa aktualisasi identitas gender. Saya tidak akan melanjutkan pembahasan pubertas kedua disini, karena daripada menimbulkan kebosanan, lha wong saya sendiri saja sudah mulai bosan.

Dan setelah berakhirnya periode pubertas infantil, makin menguatlah identitas gender masing-masing individu. Sekali lagi, ini tadi kita melakukan simplifikasi dengan dikotomi, karena rentang spektrum gender sangat luas seluas abu-abu yang ada diantara hitam yang ekstrim dan putih yang ekstrim, karena "gangguan" yang ditimbulkan gen-gen yang ada dalam kromosom-Y tidaklah seragam, ada yang sedikit ada yang banyak ada pula yang ekstrim.

Jadi, jangan heran, kalau gender manusia sangat beragam.

*Tulisan ini dibagikan oleh Poppy Dharsono pada Group WA Komite Kedaulatan Rakyat (KKR) Bunga Rampai. Sebelumnya tulisan ini dimuat di http://www.qureta.com/post/di-persimpangan-jalan-gender

**Penulis adalah seorang dokter ahli bedah syaraf

Add comment

Security code
Refresh