Opini

Ilustrasi penggunaan bahan bakar untuk listrik (Ist)Ilustrasi penggunaan bahan bakar untuk listrik (Ist)Oleh: Dzaki Gunawan

Pada tahun 2013 Dr. Carlo Rubbia, pemenang nobel fisika pada tahun 1984 berbicara pada Thorium Energy Conference 2013. Beliau mengatakan bahwa energi yang dihasilkan Thorium setara dengan ribuan kali energi yang dihasilkan bahan bakar fosil. Tentu hal ini bukanlah mimpi belaka karena 1 ton Thorium dapat menghasil listrik sebesar 1.000 MW. Energi yang sama dihasilkan oleh 200 ton Uranium dan 3,5 juta ton batubara.

Bahkan limbah Thorium yang dihasilkan 90% lebih sedikit dari batubara dan uranium. Tanpa ada sisa partikel pembakaran seperti batubara di udara. Waktu penyimpanan limbah hanya membutuhkan waktu 200 tahun,-- tidak seperti uranium membutuhkan 10.000 tahun. Penemuan Thorium mungkin adalah sebuah revolusi energi semenjak manusia menemukan api.

Mengenal Thorium

Thorium adalah salah satu dari unsur logam tanah jarang (LTJ), ditemukan pada tahun 1815 oleh salah satu ahli kimia modern Jöns Jakob Berzelius. Thorium ditemukan di dalam mineral monasit yang pembentukan alamnya bersamaan dengan timah. Sudah banyak kita ketahui bahwa Indonesia adalah penghasil timah nomor 1 di dunia karena Indonesia (khususnya Bangka Belitung) termasuk dalam jalur pembentukan timah (tin belt).

Menurut Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) cadangan Thorium di Bangka Belitung berkisar ±121.000 ton, cadangan tersebut belum termasuk cadangan Thorium singkapan monasit di Parmonangan, Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Daerah perkiraan lainnya ditemukan unsur LTJ seperti di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Sulawesi Barat.

Energi Thorium

Pada dasarnya penggunaan Thorium sebagai energi sudah digunakan sejak tahun 1920 sebagai energi dasar pembuatan lampu pada lampu Petromax. Setelah 40 tahun kemudian pada tempo tahun 1960-an, Oak Ridge National Laboratory mengembangkan PLTN (Pusat Listrik Tenaga Nuklir) baru atas pemikiran Dr Weinberg yang mengusulkan Thorium sebagai bahan bakar nuklir baru karena tidak menghasilkan limbah Plutonium. Pada tahun 1965 Oak Ridge National Laboratory membuat Molten Salt Reaktor dengan Thorium sebagai bahan bakarnya. PLTN tersebut beroperasi sampai tahun 1969 kemudian ditutup tanpa ada masalah. PLTN tersebut ditutup karena tidak menghasilkan Plutonium. Tidak seperti PLTN berbahan bakar Uranium yang menghasilkan Plutonium untuk bahan bakar senjata nuklir.

Pada tahun 2001 para ahli nuklir dari Kanada, Perancis, Jepang, Afrika Selatan, Korea Selatan dan Amerika Serikat membentuk sebuah forum bernama Generation IV International Forum. Mereka sepakat bahwa Molten Salt Reactor (MSR) menggunakan Thorium adalah merupakan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) generasi selanjutnya menggantikan Light Water Reaktor (LWR) yang menggunakan Uranium. Hal inilah yang menjadi momentum penggalakan Thorium sebagai sumber energi baru.

Keunggulan MSR berbahan bakar Thorium adalah hanya menggunakan sedikit Uranium, karena Uranium hanya dipakai untuk pemicu reaksi serta MSR yang bekerja pada suhu 800 oC membuat efisiensi konversi energi panas menjadi listrik lebih efisien. Produk sampingan dari MSR sendiri adalah dapat memproduksi air bersih, karena reaksi MSR yang bekerja pada suhu 800 oC dapat membuat air tawar dari air laut (pengaplikasian yang sama seperti memasak air) hal ini disebut nuclear desalination.

Tantangan Bagi Indonesia

Sudah seharusnya pemerintah sadar akan pembuatan MSR ini karena efisiensi energi yang dihasilkannya, sebagai gambaran adalah kebutuhan listrik kota Jakarta menurut Direktur Operasi Jawa-Bali PT PLN (persero), Ngurah Adnyana adalah 4.250 MW. Kebutuhan listrik tersebut dapat ditopang dengan 4 buah MSR dengan hanya menggunakan 4 ton Thorium dan bebas dari pencemaran lingkungan.

Cadangan Thorium di Bangka Belitung yang berjumlah ± 121.000 ton dapat membantu kebutuhan energi Indonesia setidaknya dalam kurun waktu 2.000 tahun. Karena 60 PLTN MSR menghasilkan 1.000 MW pertahun menggunakan 1 ton Thorium. Sehingga sebagai gambaran sekali lagi 2 PLTN MSR bisa menghidupkan 1 provinsi Sumatera Utara yang kebutuhan listriknya "hanya" 1.700 MW pada tahun 2015 kemarin. Fakta diatas dapat mengurangi hutang PLN untuk memenuhi permintaan energi.

Pandangan masyarakat dalam pembangunan PLTN turut serta membangun opini publik dalam pembangunan PLTN, alasan utama masyarakat menolak pembangunan PLTN adalah takutnya kecelakaan kerja yang mengakibatkan radiasi, terutama setelah kecelakaan PLTN Chernobyl pada tahun 1986. Padahal, radiasi yang dihasilkan batubara dalam PLTU batubara menghasilkan radiasi lebih banyak daripada PLTN. Sebagai perbandingan pada PLTU batubara berdaya 1.000 MW pekerja menerima dosis radiasi 490 person-rem/tahun sedangkan pekerja di PLTN berdaya sama hanya menerima 4,8 person-rem/tahun. Radiasi tersebut dihasilkan oleh sisa pembakaran batubara yang menghasilkan flyash yang mengandung radon dan uranium yang berterbangan dalam radius 1,6 kilometer sekitar PLTU.

Jika teknologi kita belum memungkinkan untuk membuat sebuah PLTN MSR bertenaga Thorium, kita dapat menjual Thorium yang masih ditemukan dalam bentuk monasit. Harga monasit yang menjadi bijih Thorium saat ini berkisar $680 per 50 gram (bisa dilihat pada tabel), jika kita kalkulasikan dalam rupiah (dalam kurs mata uang sekarang) kita akan mendapatkan Rp 8.925.000/50 gram. Bandingkan dengan para pekerja tambang timah yang menjual "limbah" hasil pertambangan timah ini di Bangka Belitung dengan harga Rp2.000- Rp10.000 ke pihak asing,-- tentu akan mendapatkan keuntungan berkali lipat. Atau jika kita biarkan "limbah" ini menjadi tidak terpakai, padahal "limbah" merupakan sesuatu yang berharga.

Sekarang pilihan ada ditangan kita, ingin menjadi penjual yang dapat menambah kas negara atau membangun PLTN MSR yang dapat menopang krisis energi indonesia selama 2.000 tahun kedepan?

*Mahasiswa aktif Teknik Pertambangan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, anggota Himpunan Mahasiswa Pertambangan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Add comment

Security code
Refresh