Opini

Pantai di Teluk Tomini, Sulawesi Tengah tempat Belanda mengangkat rempath rempah dijaman kolonial (Ist)Pantai di Teluk Tomini, Sulawesi Tengah tempat Belanda mengangkat rempath rempah dijaman kolonial (Ist)Oleh : Mirza

Tujuh Puluh Satu (71) tahun lalu Indonesia diproklamirkan sebagai sebuah negara merdeka. Kemerdekaan itu bukan tanpa usaha, kerja keras dan perjuangan yang menumpahkan begitu banyak darah rakyat dari berbagai wilayah Nusantara, nama untuk Indonesia di masa itu.

Kabupaten Parigi Moutong merupakan satu daerah dari berbagai daerah di Indonesia yang mengumandangkan perang terhadap bangsa-bangsa kolonialis yang datang menjajah. Daerah yang terbanyak penduduknya di wilayah Sulawesi Tengah ini juga punya cerita perlawan terhadap kolonial Belanda.

Kedatangan kolonialisme Belanda di Nusantara yang di tandai mendaratnya Cornelis de Houtman pada tahun 1596 di Banten merupakan cikal bakal penjajahan yang di lakukan oleh Belanda di bumi Nusantara (Indonesia di kala itu). Kedatangan Belanda ini dengan dua tujuan utama yakni monopoli perdagangan dan bahkan ingin menguasai wilayah. Hal ini tersirat dari dua bentuk kontrak yang harus disetujui oleh raja-raja yang berkuasa. Perjanjian tersebut adalah  Pertama, surat perjanjian panjang (long kontrak) dan kemudian untuk menjamin kelangsungan kerajaan  beserta keluarga. Kedua, kerajaan harus tunduk pada kekuasaan raja mahkota Belanda dengan syarat raja harus lebih dulu menandatangani perjanjian pendek (korte verklaring). Konsekuensi yang diterima oleh kerajaan yang tidak patuh terhadap Belanda adalah akan diisolasi dan diperangi sampai tunduk dan patuh terhadapnya.

Beberapa tahun kemudian Belanda mulai masuk ke seluruh pelosok nusantara sampai pada daerah Kerajaan Moutong pada abad ke 18.

Sosok Tombolotutu

Tombolotutu merupakan keturunan dari raja Massu yang merupakan raja Moutong ke ketiga yang kemudian meneruskan tahta ayahnya sebagai raja moutong ke 4 dalam usia yang sangat muda yakni pada usia 20 tahun. Dalam perjalanan kepemimpinannya sosok raja Tombolotutu sangat dekat dengan rakyatnya. Hal ini dilatar belakangi oleh budaya turun temurun yang di wariskan oleh ayahnya, raja Moutong ke 3  yakni senantiasa berkunjung dan melihat langsung rakyat yang dipimpinnya. Karena budaya serta kebiasaan turun-temurun itu sehingga Tombolotutu dikenal sangat humanis dan dekat dengan rakyat yang dipimpinnya.

Pada tahun 1898-1904 raja Tombolotutu harus menghadapi keinginan kolonialis Belanda untuk memonopoli perdagangan di teluk Tomini. Berawal dari kedatangan Belanda di pelabuhan Moutong yang hadir dengan cita cita memonopoli perdagangan serta hasrat menguasai wilayah kerajaan Moutong. Tentu saja ini sangat di tentang oleh raja Tombolotutu yang dapat di lihat dari sikap penolakannya  terhadap dua perjanjian yang di tawarkan belanda (long kontrak dan korte verklaring).

Sikapnya ini memicu kemarahan Belanda sehingga Belanda mengambil langkah mengisolasi daerah kerajaan Moutong dengan cara menenggelamkan kapal-kapal yang berlabuh di pelabuhan Moutong. Penenggelaman kapal ini membuat seluruh hasil produksi perkebunan rakyat tidak terjual kecuali harus menjual kepihak Belanda dengan harga yang di tentukan oleh pihak belanda.

Hal ini membuat raja dan rakyatnya marah besar dan akumulasi kebencian ini menjadi alasan Tombolotuto memimpin rakyat untuk melawan kolonial Belanda.

Melawan Belanda

Perang pertama Tombolotutu berawal di istana raja di daerah Lobu pada bulan Oktober 1898 dalam waktu 11 hari. Karena minimnya persenjataan maka raja Tombolotutu harus menyingkir dan memulai perang gerilyanya.

Setelah kalah perang raja Tombolotutu menghimpun kekuatannya di sebuah pulau yang bernama Walea Bahe. Karena mata-mata yang berada dimana-mana maka setiap gerak Tombolotutu diketahui dan segera disusul oleh Belanda dan pada akhirnaya terjadi perang di wilayah itu selama 6 hari. Tombolotutu pun harus meninggakan pulau Walea Bahe bersama pasukan dan penduduk yang tersisa.

Perjuangan kemudian berlanjut di daerah Bolano. Pada Agustus 1900 Belanda menyerang dan pasukan Tombolotutu beberapa kali berhasil mengusir pasukan Belanda. Namun dengan perhitungan yang matang Belanda menyerang pada Desember 1901 sehingga membuat Tombolotutu harus diungsikan  dan pergi ke kekerajaan Sojol. Saat dalam pengungsian istri dari Tombolotutu melahirkan sorang anak yang diberi nama Kuti Tombolotutu.

Perlawanan yang gigih dari Tombolotutu merupakan sebuah fakta bahwa kehadiran kolonial Belanda di wilayah jazirah timur leher Sulawesi tak diterima oleh rakyat wilayah kerajaan Moutong yang dipimpin oleh Tombolotutu.

*Penulis adalah Mantan Presiden Mahasiswa Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STIMIK) Bina Mulia Palu, Sulawesi Tengah, berasal dari Desa Tomini.

Add comment

Security code
Refresh