Opini

Sebuah aksi HTI yang mengkampanyekan Syariah dan Khilafah meilibatkan anak-anak remaja (Ist)Sebuah aksi HTI yang mengkampanyekan Syariah dan Khilafah meilibatkan anak-anak remaja (Ist)Oleh : Hendra Budiman

Wacana Khilafah dan Syariat Islam kembali menyeruak pada sekelompok orang saat ini. Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) adalah salah satu organisasi yang mengusung cita-cita yang bertujuan menggantikan fondasi Republik Indonesia yang diproklamasikan 17 Agustus 1945 yang berazaskan Pancasila dan konstitusi UUD’45. Apakah Mungkin? Bergelora.com menurunkan tulisan 3 seri tulisan yang ditulis Hendra Budiman, seorang aktifis yang dikenal anti Orde Baru membedah gerakan Hizbut Tahrir. (Redaksi)

Kalau sekarang saya agak intens menulis tentang Hizbut Tahrir (HT) karena saya merasa, para pemimpin dan jama’ah HTI sudah besar kepala. Merasa diatas angin setelah berhasil “menipu” umat Islam dalam perkara Ahok. Keangkuhan ini makin menjadi, saat pemerintah tidak berbuat untuk mengerem laju gerakan aliran sesat ini. Saya bilang sesat dalam bidang siyasah (politik pemerintahan) bukan aqidah atau muamalah. Karena kajian utama HT memang soal siyasah sebagaimana kritik An Nabhani pada Hasan Albana. Siyasah utama adalah didirikannya khilafah Islamiyah. Semua masalah di muka bumi ini, dijawab tunggal: khilafah. Seperti balsem yang bisa mengobati segala penyakit.

Kalau ditanya khilafah seperti apa? Jawabnya ngambang. Pake pokoknya. Sebagai orang yang waras, kita bisa menjawabnya dengan Hadist riwayat Ahmad no 4029 dan Hadist riwayat Tumudzi no. 2152 (tidak saya kutip – nanti dikira sok ngarab). Yang pada intinya khilafah menurut Rasul berhenti dimasa kepemimpinan Hasan bin Ali RA. Cucu Rasul. Pas waktunya 30 tahun sebagaimana ramalan Rasul dalam dua haditshnya. Secara ringkas dua haditsh itu menyatakan khilafah menurut Rasul berlangsung hanya pada masa Khulafaurrasyidin. Selebihnya Rasul mengatakan “ setelah itu para raja penguasanya..”. Dan benar.

Lihat saja penunjukan khalifah selanjutnya sejak Mu’awiyyah bin Abi Sufyan. Turun temurun seperti dinasti, seperti raja. Sebagaimana Mu’awiyyah menunjuk anaknya Yazid. Hingga terakhir sultan Abdul Majid dari Kekasisaran Otoman atau Bani Utsmaniyyah. Kalu begitu caranya, tentu sudah diberi contoh pada Khulafaurrasyidin. Sahabat Abu Bakar menunjuk anaknya Muhammad bin Abu Bakar tidak pada Umar bin Khattaf. Atau Umar menyerahkannya khalifah pada anaknya Abdurrahman bukan pada Utsman dan seterusnya. Kalaupun pada ujungnya sahabat Ali menyerahkan pada anaknya: Hasan memang ada nash nya sebagai ahlul bait.

Jadi kalau bicara khilafah dan siapa khalifah (jika mau turun temurun) ya ahlul bait. Keluarga dan turunan langsung Rasulullah. Itulah mengapa kalangan syiah memengang model khilafah ini. Mereka menyebutnya imammah. Sudah ada, dan letaknya di Iran. Tapi, mengapa HT tidak mengakui ini sebagai khilafah. Dijawab, “oh, kami mengatasi syiah dan ahli sunnah, menyatukan keduanya”. Bagus itu, mulia tujuannya. Tapi prakteknya: lihat sikap politik HT pada konflik di Suriah saat ini. Lagi-lagi kita ditipu.

Lalu bicara tentang romantisme kejayaan emperium Islam hingga jatuhnya Turki Utsmani tahun 1924. Apakah tokoh, pimpinan muslim dunia tidak mengimpikan kejayaan itu dan sedih atas jatuhnya kajayaan Ottoman? Sedih juga dan berharap dapat bangkit. Respon cepatnya dilakukan hingga tahun 1926. Pertemuan para pemimpin muslim sedunia di Kairo dan Mekah dilakukan. Judulnya jelas “ Muktamar Khilafah Sedunia”. Indonesia mengirim utusannya atas nama CCC (Central Comite Chilafah) : Abdul Karim Amrullah, KH. Mas Mansur, HOS Cokroaminoto, Abdullah Ahmad dan Kiai Wahab Hasbullah. Jauh sebelum HTI beredar di Indonesia tahun 80an, para ulama Indonesia sudah bicara soal khilafah ini sejak tahun 1926. Jadi kalau HTI baru “ngompor” sekarang: itu isu basi. Kalau mau lucu-lucuan, Sultan Yogya itu khalifah. Baca gelarnya “ … Sayidin Panatagama Kalifatullah”. Kenapa HTI tidak mengakuinya?

Dalam konteks Internasional, pertanyaan kritisnya mengapa HT baru lahir tahun 1953 di Palestina. Salah satunya mengangkat isu runtuhnya Turki Utsmani tahun 1924, yang sudah dibahas para pemimpin muslim dunia 27 tahun sebelumnya.

Pendirian HT di Palestina oleh orang Mesir pada tahun 1953, harus dilihat konteksnya. Saya tidak akan menguraikannya pada bagian ini (karena terbatasnya ruang). Tapi ada beberapa hal yang mesti dicermati: (1) Program nasionalisasi Gamal Abdul Naser khususnya pada terusan Suez; (2) Koalisi kekaisaran Otoman dengan Kekaisaran Jerman sebelum perang dunia pertama; (3) Keterlibatan agen Freya Stark (Inggris) pada Ikhwanul Muslimin; (4) Kudeta Mossadegh di Iran 1953 dan keterlibatan M16 dan IRD; dan (5) kantor pusat IM, HT dan Ahmadiyyah di London. Yang pada akhirnya bisa bertanya begini, “apa pentingnya Inggris mendorong model pemberontakan Hizbut Tahrir?”.

Boneka Inggris

Dalam mensikapi keberadaan Hizbut Tahrir, pemerintah Malaysia lebih baik dibanding pemerintah Indonesia. Dewan Fatwa Malaysia haramkan ajaran Hizbut Tahrir pada 9 Februari 2009. Ajaran HT tidak sesuai dengan umat Islam di negeri tersebut. Bahkan Ust. Abu Syafiq mengatakan HT merupakan ajaran sesat. HT menggunakan topeng Khilafah palsu dan mengkafirkan umat Isma dan pemimpin Islam. Ust. Abu Syafiq bilang, “Berhati2 dengan Hizbu Tahrir..akidah mereka mirip muktazilah wahhabiyah”.

Bila yang melarang dan mengharamkan pemerintahan seperti Indonesia, mungkin masih cukup masuk akal. Karena dianggap sebagai negara sekuler. Tapi Malaysia? Yang jelas-jelas mendeklarasikan diri sebagai negara Islam, mengharamkan HT yang tujuannya mendirikan Khilaffah berupa Daulah (Negara) Islam. Kho aneh. Pada hal ini, kita ditampakan bahwa konsep negara Islam oleh pemerintah Malaysia (sudah dijalankan) dengan konsep negara Islam oleh HT (yang masih angan-angan) berbeda. Atau kalau HT mau memperjuangkan Khilaffah dengan tahapan Daulah Islamiyyah, kenapa tidak meneruskan saja perjuangan Kartosuwiryo. Jelas lebih konkrit dan berbasis sejarah. Tapi kan tidak.

Pertanyaan kritisnya, mengapa ada perbedaan “konsep” negara Islam antar kelompok dalam Islam. Jawaban praktisnya: konsep negara Islam tidak terdapat di dalam nash yang jelas dari Al-Quran dan Al-Sunnah. Konsep negara Islam hanya dibicarakan oleh ulama-ulama kemudian. Jadi soal ini termasuk dalam perkara ijtihadiyyah atau hasil pendapat ulama. Namanya pendapat pasti banyak perbedaannya. Meski satu golongan seperti HT mengklaim paling Islami dan konsep mereka yang paling benar. Salah satu perbedaan yang paling mendasar dari ajaran HT adalah cara golongan ini menafsirkan dan menerapkan Haditsh. Yang oleh Ustd Abu Safiq dituduh mirip muktazilah wahhabiyah.

Penjelasannya tentang ajaran HT akan panjang. Singkatnya gini: mereka tidak mengakui hadits ahad meskipun hadits itu shohih. Misalnya, hadits tentang pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur. Hadits ahad yang shohih itu disebut mutawir ma’nawy. Ajaran yang menolaknya jauh sebelumnya telah dipelopori oleh Ibrahim bin Ismail yang menolak hadits ahad sebagai sumber hukum Islam. Sampai Imam Syafi’I bilang “ dia orang yang sesat”.

Ajaran sesat ini diikuti oleh HT lewat fatwa-fatwa pendirinya Taqiyyuddin An-Nabhani. Taqiyuddin mengharamkan pengikutnya meyakini aqidah selain dari riwayat yang mutawir saja. Dan lebih mengandalkan pada akal (rasional). “jadi aqidah seorang muslim itu harus bersandar kepada akal atau pada sesuatu yang telah terbukti kebenaran dasarnya oleh akal “, katanya. Padahal faktanya hadis Nabi yang Mutawir itu hanya 324 saja. Sedangkan hadits yang shohih dalam bukhori muslim sekurangnya 13.000. Atau kalau ditotal, ada 86,66% hadits Nabi yang memuat aqidah (dalam Bukhori dan Muslim) adalah hadits Ahad. Dan menurut HT, haram hukumnya menjadikannya sebagai dasar hukum Islam.

Fikiran dan ajaran sesat HT ini, berujung pandangan “subyektif”nya tentang Negara Islam. Padahal dimuka bumi ini sekarang ada banyak model negara Islam. Maroko, Arab Saudi, Iran hingga Malaysia. Dari yang pemimpinnya bernama Raja, Amir, Imam, Presiden sampai Yang dipertuan. Bahkan dalam pendapat fuqoha, Indonesia dapat dianggap sebagai Negara Islam. Tentang ini akan saya tulis di lain kesempatan). Meskipun menggunakan madzhab Hanafi dan pendapat syaikh muhammad bin ibrahim, syaikh abdurrahman as sa'adi dan syaikh muhammad rasyid ridha. Tetapi HT yang sesat itu menolak semua. Dan menyatakan bahwa konsep khilfah dan daulah mereka yang sesat itulah yang benar. Menurutku apa yang dipejuangkan oleh HT bukan agenda politik Islam. Tapi upaya memecah belah ummat Islam yang dilakukan oleh agen dan boneka Inggris.

 

 

Add comment


Security code
Refresh