Opini
Anjungan minyak di Jangkrik Blok Muara Bakau, Kalimantan Timur (Ist)

Bergelora.com menurunkan tulisan perjalanan ke Blok Muara Bakau lewat Balikpapan, Kalimatan Timur yang dilakukan bersama Menteri ESDM, Ignasius Jonan. Sebuah perjalanan yang tidak pernah dilakukan orang lain dan penuh daya tarik (Redaksi)

BALIKPAPAN- Matahari kian menapaki puncak persinggahan. Teriknya sedikit menampar wajah lesu kami setelah dua jam berada di dalam pesawat. Ditambah 45 menit menuju pelabuhan Baru Ulu, Balikpapan. Walau begitu, langkah kaki begitu ringan memasuki kapal. Puasa dan bopongan tas rangsel tak memupuskan semangat kami. "Di cek dulu, Mas!" seruan salah satu petugas di pelabuhan sebelum memasuki kapal, Sabtu (12/6). Petugas memastikan segala keamanan dan keselamatan rombongan. Nampak beberapa orang asing juga turut serta.

Pukul 10.15 WITA, deru mesin makin menjauhkan kapal dari tepi pelabuhan. Air makin tak menunjukkan ketenangan. Kami hanya bisa menatap tayangan tv. Sesekali menengok dari bilik jendela akan laju hilir mudik kapal barang. Hanya itu yang bisa kami lihat. HP seolah jadi barang pajangan. Sinyalnya tak bersahabt. Makin jauh, ombak mengusik ketenangan penumpang yang terdiri dari Tim Kementerian ESDM beserta SKK Migas. Sebagian penumpang lain adalah para pekerja proyek.

Dengan jarak tempuh 4 (empat) jam, akhirnya kapal menepi di bagian Proyek Blok Muara Bakau, Selat Makassar, Kalimantan Timur. Tak mudah bagi kapal menurunkan kami. Butuh waktu kurang lebih 30 menit untuk benar-benar mendekat. Guncangan air begitu sulit dikendalikan oleh nahkoda dan para awak kapal. Air pasang dan hembusan gelombang kuat terasa kala kapal di pusaran cekungan Kutai hingga 600 meter. Atas kesigapan sang nahkoda, kami pun berlabuh dan menaiki kapal. "No signal," sambutan layar hp pada genggaman hp kami.

Kami sempat singgah di salah satu ruangan kontrol kapal. Saat menapakan kaki di kapal raksasa berukuran 200x46x40 meter, tentu muncul rasa kagum. Terpampang tulisan hitam besar "Jangkrik" dengan dasar kuning. Ini merupakan Floating Production Unit (FPU). Sebuah fasilitas migas berbentuk kapal terbesar yang dimiliki dan dirakit sendiri oleh Indonesia. FPU Jangkrik dilekatkan dengan kapal lain. Hawa panas di luar diguyur dengan pendingin ruangan.

Kami pun menuju bagian kapal yang dimaksud. Dengan menaiki anak tangga berketinggian sekitar 400 meter, kami menuju tempat lain yang dihubungkan dengan gateway. Menelusuri ruangan dengan jalur hijau yang telah dilukiskan di dasar Posh Arcadia, kapal akomodasi bagi para pekerja proyek. Kami menemui para pekerja. Pemakaian semacam coverall dan safety boot adalah keharusan. Tak perlu di elak lagi untuk Personal Protective Equipments (PPI).

Saat mencari ruangan resepsionis, kami merasa kebingungan. Banyak kelokan yang kami temui. Pun halnya saat diantar menuju tempat tidur. Seolah bentukan labirin. Muter-muter tak tahu arah. "Meski saya sudah tiga kali ke sini tapi tetap aja bingung," celetuk Edi, pegawai SKK Migas. Beruntung, kebersihan Arcadia dijaga. Jadi, begitu nyaman bila dijadikan petualang sekadar jalan-jalan. Apalagi sebagian besar rombongan adalah kali pertama datang ke mari. Tiba di ruang resepsionis, safety induction adalah sajian kami. Prosedur keselamatan jadi kepatuhan utama selama singgah di sini. Setelah itu, petugas memberi mendata dan memberikan kartu multiakses kepada kami sendiri-sendiri. Kenyamanan makin lengkap dengan keramahan yang ditunjukkan oleh petugas kepada kami.

Arcadia semakin menunjukkan kebesarannya kala kita menulusuri fasilitasnya. Arsitektur Arcadia tahu betul memanfaatkan ruangan. Kapal ini mampu menapung kurang lebih 700 orang dengan 400 kamar. Di sini di sediakan lift dengan tujuh deck. "Kalau di sini tiap lantai sebutannya huruf, bukan angka kayak di hotel," jelas Ronald yang juga sebagai resepsionis. Kamar tidur disulap sedemikian rupa. Ada tv kabel, AC, lemari baju, kamar mandi yang reprentatif dan minus wifi. Sayang, meski ada tivi kabel tapi hanya 4 channel. "Di kamar mati gaya karena gak ada sinyal (hp) dan wifi ," ungkap salah satu rombongan kami.

Fasilitas lain adalah lounge, dining room, hospital, gym, kantor hingga helideck. Di lounge ini lah para pekerja dan tamu melepas rindu. Kami menyebutnya ruangan sejuta wifi. Karena di sinilah satu-satunya tempat wifi selain office. Tak cukup itu, para pekerja biasanya memanfaatkan lounge sebagai bioskop bahkan tempat main PlayStation. Kelengkapan fasilitas seperti hotel inilah yang dikenal dengan sebutan Floating Hotel (Floatel).

Posh Arcadia bukanlah kapal permanen. Ia merupakan kapal apung yang dikendalikan dengan ballast. Tapi, jangan salah. Selama kami berada di sana, kami tak merasa ada goncangan. Sungguh stabil, terasa kayak hotel di darat. Padahal kapal ini berjarak sekitar 70 KM dari garis pantai Kalimantan Timur. Akhir Juni ini, Arcadia harus diganti setelah FPU Jangkrik resmi rilis produksi. ENI selaku operator Blok Muara Bakau hanya menyewa sebagai akomodasi sementara para pekerja proyek. "Akhir Januari ini akan diganti dengan kapal yang hanya menampung akomodasi 100 orang," cerita Riswanto selaku pegawai ENI kepada kami.

Langit makin gelap, cucuran air hujan membasahi Arcadia. Bunyi alarm disertai pengumuman. Kami dan para penghuni bergegas keluar. "This is fire and evacuation drill for external," suara pengumuman menggema sekapal. Ini adalah latihan rutin yang diberikan kepada penghuni Arcadia untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan. Semua penghuni wajib datang dan absen dengan cara menempelkan kartu multiakses kepada petugas.* (NA) (Bersambung)

Add comment

Security code
Refresh