Opini
Indonesia akan menggunakan Sukhoi SU-35 untuk menggantikan pesawat tempur buatan AS, F-5 Tiger, yang sudah digunakan sejak 1980-an. (Ist)

Hubungan Indonesia-Rusia kembali menguat dalam era Presiden Joko Widodo. Terakhir adalah barter 11 pesawat Sukhoi SU-35 dengan kopi, teh dan minyak kelapa sawit. Bergelora.com menurunkan tulisan Aju, wartawan senior Sinar Harapan di SHNet (Redaksi).

Oleh: Aju

BAGI masyarakat Indonesia berusia 70 tahun ke atas atau pemerhati sejarah perjuangan diplomasi politik luar negeri, ada hal mengharukan yang bisa menyulut emosi, meneteskan air mata, mengingat kejayaan masa lalu, mencermati keputusan rapat di Istana Merdeka, Jakarta, dipimpin Presiden Joko Widodo (Jokowi), Rabu, 26 Juli 2017.

Dalam rapat dihadiri Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, Jenderal (Purn) Wiranto, Menteri Pertahanan, Jenderal (Purn) Ryamizard Ryacudu, dan Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, diputuskan Kementerian Pertahanan membeli 11 unit pesawat tempur canggih Sukhoi SU-35 produksi United Aircraft Corporation, Federasi Rusia.

Keberadaan 11 unit jet tempur Sukhoi SU-35, untuk mengganti jet tempur F-5 produksi Amerika Serikat (AS) yang sudah berakhir masa pakainya.  Keberadaan 11 unit SU-35, generasi terbaru melengkapi 16 unit Sukhoi sebelumnya (5 unit SU-27 dan 11 unit SU-30), spesialis interseptor udara jarak jauh Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) sejak 2002.

Keberadaan 11 jet tempur Sukhoi SU-35 ditindaklanjuti dengan alih teknologi, dimana United Aircraft Corporation dan PT Dirgantara Indonesia (DI), membangun pabrik di Bandung, sehingga minimal perawatan dan pengadaan spare part jet tempur serupa dimiliki Vietnam dan Malaysia, menggunakan fasilitas di Indonesia.

Sukhoi SU35 memiliki sistem avionik canggih dan kecepatan supersonik 1,5 mach yakni dua kali kecepatan suara, melampaui pesawat tempur siluman generasi kelima F-22 Raptor, AS.

Sukhoi Su-35 memiliki sistem pencarian dan pelacakan inframerah termasuk sensor non elektromagnetik untuk pendeteksian jarak jauh. Peralatan jamming Sukhoi SU-35  mampu menurunkan kemampuan radar pesawat musuh. Termasuk radar untuk mendeteksi sinyal dari belakang guna menembakkan peluru kendali SARH.
Sukhoi Su-35 melesat hingga 2.390 kilometer per jam dan mampu menempuh jarak hingga 4.500 kilometer, sedangkan kecepatan maksimal F-22 mencapai 2.410 kilometer per jam dengan jarak tempuh 2.000 kilometer.

Selain Indonesia, Malaysia dan Vietnam, jet tempur sukhoi dimiliki Republik Rakyat China (RRC), Polandia, Slowakia, Hungaria, Jerman, Syria, Aljazair, Korea Utara,  Afganistan, Yaman, Mesir, Lybia, Iran, Angola, Ethiopia, Eritrea, dan Peru.

Program jangka panjang, Korea Aerospace Industries (KAI) dan kementerian pertahanan Indonesia, menginvestasikan 1,6 trilliun won atau Rp13 triliun tahun 2016 untuk produksi bersama alih teknologi jet pemburu siluman Korea Fighter Experimental (KF-X / IF-X) lisensi AS dan mengudara mulai tahun 2025.

Kapal selam

Di matra laut, Indonesia memesan 3 unit kapal selam Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME) Okpo, Geoje, Gyeongsang Selatan, Korea Selatan. Peluncuran hasil produksi pertama digelar di Korea Selatan, KRI Nagapasa 403, Senin, 24 Oktober 2016 dan produksi kedua, KRI Trisula 404, pada Senin, 20 Maret 2017.

KRI Nagapasa 403, menempuh pelayaran 17 hari dari Korea Selatan dan tiba di Surabaya, Provinsi Jawa Timur, Senin, 28 Agustus 2017. Proses ujicoba penuh kapal selam KRI Nagapasa 403 di Korea Selatan, membutuhkan waktu 10 bulan, untuk memastikan dalam keadaan sempurna sebelum dikirim ke Indonesia.

Senin, 20 Maret 2017, Menteri Koordinator Kemaritiman Jenderal (Purn) Luhut Binsar Panjaitan, meninjau galangan kapal PT PAL di Surabaya, dalam produksi kapal selam ketiga, KRI Nagarangsang 405, dimana 100% menggunakan tenaga ahli dalam negeri, sebagai wujud perjanjian transfer teknologi Korea Selatan dengan Indonesia.

Tiga kapal selam berbobot 1.400 ton dipesan Kementerian Pertahanan Indonesia tahun 2011 dengan nilai 1,1 miliar dolar AS. Harga US$1,1 miliar merupakan tertinggi dari volume ekspor peralatan pertahanan Korea Selatan sepanjang sejarah.

Atas kerjasama dengan diplomasi politik saling menguntungkan dengan Korea Selatan, maka Indonesia mulai produksi kapal selam ke-6 secara mandiri, hingga dicapai kebutuhan minimum esensial matra laut sebanyak 12 unit kapal selam.

Indonesia sudah punya 4 unit kapal selam. Dua unit, KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala 402, produksi Jerman tahun 1977 dan beroperasi sejak 1981, mengalami maintenance, overhaul and repar (MRO) rutin di DSME, Okpo, Geoje, Gyeongsang Selatan, Korea Selatan, sehingga memulihkan kekuatan tempur 100 persen.

Dua unit kapal selam produksi Korea Selatan sudah beroperasi dan 1 unit lagi, KRI Nagarangsang 405, tengah dirakit PT PAL. Kapal selam dengan panjang 61 meter dan kapasitas 40 orang, mampu beroperasi sejauh 18.000 kilometer selama 50 hari, dengan kecepatan 21 not di bawah air.

Khusus pembelian 11 unit jet tempur Sukhoi SU-35, dilakukan di tengah-tengah tekanan AS, agar Indonesia memilih Lockheed Martin (LM), yakni F-16 blok 70 (Viper).

Republik Indonesia, bagi Federasi Rusia, merupakan mitra sangat strategis. Paling tidak mengurangi beban implikasi perang dagang digelorakan AS, melalui pengesahan penandatanganan sanksi ekonomi tambahan bagi Moscow (Rusia), Teheran (Iran) dan Pyongyang (Korea Utara) ditandatangani Presiden Donald John Trump, Rabu, 2 Agutus 2017.

Indonesia memesan 11 jet tempur Sukhoi, bukan dengan uang kontan. Melainkan melalui imbal beli, dimana Memorandum of Understanding (MOU) sudah ditandatangani Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Federasi Rusia, Rostec, dan BUMN Indonesia, yakni PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI).

Imbal beli

Federasi Rusia, kemudian membuka peluang Indonesia membeli kapal selam diesel elektric Varshavyanka Class(Project 636) atau Improved Kilo Class, produksi Rosoboronexport, juga melalui imbal dagang, melalui transfer teknologi.

“Imbal dagang di bawah supervisi kedua pemerintah direalisasikan melalui pertukaran 11 Sukhoi SU-35 dengan sejumlah produk ekspor Indonesia mulai dari kopi dan teh hingga minyak kelapa sawit dan produk-produk industri strategis pertahanan,” kata Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Enggartiasto Lukita, Jumat, 4 Agustus 2017/

Rusia, atas sanksi AS, membalas dengan mengenakan sanksi pembatasan impor dari negara-negara tersebut. Akibat embargo dan kontra embargo ini, Rusia memerlukan sumber alternatif untuk memenuhi kebutuhan pangan, termasuk buah-buahan tropis, serta produk esensial lainnya.

“Ini peluang yang tidak boleh hilang dari genggaman kita. Potensi hubungan ekonomi yang memanfaatkan situasi embargo dan kontra embargo ini melampaui isu-isu perdagangan dan investasi yang biasa karena kita juga melihat peluang di bidang pariwisata, pertukaran pelajar, kerja sama energi, teknologi, kedirgantaraan, dan lainnya,” ujar Enggar.

Perdagangan bilateral antara Indonesia dan Rusia dapat dikatakan masih sangat rendah dibanding potensinya. Pada tahun 2012 total perdagangan kedua negara hanya mencatat 3,4 miliar dollar AS dengan defisit di pihak Indonesia sebesar 1,6 miliar dollar AS.

Nilai perdagangan dan defisit yang sama dicatat pada tahun 2013 sebelum perdagangan bilateral menurun menjadi 2,6 miliar dollar AS pada tahun 2014 dan 1,9 miliar dollar AS pada tahun 2015 yang dibarengi perbaikan dalam posisi neraca bagi Indonesia.

Pada tahun 2015 Indonesia mulai mencatat surplus perdagangan senilai 1,1 juta dollar AS dengan Rusia dan meningkat menjadi 411 juta dollar AS pada tahun 2016.

Perebutan Papua

Hubungan diplomasi Indonesia – Rusia, penuh nostalgia, haru, dan bahkan bisa meneteskan air mata, apabila ditelusuri kualitas dan kualifikasi persabatan negara beruang putih itu terhadap Presiden Republik Indonesia, Soekarno.

Kantor Berita The Union of Soviet Socialist Republic  atau USSR (Federasi Rusia sejak 25 Desember 1991), yakni Telegrafnoie Agenstvo Sovietskavo Soyusa (TASS) News Agency, dalam reportasenya tanggal 26 Januari 1950, memberitakan pengakuaan USSR terhadap kemerdekaan Republik Indonesia.

Saat Presiden Soekarno, memutuskan merebut Papua dari kekuasaan Belanda, 1961, tanpa pikir panjang USSR, mensuplai persenjataan canggih kepada Indonesia.

Dengan mendapat pinjaman lunak jangka panjang USSR senilai U$2,5 miliar tahun 1961, militer Indonesia diperkuat 41 helikopter MI-4 (angkutan ringan), 9 helikopter MI-16 (angkutan berat), 30 pesawat jet MIG-15, lalu 49 pesawat buru sergap MIG-17.

Ada lagi 10 pesawat buru sergap MIG-19, 20 pesawat pemburu supersonic MIG-21, lalu 12 kapal selam kelas Whiskey, puluhan korvet, dan 1 buah kapal penjelajah kelas Sverdlov (yang diberi nama sesuai dengan wilayah target operasi, yaitu KRI Irian).

Dari jenis pesawat pengebom, terdapat 22 pesawat pembom ringan Illyushin II-28, sebanyak 14 pesawat pembom jarak jauh TU-16, dan 12 pesawat TU-16 versi maritim yang dilengkapi dengan persenjataan peluru kendali anti kapal (rudal) air to surface jenis AS-1 Kennel.

USSR mensuplai 26 pesawat angkut ringan jenis IL-14 dan AQvia-14, 6 pesawat angkut berat jenis Antonov AN-12BB buatan Uni Soviet dan 10 pesawat angkut berat jenis E-130 Hercules buatan Amerika Serikat.

Bantuan lunak USSR senilai US$2,4 miliar, membuat militer Indonesia dinyatakan terkuat di sektor bumi selatan tahun 1961 dan cicilan utang baru bisa dilunasi tahun 1990.

Hubungan Indonesia – Rusia, renggang menjelang rencana Presiden Soekarno memutuskan menginvasi Negara Bagian Sabah dan Negara Bagian Sarawak yang dimerdekakan Inggris, bergabung dengan Federasi Malaysia, 1964.

Rusia menolak bantuan persenjataan tambahan bagi Indonesia, untuk mendukung pertempuran dengan Inggris di Malaysia. Perdana Menteri USSR, Nikita Khruschev melancarkan kritik terhadap Poros Jakarta - Peking kepada Jenderal Abdul Harris  Nasution.

Nikita Khruschev menolak mensuplai peralatan militer kedua kalinya kepada Indonesia untuk mendukung perang melawan imperialisme Inggris di Malaysia, karena utang sebelumnya US$2,5 miliar tidak jelas proses pencicilan pembayarannya.

Poros Jakarta - Peking

Tapi penolakan Nikita Khruschev pada dasarnya bentuk ketersinggungan terhadap Presiden Seokarno membentuk Poros Jakarta – Peking (Beijing) Republik Rakyat China (RRC), 1964.

Di hadapan Jenderal TNI Abdul Haris Nasution di Moscow, 1964, Menteri Pertahanan Indonesia, Menteri Nikita Khrushchev dengan sinis memprediksi kelak Poros Jakarta - Peking yang dibentuk Presiden Soekarno, akan mengalami nasib yang sama dengan nasib poros fascist Nazi yaitu Roma - Berlin sebelumnya.

Atas laporan Menteri Pertahanan Jenderal TNI Abdul Harris Nasution, maka Presiden Soekarno tersinggung dan semakin mengobarkan semangat revolusi Indonesia yang belum selesai, dalam menghadapi imperialisme Barat maupun Timur.

Di balik itu, USSR tidak ingin Indonesia dekat dengan China, karena dinilai negara beruang merah itu sebagai anak asuh durhaka. Karena sama-sama negara sosialis dengan Soviet, China menjalin hubungan lebih erat dengan AS.

Padahal China menjalin hubungan dengan AS, sebuah negara liberalis, sebagai bentuk protes terhadap kepongahan Soviet yang tidak pernah merealisasikan janji melakukan proses alih teknologi membangun reaktor nuklir. AS kemudian merebut peluang itu, sehingga China mengklaim, tahun 1964 berhasil membangun reaktor nuklir dan ujicoba senjata nuklir.

Pasca G30S 1965

Gerakan 30 September (G30S) 1965, bentuk keberhasilan kudeta merangkak Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) Letjen TNI Soeharto, memanfaatkan konflik internal Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD), dengan dukungan strategi dan logistik Central Inteligence Agency (CIA) AS, telah membuat Presiden Soekarno tersingkir dari dari jabatan Presiden.

Indonesia di bawah kepemimpinan Jenderal TNI Soeharto (1 Juli 1966 – 21 Mei 1998), mengalami pasang surut dalam hubungan diplomatik dengan Rusia. Hubungan terjalin normal, saat USSR dinyatakan bubar, 25 Desember 1991, sebagai dampak gagalnya program glasnot (keterbukaan) dan perestroika (restrukstrukturisasi ekonomi) Presiden Mikhail Sergeyevich Gorbachev.

USSR bubar dan kemudian berubah menjadi Federasi Rusia, menandai runtuhnya paham komunis dunia atas konsep leninisme, stalinisme dan maxisme, Indonesia kembali menjalin hubungan baik dengan Rusia.

Era demokratisasi ditandainya mundurnya Presiden Soeharto, 21 Juni 1998, Indonesia kembali lebih realistis di dalam menerapkan kebijakan politik luar negeri, yakni bebas dan aktif, ditandai terus meningkatkan hubungan dagang dengan Rusia. Di era Presiden Megawati Soekarnoputri, 2001 – 2004, Indonesia membeli 5 unit jet tempur Sukhoi SU-27.

Selama dua periode pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 2004 – 2014, ditambah 11 unit Sukhoi SU-30 dan hanya 2,5 tahun masa pemerintahan Presiden Jokowi, Indonesia memutuskan menambah 11 unit Sukhoi SU-35, pada Rabu, 26 Juli 2017.

Sosialis Kalahkan Liberalis

Indonesia berpaling ke Rusia di dalam pembelian jet tempur, dampak AS menerapkan sanksi embargo senjata, sebagai akibat demonstrasi berdarah di Dili, Timor Timur, 12 November 1991.

Lebih dari pada itu, ada perkembangan sukup signifikan dalam peta percaturan ekonomi dan politik dunia, dimana secara mengejutkan terjadi perubahan kekuatan dari negara liberalis dimotori AS, kepada negara sosialis dimotori Rusia dan China.

Bahkan tahun 2005, China sebagai negara sosialis, dinobatkan sebagai negara paling kaya di dunia, sehingga memupuskan anggapan konvensional, hanya negara berideologi liberalis yang bisa menciptakan kesejahteraan ekonomi yang berkeadilan sosial.

Jeff Willerstein, staf pengajar Penn State University, AS, mengatakan, kemajuan ekonomi China dalam 25 tahun terakhir semenjak tahun 2005, melampaui dua abad prestasi AS.

Negara sosialis China memiliki visi dan misi menjadi negara maju, dengan harus mengalahkan hegemoni AS. AS sendiri, sejak tahun 2008, mengalami keterpurukan ekonomi terus-menerus, di antaranya uang negara dihamburkan selama Perang Irak, 2003 – 2011.

Untuk melumpuhkan kepongahan AS, maka China berhasil mengintegrasikan ekonomi Euroasia melalui proyek raksasa Modern Silkroad atau dikenal dengan nama One Belt One Road Policy. Hasilnya, China mampu mengisolasi AS secara ekonomi dengan mengintegrasikan Eropa, Asia dan Afrika.

Ditambah lagi, kebijakan perdagangan bebas China dengan Jepang, Korea Selatan, Taiwan dan Philipina. Ini semua berhasil mengisolasi AS secara ekonomi dan politik. Akibatnya AS makin defensif dengan proteksionisme Presiden AS, Donald John Trump, yang justru membuat AS makin terpojok.

Atas dasar itu, Direktur Cental Inteligence Agency (CIA), Mike Pompeo, kepada Bill Gertz, editor seniorWashington Free Beacon, Kamis, 27 Juli 2017, memandang China ketimbang Federasi Rusia dan Iran sebagai ancaman terbesar dan jangka panjang bagi AS.

AS menilai Beijing memanfaatkan posisinya dalam daftar ancamanspymasterAS karena ekonomi dan populasi penduduknya lebih kuat ketimbang Federasi Rusia dan Iran.

Argumen CIA mengejutkan, karena selama ini Federasi Rusia selalu di peringkat atas sebagai negara yang jadi ancaman bagi Washington.

Argumentasi paradoksal, karena tahun 1964, China pernah jadi anak asuh AS. Berkat berguru kepada AS, membuat China mampu menmbangun reaktor nuklir dan senjata nuklir tahun 1964.

Lanjutkan Kebijakan Soekarno

Dinamisnya peta kekuatan ekonomi, politik dan pertahanan global, dimana beralih dari negara liberalis dimotori AS kepada negara sosialis dimotori Rusia dan China, memang sudah diramalkan Presiden Soekarno melalui pembentukan Poros  Jakarta – Peking tahun 1964.

Berangkat dari kenyataan ini, konsep alih teknologi dalam pembelian senjata matra udara dari Federasi Rusia, kapal selam dari Korea Selatan, mengacu kepada pengalaman China pernah berguru kepada AS tahun 1964, sebagai upaya menuju kemandirian Bangsa Indonesia di bidang industri pertahanan.

Indonesia kemudian realistis di dalam menghadapi perubahan peta kekuatan ekonomi global dari AS (liberalis) kepada China (sosialis). Tahun 2016, misalnya, investasi terbesar kedua China di seluruh dunia berada di Indonesia senilai US$22,280 miliar.

Urutan investasi terbesar pertama China di seluruh dunia berada di AS senilai US$110 miliar tahun 2016, urutan ketiga di Rusia dan keempat di India.  

Ini membuktikan Presiden Megawati Soekarnoputri (2001 – 2004), dilanjutkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (2004 – 2014) dan dimatangkan Presiden Jokowi, mampu melanjutkan kebijakan yang sudah dirintis Presiden Soekarno tahun 1964 di dalam menjabarkan kebijakan politik luar negeri bebas dan aktif. 

 

Comments   

0 #4 Faustino 2017-09-30 02:59
I have noticed that your blog needs some fresh content. Writing manually takes
a lot of time, but there is tool for this boring task, search for: Wrastain's tools for content

Here is my weblog :: DebbraX: https://Tayla2009.jimdo.com
Quote
0 #3 Maricruz 2017-09-27 00:42
I have noticed you don't monetize your site, don't waste your traffic, you can earn extra cash every month because you've got hi quality content.
If you want to know how to make extra $$$, search for: Mrdalekjd
methods for $$$

Feel free to surf to my site: FirstVictor: https://09Bernardo.blogspot.com
Quote
0 #2 Edwardo 2017-09-23 02:36
Hello there, You've done a fantastic job. I'll definitely digg it and personally suggest
to my friends. I am confident they will be benefited from this site.


Here is my web page: broderie: http://liteau-pour-bouteille-de29409.ampblogs.com/embroidery-Can-Be-Fun-For-Anyone-9604899
Quote
0 #1 Anh 2017-09-18 04:28
Wow! At last I got a webpage from where I can really
take helpful facts regarding my study and knowledge.


Review my weblog - restaurant en livraison: http://dominicklzmwh.free-blogz.com/377458/the-greatest-guide-to-delivery-food
Quote

Add comment


Security code
Refresh