Opini
Presiden Soeharto di majalah Internasional (Ist)

Gencar film fiksi G-30S/PKI diputar ulang dimasyarakat oleh sejumlah kalangan politik dengan tujuan politik. Bergelora.com memuat ulasan dari Ubaidillah Achmad, penulis Islam Geger Kendeng, Suluk Kiai Cebolek, Khadim Majlis Kongkow PP. Bait As Syuffah An Nahdliyah Rembang. (Redaksi)

Oleh: Ubaidillah Achmad

PERJUANGAN Kiai dan santri NU mengakhiri kekerasan PKI dan kehendak kuasa di balik kisah G 30 S PKI, telah menjadi bahan kaum intoleran untuk menghidupkan kembali hantu konflik politik. Hal ini bertujuan untuk menjatuhkan lawan politik. Beberapa Oknum dari umat Islam, juga memilih menjatuhkan lawan politik dengan membuat isu, bahwa kekuatan lawan politik merupakan bagian dari konspirasi kebangkitan PKI.

Sehubungan dengan tema di atas, penulis akan mengkaji  persoalan berikut: Apakah masih relevan mengangkat isu kebangkitan PKI? Bagaimana NU menghargai keragaman bangsa Indonesia? Diskursus tentang isu PKI, sudah tidak relevan lagi, karena gerakan Komunis sudah tidak berdaya bersamaan dengan kematian ideologi ini. Gerakan komunis ini sekarang telah menjadi teori kritik atas hegemoni politik kekuasaan. Karenanya, yang terlihat kesurupan terhadap hantu PKI rata rata mereka yang berlebihan menunjukkan kehendak kuasanya atau sedang bermain dengan kelompok kepentingan politik.

Teori kritik atas kekuasaan ini, sebenarnya tidak sebanding dengan model ketajaman akar gerakan kritik yang sudah berlangsung sejak tradisi kenabian. Dalam sejarah para Nabi, mereka semua di utus ke permukaan bumi ini, karena ada latar belakang relasi kuasa yang tidak seimbang. Dari latar belakang ini, semua Nabi berjuang dengan sangat gigih memenuhi perintah Allah, bertujuan untuk menegakkan relasi kuasa yang seimbang dan harmoni dengan lingkungan hidup.

Para Nabi pembebas diutus bukan untuk menolak sistem permodalan dan menolak kemiskinan, namun untuk mengingatkan kaum kapitalis agar tergugah hatinya untuk turut membantu membebaskan mereka yang lemah dan memerlukan bantuan. Sebaliknya, yang mengalami kemiskinan tetap bersabar dan berusaha sebaik baiknya. Gerakan risalah kenabian, adalah gerakan yang didasarkan pada upaya menjaga keutamaan hidup dan harmoni dengan lingkungan hidup yang lestari.

Fiksi Film G 30 S PKI

Jenderal Soeharto di Lubang Buaya, 1965 (Ist)

Betapa rumit dan sulit membahas peristiwa G 30 S/PKI, namun akan menjadi mudah justru setelah kita mengkaji dari film yang disutradarai dan ditulis oleh Arifin C. Noer, diproduseri oleh G. Dwipayana. Tentu saja, film ini banyak melibatkan daya imajinasi yang tinggi terhadap peristiwa G 30 S/PKI. Meskipun dalam realitas di lapangan sudah jelas terjadi konflik antara elit politik yang melibatkan elit para jenderal TNI, namun tanpa imajinasi yang tinggi dari sutradara, maka tidak akan menjadi film yang seru dan menegangkan para penonton.

Dalam film ini, sutradara juga mampu membangkitkan sikap amarah dan kebencian penonton terhadap PKI. Kebencian dan amarah, seperti yang dirasakan para penonton ini sudah menjadi instrumen propaganda yang efektif untuk membuat lawan politik jatuh "telak" dan terkesan sebagai penghianat negara. Meskipun demikian, instrumen ini tidak selamanya efektif. Sebaliknya, mereka yang mengimajinasikan adanya kebangkitan hantu PKI di dunia, justru terlihat masih ketakutan terhadap PKI.

Bisa jadi, mereka yang ketakutan ini tidak memiliki hubungan dengan para orang tua yang memang menjadi korban dari kekerasan PKI. Meskipun film ini sudah memenuhi standar karya sastra yang bersifat fiksi dewasa, namun ada yang fundamental yang diabaikan dalam film ini, yang sebenarnya juga tercatat dalam sejarah di balik sukses para pemenang dalam percaturan politik bangsa Indonesia, tahun 1965, yaitu perlawanan gigih para aktivis GP Ansor NU melawan PKI. Terlepas dari sejarah real NU berhasil menghadang kekerasan PKI yang tidak masuk dalam konflik film, setidaknya film ini sudah mampu menggambarkan keganasan PKI versus atas nama pembela rakyat, yaitu TNI AD.

Dengan sikap tegas GP Ansor NU di balik film G 30 S PKI, yang menerjunkan pasukan Banser untuk menangkal serangan PKI, telah menjadi angin segar bagi para elit politik yang terlihat di film sedang mengalami "kewalahan" menghadapi elit partai komunis Indonesia. Fenomena ini mampu ditangkap secara dramatis oleh sutradara dalam Film, yang sebenarnya masih banyak mengabaikan kisah perjuangan para Kiai dan santri melawan PKI. Dalam film G 30 S/PKI ini, secara politis ada yang diuntungkan dan dapat mengambil keuntungan politis. Setiap penonton film ini pun akan memahami secara subjektif memiliki pandangan yang berbeda beda.

Sehubungan dengan subjektivitas ini, penulis mencatat tiga hal yang secara universal dapat dipahami di balik kuasa film ini:

Pertama, Para Kiai dan masyarakat NU menjadi korban kehendak kuasa para elit politik. Dari peristiwa ini, GP Ansor NU harus mengamankan para Kiai dan warga NU yang menjadi sasaran G 30 S PKI. Kedua, perebutan politik kekuasaan, yang terjadi pada masa kepemimpinan Ir. Soekarno, adalah benar benar merupakan konflik kehendak kuasa elit politik yang melibatkan TNI. Peristiwa ini memancing emosi warga masyarakat yang buta politik. Ketiga, adanya kepentingan politik Soeharto versus mereka yang menentangnya. Catatan yang ketiga ini, dapat dibaca dari sistem kekuasaan yang sentralistik sebagaimana yang diterapkan Soeharto. Politik berfikir dingin telah membuat lawan politik ketakutan bersikap mengkritisi semua kebijakan politiknya.

Keempat, terjadi peralihan kekuasaan Presiden Soekarno dengan strategi politik desoekarnoisasi. Siapa dibalik dalang peristiwa ini? dapat dilacak sendiri dalam sejarah konflik elit politik bangsa Indonesia, karena bukan kapasitas saya sebagai ahli sejarah. Yang pasti, pasca peristiwa ini, sejarah Orde Baru lebih mengunggulkan Soehrto dari pada kesejarahan presiden pertama, yang berhasil menandai sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia.

Jadi, Soeharto seperti memposisikan Ir. Soekarno sosok yang kalah, karena sejarah selalu berpihak kepada pemenangnya (baca, Brown dalam The Da Vinci Code, telah menulis "History is always writen by the winners"). Peristiwa 65, sebagaimana yang dapat dipahami dari film G 30 S/PKI seolah olah telah menunjukkan pada dunia, Soeharto Sang Pemenang Narasi tunggal sejarah bangsa Indonesia tahun 1965.

Kelima, watak feosalistik para pemimpin dan yang dipimpin mempengaruhi kondisi sejarah bangsa Indonesia yang tidak kunjung berakhir selalu dimainkan oleh mereka yang haus kekuasaan. Dalam realitas perkembangan politik bangsa Indonesia, sikap haus kekuasaan ini selalu memanfaatkan setiap pemilihan kepala pemerintah daerah hingga pusat dengan cara yang tidak bermartabat, yaitu dengan membuat strategi politik kambing hitam dan belah bambu serta ada juga yang menggunakan politik belah duren,

Melepas Dendam Meretas Keberagaman

Selama kekuasaan Orde Baru, para kiai NU telah didekati oleh Rezim Orde Baru, yang dalam suasana politik tertentu berseberangan dengan Orde Baru dan sekaligus sangat diperlukan oleh Orde Baru. Namun demikian, para aktivis NU memahami, saat bersama Orde Baru dan saat bersikap tegas menjaga jarak relasi dengan Orde Baru yang tidak sejalan dengan marwah Nahdlatul Ulama. Hal ini tidak membuat NU kehilangan jejak menjaga pribumisasi Islam, menjaga Islam rahmatan lil'alamiin dan keragaman (kebhinekaan) bangsa Indononesia.

Dalam konteks kepentingan politik, baik personal maupun komunal, peran dan fungsi NU tetap menjadi Ormas keagamaan yang lebih mementingkan politik kebangsaan. Beberapa contoh kebijakan yang mengarah kepada politik kekuasaan, justru kurang mendapatkan perhatian dari Nahdlatul Ulama. Sikap ini sesuai demgan khittah 26 ORMAS NU. Karenanya, NU bersikap netral terhadap pasal 6 Tap MPRS XXXIII/1967 terdapat ketentuan, bahwa Jenderal Soeharto sebagai Pejabat Presiden berkewajiban untuk melakukan proses peradilan atas tuduhan Bung Karno terlibat dalam Peristiwa G.30S/PKI. Adanya politik kekuasaan ini, tidak berpengaruh bagi visi dan misi Nabdlatul Ulama.

Jadi, fiksi film G 30 S PKI, tidak hanya mengupas sikap kalap PKI, namun juga mempertontonkan perpecahan dan pertikaian elit politik yang melibatkan TNI AD. Fenomena ini seharusnya membuat malu kita karena wajah pertikaian kita disaksikan dunia. Secara psikososiologis akan membuka rahasia bobrok etika politik bangsa kepada dunia. Dengan demikian, sewaktu negara negara dunia ingin memainkan bangsa Indonesia, bisa melalui titik yang mudah memecah belah bangsa Indonesia. Karenanya, secara langsung pemerintah Orde Baru, juga telah membuka sejarah kerusakan bangsa karena kehendak kuasa. Selain itu, mempertontonkan kerusakan nation and character building anak muda bangsa Indonesia.

Di balik kuasa konflik ini, sebenarnya ada kegigihan GP Ansor NU melalui para Banser yang menghadang dan melawan PKI. Peristiwa ini menguras energi warga NU, yang sekarang ini tidak tertarik dengan isu PKI dan tidak mengggap ada kebangkitan PKI kembali, kecuali muncul kembali sosok yang bersedia menjadi kambing hitam atau menghitamkan diri. Hal ini tidak akan memberikan pengaruh politik kepada warga negara yang sudah cerdas dan melek politik.

Karenanya terkait dengan isu kebangkitan PKI, jika tidak mempengaruhi kesetabilan struktur aparatur negara, maka tidak perlu ada sesuatu yang harus dikhawatirkan. Yang mengkhawatirkan, justru jika ada yang memainkan aparat negara untuk memperbesar konflik antar aparatur negara dan sesama warga negara.

Di luar teks film, jika ada isu PKI akan mengganti agama dan mengorbankan banyak ulama, merupakan isu yang tidak akan dapat tempat di hati masyarakat Indonesia yang sudah agamis. Sekarang, isu PKI sudah dapat dipahami merupakan bentuk propaganda yang tidak akan mendapatkan basis masa mengambang. Pasca menonton film, penonton justru banyak yang menyaksikan realitas politik kekuasaan, yaitu kemenangan politik Orde Baru, yang mengabaikan arti keragaman untuk kemajuan bersama bangsa Indonesia.

Dari pengalaman di atas, para Kiai dan santri, telah memahami bahaya intoleransi terhadap keragaman bangsa Indonesia. Karenanya, di tengah isu yang memunculkan kembali PKI akan bangkit, tidak mempengaruhi komitmen para Kiai dan Santri untuk menjaga keragaman dan kebhinekaan.

Tentu saja, Isu kebangkitan PKI yang sudah mati dan tidak laku yang pernah berhadapan langsung dengan GP ANSOR NU ini, telah membalik logika kaum intoleran. Dengan kata lain, Mengapa NU yang pernah secara langsung berhadapan dengan PKI sebagai korban elit politik yang melibatkan TNI AD, namun yang meramaikan isu PKI akan kembali, justru organisasi baru yang tidak pernah berhadapan dengan PKI.

Sikap warga NU yang sekarang tidak menunjukkan ketakutan terhadap kebangkitan PKI, karena lebih memilih melepas dendam untuk meretas keberagaman bangsa Indonesia. Meskipun demikian, para aktivis dan warga NU tetap gigih memberikan pencerahan kepada masyarakat, agar tidak dapat terulang menjadi korban propaganda elit politik atau mereka yang berambisi besar pada kehendak kuasa.

Doa para Kiai kepada para elit politik, mereka yang berkuasa, dan para anggota TNI, semoga mereka ini tidak dapat dimainakan oleh para oknum yang tidak bertanggung jawab. Lagi lagi Oknum inilah yang akan menghancurkan negara, yang hingga sekarang masih selalu misterius. Lawan Propaganda yang misterius itu!!!

 

Add comment

Security code
Refresh