Opini
Mantan Komandan Brigif 1 Kodam V Jaya Kolonel A Latief (Kiri) di era pemerintahan Presiden Soekarno dengan Brigjen TNI (Pur) Ibrahim Saleh anggota DPR RI fraksi ABRI, Kamis 9 Maret 1988 di Lapas Cipinang, Jakarta (Ist)

Tulisan ini pernah dimuat lima tahun yang lalu di Kompasiana oleh Petrus Hari Hariyanto, mantan Sekretaris Jenderal Partai Rakyat Demokratik (PRD). Kemudian direvisi dan diserahkan kepada Bergelora.com untuk  dimuat ulang. Ketika dipenjara oleh Orde Baru, Petrus Hariyanto pernah bersama Kolonel Latief dan Bungkus (Redaksi)

Oleh: Petrus Hari Hariyanto

"Aku melapor pada Soeharto  kalau Yani Cs (Jenderal Ahmad Yani) akan diamankan,  dan diserahkan ke Bung Karno," kata  Latief kepadaku. Dia mengatakan itu sekitar tahun 1997. Waktu itu,  kami masih sama-sama mendekam  di LP Cipinang.

Dia sering sering bercerita ke aku tentang sejarah ‘65, terutama saat kami berdua    jalan pagi mengelilingi lintasan khusus untuk berolah-raga yang ada dalam penjara yang terletak di daerah Cipinang itu. Salah satu kakinya berkurang beberapa cm, sehingga kalau berjalan pincang. Agar tetap bisa berdiri dengan stabil, Pak Latief membuat sepatu yang salah satu sisinya lebih tinggi dari sisi yang satunya lagi. Aku lupa sisi kiri atau sisi kanan yag berkurang beberapa cm. Ketika kutanya kenapa kok kakinya cacat,  dia jawab karena dibayonet pasukannya Soeharto.

"Luka di kakiku sampai keluar belatung,  karena para sipir pejara tidak mengobatinya dengan serius dan benar,” ujarnya.

Seperti yang dia ceritakan kepadaku, Soeharto yang dimaksud adalah Soeharto yang waktu itu Pangkostrad. Waktu itu, Kolonel Latief  memberitahu Soeharto kalau akan ada pasukan dari daerah yang akan menggagalkan upaya Dewan Jenderal melakukan kudeta kepada Presiden Soekarno. Mereka berniat mengamankan Jenderal Ahmad Yani cs, dan akan menyerahkannya  kepada Presiden  Soekarno.

Latief mengatakan hal itu  ketika dirinya bertemu dengan Soeharto di rumah sakit. Saat itu,   Tomy anaknya Soeharto dirawat karena tersiram air panas. Latief menuturkan kalau Soeharto  mangut-mangut saja. Dia paham,  tidak menyatakan keberatan. Latief menyampaikan hal yang sangat rahasia itu kepada Soeharto  karena dia adalah teman karibnya sejak di Kodam Diponegoro. Soeharto juga sangat dekat dan bersahabat dengan  Letkol Untung, yang nantinya  komandan operasi pengamanan para Jenderal. Dalam versi orba  dinamakan dengan  Penculikan Pahlawan Revolusi.

Tetapi, yang dilakukan Latief menjadi bencana baginya. Soeharto justru yang menumpas Gerakan Untung dan Latief. Soeharto yang akhirnya memegang kendali kepemimpinan politik  secara keseluruhan. Bung Karno tumbang. Jenderal-Jenderal Anggkatan Darat terbaik seperti Ahmad Yani, S Parman dan lainnya tewas terbunuh oleh Gerakan Latief cs. Tinggal menyisakan Jenderal Nasution, yang akhirnya juga dapat dikalahkan.

Soeharto sangat mengetahui operasi pengamanan Jendera Ahmad Yani cs. Kata Latief, Soeharto tidak menolak, tapi juga tidak terlibat aktif.

“Kalau tidak setuju harusnya juga menghentikan gerakan itu.  Tapi membiarkannya,” ujarnya.

Setelah jasad Jenderal Ahmad Yani cs ditemukan  di Lubang Buaya, dia bergerak dan menumpas.

“Dia tiba-tiba menjadi musuhku,” ujar Latief.

Latief masih beruntung, dia tidak langsung dieksekusi. Untung yang menjadi pemimpin operasi itu ditembak mati. Demikian juga dengan DN Aidit juga dibunuh. Kolonel Latief  waktu itu adalah Komandan Brigif  (Brigadi Infantri) I, Kodam V Jaya . Dia ditangkap atas perintah sobat karibnya Soeharto.

Katanya, waktu ditangkap dia dibayonet kakinya. Lukanya dibiarkan tanpa pengobatan yang layak. Dia tinggal disebuah ruang isolasi di Rutan Salemba.

“Aku bandel sih, suka melawan, jadi diisolasi,” ujarnya kepada ku sambir tertawa ngakak.

Latief merawat kakinya sendiri. Kakinya membusuk, bahkan katanya sampai keluar belatung.

“Aku saja jijik melihatnya,” keluhnya.

Para Tapol PKI (istilah yang diberikan Orde Baru) diberi makan seadanya. Kurang protein, kurang karbohidrat, kurang vitamin. Kata Latief, agar dia bertahan dan tetap mendapat asupan protein terpaksa makan tikus.

“Aku tangkap tikus yang “bezuk” aku,” kata Latief.

Ketika kutanya kenapa Anda dan PKI melakukan kudeta? Latief menjawab dengan nada tinggi.

”Siapa yang melakukan Kudeta? Kami ini pengawal Bung Karno yang setia. Masak kami mau mengkudeta dia? Kami ini mau melindungi beliau dari kudeta para jenderal yang berpikiran barat. Kami hanya mau amankan dan lalu serahkan kepada Bung Karno,” ucapnya kepadaku dengan tegas.

Tapi,  kata Latief di lapangan operasinya  jadi berantakan. Sebelum dibawa ke Bung Karno, ternyata para Jenderal itu  terbunuh, diantaranya  Ahmad Yani, MT Haryono. “Aku sendiri bingung kok jadi begini. Sampai keluar keringat dingin. Dul Arif juga begitu,  padahal dia pemimpin operasi di lapangan,” ujarnya dengan mimik sangat serius sambil mengenang peristiwa yang sudah lama berlalu itu.

Ketika Latief bercerita, ingatanku langsung melayang kepada Film Pemberontakan G30 PKI yang disutradarai Arifin C Noer. Doel Arif digambarkan seorang militer yang warna kulinya hitam sekali, serem, kejam. Juga digambarkan mukanya Untung dan  DN Aidit sebagai seorang yang sadis. Aidit seorang perokok kretek yang berat.

Tapi, kalau bertemu dengan mereka-mereka,  rasanya film tersebut tidak sesuai faktanya. Latief itu orangnya lucu. Aku dan teman-teman memanggilnya Pak Latief. Beberapa bulan setelah aku dipindahkan ke LP Cipinang, dia terkena stroke. Bicaranya cadel dan kurang jelas. Kalau diejek tidak marah, tapi ngantian mengejek kami. Dengan anak muda dia senang bercanda. Di selnya, dipenuhi gitar dan kerajinan dari batok kelapa. Dia yang membuat, tentu saja ketika belum terkena stroke.

Setiap pagi selnya seperti kantor kelurahan. Bunyi mesin tik kuno persis suasana di kantor kelurahan jaman dulu. Yang mengetik adalah napi kriminal. Pak Latief ngomong kisah masa lalu dan langsung ditulis melalui mesin tik kuno.

Atau Pak Bungkus, yang waktu itu anggota Pasukan Cakrabirawa, yang tugasnya mengawal Presiden Soekarno. Pak Bungkus ini orangnya lucu, suka bercanda. Mimik mukanya bila berbicara suka membikin lawan bicaranya tertawa. Dia pernah menceritakan kejadian lucu selama menjadi Pasukan Pengaman Presiden Soekarno di Istana.

“Wah,  Guruh  sewaktu kecil anaknya “bandel” lho. Kita sedang baris- berbaris mengelilingi istana, tiba-tiba pasukan bubar karena Guruh menabrak kami dengan sepeda ontelnya,” ujarnya sambil memperagakan pasukan Cakrabirawa yang kocar-kacir,  tercerai-berai dari barisannya.

Waktu itu, tugasnya menangkap M.T. Haryono untuk diserahkan kepada Bung Karno.

“Rumahnya M.T. Haryono waktu itu gelap. Secara tak sengaja senapan kepencet oleh salah satu pasukan yang bersama saya, karena reflek merespon ada pergerakan dalam kegelapan. Setelah kami periksa ternyata ada orang yang tertembak, dan itu adalah M.T. Haryono,” katanya kepadaku.

Tidak Jadi Dihukum Mati

Cerita tanggal 30 September 1965, juga sempat saya dengar dari Pak Asep Suryaman. Kami sering diskusi kecil-kecilan kalau sedang berada di lapangan Bulutangkis. Pak Asep Hukumannya mati, tapi sampai lebih dari 30 tahun belum dieksekusi. Kami sering bertemu karena dia adalah Ketua Perkumpulan Bulutangkis di LP Cipinang. PBSInya Cipinang , begitu kami sering menyebutnya.

Kebetulan aku juga senang bermain Bulutangkis. Pak Asep sendiri sudah memegang jabatan itu lebih dari sepuluh tahun. “Wah aku tidak diganti-ganti nih. Kayak Soeharto saja berkuasanya lama sekali,” katanya.

Setelah aku tanya ke sana kemari, ia terus menerus dipilih menjadi pimpinan perkumpulan bulutangkis itu  karena dia sangat jujur. Menurut mereka, sulit menjumpai orang jujur di Cipinang. Salah satu seloroh para napi kriminal: penipu bisa ditipu ya adanya di Cipinang.  Pak Asep memang Maois sejati. Keteladanan moral selalu dia jaga.

“Kalau kita mau menjadi pimpinan massa ya kita harus menjadi teladan. Kita harus sederhana, jujur, dan ulet bekerja,” katanya kepadaku di suatu hari ketika sedang berada di selnya.

Pak Asep Suryaman ini adalah anggota Biro Khusus PKI. Dia adalah kader khusus yang bekerja langsung dibawah kendali D.N. Aidit. Bekerja secara rahasia, salah satu tugasnya adalah mendidik para perwira militer yang berpotensi progresif.

Ketika  fase awal-awal penumpasan G-30S, dia belum tertangkap. Bahkan dia sempat  bergerilya di sekitar Gunung Merbabu. Dalam kisah sejarah terkenal dengan sebutan Merbabu-Merapi-Complex (MMC). Walau hukumannya mati, tapi Pak Asep bersama Pak Bungkus dan Pak Marsudi tidak dieksekusi. Bahkan mereka bertiga bersama Pak Latief bebas ketika mendapat Grasi dari Habibie pada tahun 1998.

Ada cerita yang menyentuh rasa kemanusian dibalik tidak jadinya mereka dieksekusi mati. Menurut Pak Asep,  baginya itu sangat menyiksa dirinya. Bila bisa memilih, dia lebih memilih  langsung dieksusi mati. Setiap hari Pak Asep harus menyaksikan kawan-kawanya diambil satu persatu dari sel di Rutan Salemba.

“Ketika salah satu dari kami dibawa keluar penjara, dipastikan mereka akan dieksekusi mati. Sebelum si A dibawa keluar,  dia pasti pamit dan minta maaf, minta diampuni atas kesalahannya kepada kawan-kawanya yang akan ditinggalkan. Suasananya mencekam. Tangis, air mata, geram, marah itu yang kami rasakan saat datang kejadian itu,” ujar Pak Asep  kepada ku sambil bergetar bibirnya.

“Rasanya,  setiap ada tanda-tanda petugas mau mengambil kami, aku mencium bau mayat. Sebuah siksaan bagiku. Jantungku berdetak keras. Apa sekarang giliranku yang akan diambil? ” ujarnya dengan wajah sedih.

Salah satu yang dieksekusi mati adalah Kawan Syam. Yang dimaksud kawan Syam oleh Asep Suryaman adalah Syam Kamaruzzaman.

“Ia ada di penjara, dia bukan agen ganda, dia dieksekusi juga,” ujarnya seakan mematahkan anggapan banyak pihak bahwa dia tidak dieksekusi, keberadaannya misterius karena agen ganda.

Jantung Pak Asep terasa benar-benar  copot ketika pada tahun 1990, dia diambil petugas. Waktu itu tinggal bertiga yang belum dieksekusi.

“Aku sempat dibawa ke atas di Kantor Kalapas Cipinang. Tapi di luar penjara, orang ramai berdemontrasi menentang eksekusi itu. Mereka adalah aktivis Amnesti Iternasional, sebuah lembaga yang bergerak membela HAM. Aku dibawa kembali ke sel. Tapi, rasanya aku sudah mati. Karena itu tidak mungkin, selama ini yang dibawa pasti tak kembali, “ ujar Pak Asep sambil bersyukur karena itu merupakan keajaiban.

Dan memang, keajaiban terus berlanjut bagi Pak Asep. Pada tahun 1999, ketika Soeharto sudah jatuh, Presiden Habibie memberinya Grasi. Pak Asep, Pak Bungkus, Pak Marsudi, Pak Latif bebas. Mereka Napol G30S yang masih tersisa di LP Cipinang. Pak Asep bingung, tidak percaya menerima berita itu. Harusnya dia segera mengemasi barang-barang dia yang sudah dia tumpuk selama 32 tahun di penjara. Dia hanya bengong, lebih tepat seperti orang shock.

“Kenapa kami yang bebas ya? Kamu kenapa belum bebas? Hukuman kalian kan tidak mencapai dua puluh tahun? Hukuman kami khan hukuman mati, tapi kok bebas?,” tanyanya dengan wajah tak percaya.

Sedangkan Pak Bungkus malah mengeluh ketika mau bebas.

Trus kami ini kalau bebas mau tinggal di mana? Kami mau makan apa karena tak punya pekerjaan?” ujar mantan Sersan Kepala Pasukan Cakrabirawa ini.

Bagi Pak Bungkus hidup di penjara sudah mendarah daging. Ia meyakini kalau hidupnya selamanya akan di penjara, seperti Pak Katno rekannya di Cipinang, anggota Pemuda Rakyat, yang meninggal tahun 1997. Pikirannya sudah sangat dipengaruhi kehidupan di penjara. 32 tahun bukan waktu yang singkat. Bahkan,  sebagian besar hidupnya  ada di Penjara. Dia tidak tahu sama sekali kehidupan di luar.

Bagi Pak Latief, apa yang dia cita-citakan terwujud. Dia kepingin melihat Soeharto jatuh dan dia masih hidup. Soeharto sudah jatuh, dan dia akan bebas. Tapi, cita-cita Soeharto mati duluan tidak tercapai. Pak Latif meninggal  pada tahun 2005, lebih dulu dari Soeharto. Tapi, cita-cita dia membuat buku tentang kejahatan Soeharto tercapai.

Pada tahun 2000, bukunya berjudul “Pledoi Kol. A. Latief-Soeharto Terlibat G 30 S” berhasil diterbitkan.

Akhirnya mereka bebas, tinggalah kami dari PRD yang masih tersisa. Kami adalah Tahanan Politik Soeharto yang terakhir dibebaskan. Soeharto telah jatuh, tapi kami baru dibebas setelah  Gus DUR menjadi presiden. Jadi kami ditahan oleh tiga Presiden : Presiden Soeharto, Presiden Habibie, dan beberapa bulan dipenjara ketika Gus Dur berkuasa. Sungguh beruntung bisa bertemu dengan mereka. Orang-orang yang menjadi pelaku sejarah besar perjalanan bangsa ini.

 

Add comment

Security code
Refresh