Opini
Pak Chiendy (baju kotak-kotak) dan Pengurus Pusat Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) bertemu manajemen dan pemilik Klinik Perisai Husada Bandung (Ist)

Walaupun harus secara rutin menjalani cuci darah, Pak Chiendy tetap semangat untuk menjalani pekerjaannya sebagai driver taksi online. Bergelora.com memuat tulisan Sekretaris Jenderal Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) tentang Pak Chiendy (Redaksi)

Oleh: Petrus H. Hariyanto*

UDARA masih dingin. Embun masih setia menempel di dedaunan. Sinar Matahari dengan panasnya belumlah muncul, sehingga  endapan titik air masih setia melekat di rerumputan. Pintu-pintu  belumlah dibuka. Masih tertutup rapat karena penghuninya belum ingin memulai aktivitas. Adalah waktu  yang nyaman untuk tetap membenamkan kepala dibantal.

“Aku sudah masuk ke komplek rumahmu,” kata Tony lewat hp-nya.

Kulihat jam masih menunjukan angka 4 lebih 30 menit. Panggilannya membuat aku segera berpakain rapi. 10 menit sebelumnya aku telah selesai mandi. Langsung kuambil tasku yang isinya hanya dua botol mineral yang sudah membeku. Kuhampiri mobil Tony yang terparkir kira-kira 30 meter dari rumahku.

“Ayo, segera  kita berangkat. Aku kuatir keluar dari Ciganjur jalanan sudah macet. Setengah enam,   jalan keluar dari Ciganjur sudah macet total. Makanya, kalau aku ke RSCM, setengah empat pagi aku sudah naik taksi dari sini, “ kataku kepada Tony sambil masuk ke mobilnya.

Untunglah jalan masih sepi. Setelah menjemput Nanang di Transmart Cilandak, kami segera masuk ke jalan Tol Simatupang. Kami mengajak Nanang, tunangan Novi, agar dia menjaga kami berdua. “Kalau kita pingsan biar ada yang menolong,” kata Tony kepadaku menjelaskan kenapa harus mengajak Nanang.

Aku penderita GGK (Gagal Ginjal Kronik) yang masih cuci darah, dan Tony pasien post cangkok ginjal. Bisa dikatakan fisik kami berdua lebih lemah bila dibandingkan dengan orang normal. Berpergian ke Bandung tentulah bukan perkara mudah, apalagi Tony harus mengendarai sendiri mobilnya.

Hari ini,  kami berdua akan memenuhi undangan BPJS Kesehatan Kota Bandung. Mereka ingin melakukan mediasi antara KPCDI dengan Manajemen Klinik Perisai Husada Bandung. Pertemuan ini merupakan kelanjutan dari surat yang dilayangkan KPCDI Bandung yang melaporkan klinik itu telah merugikan pasien, salah satunya  adanya biaya kamar sebesar Rp 125 ribu tiap pasien yang melakukan hemodialisa. Pihak klinik mengklaim ruangan itu adalah VIP, sehingga syah pasien dikenai biaya tambahan. Sementara KPCDI memandang itu pelanggaran, karena ada bagi pemegang kartu BPJS, ditengarai pula ruang yang disebut VIP itu diisi sembilan bed.

Sudah menjadi tugas kami, yang menjadi pengurus pusat untuk siap sedia kemanapun, bila dipanggil lembaga yang terkait dengan urusan pasien cuci darah. Salah satu tugas KPCDI adalah melakuakan advokasi kepada pasien cuci darah yang mengalami ketidakadilan. Resikonya, ya kami harus melakukan dialog kebanyak lembaga seperti BPJS, PERNEFRI, Dinas Kesehatan, bahkan Kemenkes.

Pekerja Tekun

Pukul delapan kami sampai di Kota Bandung. Tony langsung menghubungi Pak Chiendy. Pak Chiendy adalah Ketua KPCDI Cabang Bandung. Badannya lumayan gemuk. Kacamata selalu menempel di kepalanya. Wajahnya mencitrakan pria terpelajar. Kulitnya putih, berwajah oriental, dia berdarah Tionghwa.

“Mau minum kopi? Ini aku bawakan. Baru saja aku membelinya di KFC. Mau kumakan keburu kalian datang,” sapanya ketika jendela kaca mobil kami terbuka.

Tony langsung meminta Pak Chiendy untuk mengambil alih kemudi mobil. Perjalanan dari Jakarta ke Bandung telah menguras tenaganya. Kini, giliran dia memejamkan matanya, sedangkan sepanjang jalan Tol Cipularang tadi aku yang tertidur pulas.

Kali kedua aku bertemu dengan Pak Chiendy. Yang pertama di Jakarta, ketika dia menghadiri Kopdar di bulan Desemnber 2016 yang lalu. Tapi, bisa dibilang kami intens berkomunikasi, walau itu di dunia maya. Selain pengurus cabang dia juga merangkap menjadi pengurus pusat. Dia menempati pos Departemen Advokasi.

Ketika kutanya kapan dia mulai cuci darah, bapak dua anak itu mengatakan tahun 2015 ia mulai bergantung kepada mesin hemodialisa, agar tubuhnya tetap sehat.

“Awalnya aku iseng periksa darah, mumpung ada diskonan. Ternyata kreatininku sudah di atas dua. Karena nggak paham, dan dokter internisnya tidak memberi edukasi, kuanggap tak ada hal yang perlu dirisaukan. Akibatnya fatal, tak berapa lama kemudian  aku tumbang,” jawabnya sambil menghela nafas panjang.

Pak Chiendy ternyata pekerja keras. Ia bersama istrinya mempunyai usaha membuat kue sus kering. Produksinya, ia jual ke toko-toko kue. Ia juga koki yang handal. Jebolan jurusan manajemen semester 6 ini membuka restoran masakan cina (chinese food). Selain sebagai manejer operasional, ia juga menjadi kokinya.

“Wah gimana jam kerjanya? Apa tidak repot,” tanyaku

“Restoran kami tutup pukul 12 malam. Pukul 4 pagi aku sudah bangun, dan belanja ke pasar. Awalnya, oke-oke saja bekerja seberat itu. Tapi, ketika penyakitku semakin parah, aku menyerah juga. Aku tutup restoran itu. Usaha kue sus kering aku serahkan ke saudara,”

“Aku tidak kuat bekerja. Tubuhku terlihat pucat. Setiap hari muntah-muntah. Semakin lama semakin berat. Akhirnya, aku dirawat selama tiga hari. Aku divonis haru cuci darah karena gagal ginjal,”

“Aku menolak untuk cuci darah. Bayanganku, cuci darah itu mengerikan dan harus dilakukan terus menerus. Tetapi rasa mual semakin hebat. Sudah tidak mau makan. Berat badanku turun sampai 30 kg. Akhirnya tumbang, dan aku menyerah,”

Pak Chiendy cukup beruntung, istrinya sangat perhatian dan mendukungnya. Itulah yang menyebabkan masa pemulihan mentalnya tidak terlalu lama. “Istriku yang  mencari nafkah,  setelah restoran kami tutup. Aku sudah tidak bekerja lagi dan konsentrasi menjalani terapi hemodialisa,”

Hari-hari Pak Chiendy disibukan dengan aktivitas mencari pengetahuan tentang penyakit ginjal dan hemodialisa. “Aku fokus ke sana. Setiap hari yang ada dalam kepalaku adalah tentang penyakit itu. Semua informasi  kulahap, dan aku sangat paham apa itu penyakit gagal ginjal dari a sampai z. Itu membuat aku selalu memikirkan penyakitku,”

“Itu mempengaruhi perilaku ku. Setiap bertemu dengan pasien cuci darah, aku selalu menempatkan diri  sebagai ahli medis. Saya akan menjelaskan apa itu peyakit gagal ginjal dengan panjanglebar. Aku akan selalu mendiagnosa penyakit si-pasien yang kuajak ngobrol itu,” ucapnya dengan tertawa keras.

“Tiada hari tanpa berpikir  penyakit gagal ginjal. Kesadaranku sudah terkukung di sana. Semakin memikirkan penyakit itu bukannya semakin membaik,  malah aku gagal move on. Baru terbebas dari situasi itu, ketika aku mulai bekerja,”

“Bulan Februari 2007 istriku menawari aku bekerja menjadi driver taksi online. Mulai lah  aku menghadapi suasana baru. Walau di jalanan, tapi aku sangat senang karena bisa melihat dunia luar. Bisa bertemu dan ngobrol dengan berbagai orang yang berbeda-beda. Aku mulai menikmati. Dan aku mulai bisa move on,”

“Aku pernah mengajak diskusi dengan seorang penumpang, yang juga pasien cuci darah. Terlihat dia sangat terpuruk dan belum bisa move on. Dalam mobil itu aku berhasil membangkitkan semangatnya. Aku bilang tidak perlu jauh-jauh melihat, aku juga seorang pasien cuci darah. Perasaanku saat itu sungguh bahagia bisa membuat pasien cuci darah lainnya bangkit semangatnya,”

Aku penasaran dengan ceritanya yang bekerja sebagai sopir taksi online. Aku merasa pekerjaan itu berat bagi pasien cuci darah. Apa Pak Chiendy minumnya tidak berlebihan selama mengendarai mobil? Apakah kakinya tidak bengkak duduk berjam-jam mengendarai mobil?

“Berapa jam Pak Chiendy bekerjanya setiap harinya?” tanyaku kepadanya setelah lama dia diam dan berkonsentrasi mengendarai mobil di tengah jalan di Kota Bandung yang banyak belokannya.

“Saya narik di hari di mana saya tidak cuci darah. Hari Minggu kadang aku libur dan bersama keluarga jalan-jalan. Setiap narik taksi online, kuusahakan berangkat  pukul enam pagi. Kalau pulangnya nggak tentu. Yang penting sudah dapat 13 trip, aku pulang. Rata-rata di atas jam 7 malam lah. Dan rata-rata membawa pulang uang sebesar Rp 600 ribu. Itu bersih, dan sudah bonus juga,”

“Nggak benar jika selama mengendarai mobil akan banyak minum air. Justru minum kita berkurang banyak. Kita sering mendengar keluhan dari  seorang sopir yang terkena batu ginjal kan ? Karena mereka kurang minum air dan terlalu banyak duduk. Kalau bagi pasien cuci darah, kurang minum justru bagus. Kakiku tidak pernah bengkak,  walau duduk berjam-jam,” jelasnya dengan bersemangat.

Wah, luar biasa ayah dua anak ini. Aku tidak membanyangkan seorang pasien cuci darah bekerja seperti dia. Berangkat pagi dan pulang malam. Aku tidak bisa membanyangkan betapa lelahnya Pak Chiendy setelah pulang ke rumah.

“Justru karena badan kita capek, setelah beraktivitas seharian, membuat tidur kita menjadi nyenyak. Sejak aku menjadi driver, aku sudah tidak punya keluhan  tidur. Kalau dulu, aku selalu berpikir tentang penyakitku, membuat aku susah tidur. Dan keluhan pasien cuci darah pada umumnya karena susah tidur di malam hari,”

Tak terasa perjalanan kami sudah lebih dari 30 menit. Pak Chiendy mengabari kalau Klinik Perisai Husada sudah dekat. “Dr. Rudy sudah menanyakan kita sampai mana? Acara mediasi sudah akan di mulai karena pihak BPJS Kota Bandung juga sudah datang,” serunya.

Dan kami tidak  terlambat dari jadwal yang sudah disepakati. Selama proses memarkir mobil aku berpikir tentang cerita Pak Chiendy. Aku sungguh kagum kepadanya. Dia adalah bapak dan suami yang bertanggung-jawab. Seorang pekerja keras dan ulet. Sebagai Pasien cuci darah, dia tidak mau tunduk dan menyerah kepada penyakitnya. Dia jawab semua masalah hidupnya dengan berkarya. Baginya, mengisi kehidupan akan membawa pasien cuci darah bangkit dari keterpurukannya.

Gedung Nusantara I yang semakin dingin seiring hujan lebat yang telah lama turun.

Add comment


Security code
Refresh