Opini
Din Syamsuddin (Ist)

Mantan Ketua Umum Muhammadiyah, Din Syamsuddin ditunjuk Presiden Joko Widodo menjadi utusan khusus urusan Dialog Antar Agama. Derek Manangka, Wartawan Senior mantan Harian Sore Sinar Harapan, menyorotinya dalam CATATAN TENGAH, Minggu 29 Oktober 2017 yang diunggah dalam akun facebooknya dan dimuat Bergelora.com. (Redaksi)

Oleh: Derek Manangka

DARI puluhan LSM yang menyuarakan kepentingan Palestina di Indonesia, hanya satu yang kredibel. Yaitu yang bernaung di bawah pimpinan Din Syamsuddin.

Pernyataan di atas merupakan ungkapan spontan Fariz Mehdawi, Duta Besar Palestina untuk Indonesia di bulan Juli tahun 2010.

Tujuh tahun silam itu Dubes Palestina membahas rencana dialog Palestina – Israel dengan Sinyo Sarundayang, Gubernur Sulawesi Utara saat itu, di Hotel Grand Hyatt, Jakarta.

Mehdawi membahasnya, sebab gagasan dialog itu, disadari, sebagai sebuah pekerjaan yang tidak mudah.

Apalagi penyelenggaraannya dipimpin oleh seorang swasta. Sementara Gubernur Sulut sebagai wakil pemerintah, hanya boleh berperan - sebatas pemberi restu.

Yang menjadi inisiator, Christian Mapaliey, pengusaha Indonesia yang lama bermukim di Finlandia.

Manado, ibukota provinsi Sulut, direkomendasikan oleh Mapaliey sebagai lokasi pertemuan dialog, dengan alasan pragmatis.

Masyarakat di kota Manado terkenal dengan keaneka-ragaman dan tidak bersikap apriori serta subyektif terhadap persoalan Palestina - Israel.

Sepanas dan separah apapun yang terjadi dalam konflik Palestina – Israel di wilayah Timur Tengah sana, tidak akan mendorong warga Manado di bibir Pasifik, berdemo untuk menentang atau memihak.

Di kota Manado sendiri, terdapat sebuah sinagog, tempat beribadah Yahudi, agama yang dipeluk mayoritas orang Israel. Sementara di tengah kota Manado pun terdapat “Kampung Arab” yang semua penduduknya beragama Islam.

Di Manado sana, ‘Arab-Palestina-Manado’ dan ‘Yahudi Kawanua’ tidak pernah terjebak dan terpengaruh oleh situasi konflik di Timur Tengah.

Hampir tidak ada masyarakat Manado yang melihat konflik Palestina – Israel sebagai sebuah persoalan yang ditimbulkan oleh perbedaan agama.

Christian Mapaliey dan Fariz Mehdawi sudah bersahabat dengan. Rasa percaya terhadap satu sama lain sudah cukup tinggi. Mehdawi sudah pernah menginap di rumah Mapaliey yang terletak di desa Talawaan, Minahasa Utara.

Christian Mapaliey sendiri ingin menggelar dialog perdamaian di Bukit Doa di tanah leluhurnya dengan subyektif. Ia ingin menjadikan Bukit Doa-nya, yang puncaknya memiliki pemandangan sangat indah. Sejauh mata memandang bisa melihat laut sekalipun agak jauh sementara di belakangnya masih eksis hutan dan kehijauannya.

Pemandangan indah laut dan hutan, bisa mendorong adrenalin para anggota delegasi Palestina dan Israel, lebih suka melihat pemandanan indah dari pada pemandangan buruk. Terutama yang dtimbulkan oleh perang atau konflik.

Ujung-ujungnya, para angota delegasi diharapkan lebih memilih perdamaian ketimbang permusuhan.

Pada catatan lainnya, Christian Mapaliey cukup lama menetap di Finlandia. Ia pernah menikah dengan gadis Finlandia.

Bekas pelaut ini memahami, Finlandia sebagai bagian dari negara yang lazim disebut Nordik, bersama Islandia, Greenland dan Kepulauan Faroe, bertetangga dengan negara-negara Skandinavia : Swedia, Denmark dan Norwegia. Semuanya terkenal makmur, berkat negara mereka tanpa konflik.

Lebih dari itu negara-negara Nordik dan Skandinavia, banyak melahirkan individu sebagai inisiator penyelesaian konflik di luar kawasan mereka.

Tryge Halvandan Lie dari Norwegia menjadi Sekjen PBB tahun 1946 – 1952. Tahun 1953 – 1961, Dag Hamarsjkold dari Swedia, menggantikannuya.

PBB sendiri sejak didirikan tahun 1945, dimaksudkan untuk menciptakan perdamaian dunia.

Sementara pemerintah dari negara Nordik dan Skandinavia rata-rata beridologi sosialis dan anti-peperangan.

Walaupun Kristen merupakan agama yang dipeluk mayoritas dari bangsa-bangsa di kawasan tersebut, tetapi keyakinan agama seorang pemimpin, tidak dikaitkan dengan hak dan agenda politiknya dalam sistem pemerintahan.

Negara-negara ini menempatkan agama sebagai urusan pribadi.

Reykyavik, ibukota Islandia misalnya beberapa kali menjadi tuan rumah pertemuan pemimpin dunia yang berbeda ideologi, agama ataupun keyakinan.

Pemimpin Uni Sovyet dan Amerika Serikat difasilitasi pemerintah negara tersebut untuk bertemu dalam rangka perundingan, bagaimana meredahkan ketegangan konflik di era Perang Dingin.

Perang Dingin adalah perang antara Komunisme melawan Anti-Komuisme. Perang itu sendiri hanya sebuah terminologi. Tidak ada perang yang riel atau nyata.

Ungkapan Perang Dingin semata-mata untuk menggambarkan bagaimana komunis (Uni Sovyet) dan non-komunus (Amerika Serikat) , saling bermusuhan. Namun keduanya tidak ingin terjadi perang yang menggunakan senjata pembunuh termasuk senjata nuklir sebagai pemusnah massal manusia.

Satu hal lagi. Swedia, terkenal sebagai negara asal Alfred Nobel, industrialis sekaligus filantropis yang setiap tahun memberikan hadiah jutaan dolar kepada individu dari belahan bumi manapun, yang dianggap berjasa dalam menciptakan perdamaian dunia.

Netralitas negara-negara Skandinavia dan Nordik, cukup dikenal, menonjol dan diakui oleh banyak negara demokrasi.

Diplomat Palestina Mehdawi itu tidak menyebut secara spesifik, data tentang LSM pimpinan Din Syamsuddin. Tapi pernyataan yang dikemukakannya tujuh tahun silam – pekan ini mengiang kembali di pendengaranku.

Intinya, keputusan Presiden Jokowi menetapkan Din Syamsuddin, seakan mengingatkan Din yang sudah diapresiasi masyarakat internasional, jangan sampai justru tidak memperoleh pengakuan dari pemerintahya sendiri.

Jadi keputusan Presiden yang menetapkan tokoh Islam dari Muhammadiyah ini, merupakan sebuah hal yang cukup penting bagi Indonesia. Mengingat negara yang masih bergelut berat dengan persoalan konflik, perlu kehadiran seorang tokoh yang bisa menjembatani sebuah dialog.

Konflik di Indonesia sebetulnya diakibatkan oleh tidak meratanya kesejahteraan. Namun munculnya lebih banyak disebabkan oleh perbedaan agama.

Sehingga keputusan Presiden yang untuk pertama kali menunjuk seorang tokoh sebagai Duta Besar yang melakukan dialog antar agama - “Religion Dialogue Ambassador” semakin menjadi sesuatu yang sangat penting.

Untuk pertama kalinya seorang Presiden mengakui adanya hubungan yang tidak harmonis di kalangan masyarakat yang memeluk agama dan keyakinan berbeda.

Sejauh ini ketidak-harmonisan itu sudah pecah di mana-mana.

Di Papua, Madura, Jawa Barat, Jawa Timur dan Ibukota NKRI, Jakarta tentunya serta daerah lainnya, mulai menjadi langganan konflik. Jadi konflik di Indonesia, semakin meluas.

Akan tetapi selama itu, pemerintah hanya mengandalkan kekuatan Menteri Agama, Ketua MUI bahkan pihak penegak hukum seperti Polri.

Hasilnya, tidak maksimal.

Tapi penetapan Din Syamsuddin juga bisa menimbulkan penafsiran bahwa peran Menteri Agama sebagai pejabat yang mengurusi semua persoalan agama di Indonesia, sudah gagal total. Pemahaman ini harus disingkirkan.

Bahkan mungkin ada yang bertanya apakah penunjukkan Din Syamsuddin dimaksudkan untuk mendegradasi kepercayaan Presiden terhadap Menteri Agama Lukman Saefuddin ?

Pertanyaan ini juga tak boleh dikapitalisasi.

Jika ini terjadi, persoalannya bisa runyam. Bukan tak mungkin akan muncul persaingan diam-diam antara Menteri Agama dan Utusan Khusus Dialog Antar Agama.

Yang pasti dari pernyataan Dubes Mehdawi menunjukan, Din sendiri sudah lama diakui oleh dunia internasional. Ketokohannya yang memperjuangkan perdamaian, melalui sebuah dialog, sudah teruji.

Yang menjadi masalah, pekerjaan dan tugas Din Syamsuddin kali ini tergolong berat. Bisa saja Jokowi dicap tengah bermanuver. Dia mengangkat Din Syamsuddin untuk kepentingan citra posotif politiknya. Bahwa dia, Presiden dekat dengan Muhammadiyah. Tidak hanya denan NU.

Sehingga muncul pertanyaan apakah kredibilitas Din yang sudah teruji dan cukup tinggi itu, bisa menjadi modal dan kekuatan penentu ?

Sebab hasil akhir yang diharapkan dari putera Indonesia asal Lombok, NTB ini adalah menciptakan sebuah perdamaian.

Dan pekerjaan dialog yang menjadi cakupan kerja Din Syamsuddin, tidak terbatas di dalam negeri. Tetapi menjangkau negara-negara di luar, yang rata-rata berkonflik karena dasar agama.

Tidak ada maksud menggurui Din Syamsuddin yang bergelar Profesor tersebut. Akan tetapi sebagai warga bangsa yang memiliki kepedulian tentang pentingnya tercipta sebuah masyarakat di negara kita yang “conflict free”, tidak ada salahnya kesempatan ini, digunakan ikut memberi titipan.

Fokuskan dulu dialog di dalam negeri. Sementara tugas Presiden untuk menciptakan dialog di negara seperti Afghanistan, Syria dan lain sebagainya, cukup diletakkan pada urusan paling bawah.

Buatlah dialog-dialog berhasil di dalam negeri terlebih dahulu.

Karena keberhasilan menciptakan dialog yang sehat di dalam negeri, akan menjadi sebuah contoh konkrit untuk mendorong bangsa lain yang bersengketa, mengadopsi pengalaman Indonesia.

Tugas penting lainnya meminimalisir pengaruh dikotomi yang seolah menyebutkan Islam di Indonesia terbelah dua. Yakni antara Muhammadiyah dan Nahdlathul Ulama. Sebagai seorang Nasrani, saya merindukan akan terhapusnya dikotomi itu, sama halnya di antara Protestan dan Katolik.

Dan terciptanya dikotomi itu, karena tidak ada dialog yang “genuine”.

 

Selamat bertugas Pak Din. 

Meneropong Tugas Din Syamsuddin, Mengurus Dialog Antar Agama

Mantan Ketua Umum Muhammadiyah, Din Syamsuddin ditunjuk Presiden Joko Widodo menjadi utusan khusus urusan Dialog Antar Agama. Derek Manangka, Wartawan Senior mantan Harian Sore Sinar Harapan, menyorotinya dalam CATATAN TENGAH, Minggu 29 Oktober 2017 yang diunggah dalam akun facebooknya dan dimuat Bergelora.com. (Redaksi)

Oleh: Derek Manangka

JAKARTA – Dari puluhan LSM yang menyuarakan kepentingan Palestina di Indonesia, hanya satu yang kredibel. Yaitu yang bernaung di bawah pimpinan Din Syamsuddin.

Pernyataan di atas merupakan ungkapan spontan Fariz Mehdawi, Duta Besar Palestina untuk Indonesia di bulan Juli tahun 2010.

Tujuh tahun silam itu Dubes Palestina membahas rencana dialog Palestina – Israel dengan Sinyo Sarundayang, Gubernur Sulawesi Utara saat itu, di Hotel Grand Hyatt, Jakarta.

Mehdawi membahasnya, sebab gagasan dialog itu, disadari, sebagai sebuah pekerjaan yang tidak mudah.

Apalagi penyelenggaraannya dipimpin oleh seorang swasta. Sementara Gubernur Sulut sebagai wakil pemerintah, hanya boleh berperan - sebatas pemberi restu.

Yang menjadi inisiator, Christian Mapaliey, pengusaha Indonesia yang lama bermukim di Finlandia.

Manado, ibukota provinsi Sulut, direkomendasikan oleh Mapaliey sebagai lokasi pertemuan dialog, dengan alasan pragmatis.

Masyarakat di kota Manado terkenal dengan keaneka-ragaman dan tidak bersikap apriori serta subyektif terhadap persoalan Palestina - Israel.

Sepanas dan separah apapun yang terjadi dalam konflik Palestina – Israel di wilayah Timur Tengah sana, tidak akan mendorong warga Manado di bibir Pasifik, berdemo untuk menentang atau memihak.

Di kota Manado sendiri, terdapat sebuah sinagog, tempat beribadah Yahudi, agama yang dipeluk mayoritas orang Israel. Sementara di tengah kota Manado pun terdapat “Kampung Arab” yang semua penduduknya beragama Islam.

Di Manado sana, ‘Arab-Palestina-Manado’ dan ‘Yahudi Kawanua’ tidak pernah terjebak dan terpengaruh oleh situasi konflik di Timur Tengah.

Hampir tidak ada masyarakat Manado yang melihat konflik Palestina – Israel sebagai sebuah persoalan yang ditimbulkan oleh perbedaan agama.

Christian Mapaliey dan Fariz Mehdawi sudah bersahabat dengan. Rasa percaya terhadap satu sama lain sudah cukup tinggi. Mehdawi sudah pernah menginap di rumah Mapaliey yang terletak di desa Talawaan, Minahasa Utara.

Christian Mapaliey sendiri ingin menggelar dialog perdamaian di Bukit Doa di tanah leluhurnya dengan subyektif. Ia ingin menjadikan Bukit Doa-nya, yang puncaknya memiliki pemandangan sangat indah. Sejauh mata memandang bisa melihat laut sekalipun agak jauh sementara di belakangnya masih eksis hutan dan kehijauannya.

Pemandangan indah laut dan hutan, bisa mendorong adrenalin para anggota delegasi Palestina dan Israel, lebih suka melihat pemandanan indah dari pada pemandangan buruk. Terutama yang dtimbulkan oleh perang atau konflik.

Ujung-ujungnya, para angota delegasi diharapkan lebih memilih perdamaian ketimbang permusuhan.

Pada catatan lainnya, Christian Mapaliey cukup lama menetap di Finlandia. Ia pernah menikah dengan gadis Finlandia.

Bekas pelaut ini memahami, Finlandia sebagai bagian dari negara yang lazim disebut Nordik, bersama Islandia, Greenland dan Kepulauan Faroe, bertetangga dengan negara-negara Skandinavia : Swedia, Denmark dan Norwegia. Semuanya terkenal makmur, berkat negara mereka tanpa konflik.

Lebih dari itu negara-negara Nordik dan Skandinavia, banyak melahirkan individu sebagai inisiator penyelesaian konflik di luar kawasan mereka.

Tryge Halvandan Lie dari Norwegia menjadi Sekjen PBB tahun 1946 – 1952. Tahun 1953 – 1961, Dag Hamarsjkold dari Swedia, menggantikannuya.

PBB sendiri sejak didirikan tahun 1945, dimaksudkan untuk menciptakan perdamaian dunia.

Sementara pemerintah dari negara Nordik dan Skandinavia rata-rata beridologi sosialis dan anti-peperangan.

Walaupun Kristen merupakan agama yang dipeluk mayoritas dari bangsa-bangsa di kawasan tersebut, tetapi keyakinan agama seorang pemimpin, tidak dikaitkan dengan hak dan agenda politiknya dalam sistem pemerintahan.

Negara-negara ini menempatkan agama sebagai urusan pribadi.

Reykyavik, ibukota Islandia misalnya beberapa kali menjadi tuan rumah pertemuan pemimpin dunia yang berbeda ideologi, agama ataupun keyakinan.

Pemimpin Uni Sovyet dan Amerika Serikat difasilitasi pemerintah negara tersebut untuk bertemu dalam rangka perundingan, bagaimana meredahkan ketegangan konflik di era Perang Dingin.

Perang Dingin adalah perang antara Komunisme melawan Anti-Komuisme. Perang itu sendiri hanya sebuah terminologi. Tidak ada perang yang riel atau nyata.

Ungkapan Perang Dingin semata-mata untuk menggambarkan bagaimana komunis (Uni Sovyet) dan non-komunus (Amerika Serikat) , saling bermusuhan. Namun keduanya tidak ingin terjadi perang yang menggunakan senjata pembunuh termasuk senjata nuklir sebagai pemusnah massal manusia.

Satu hal lagi. Swedia, terkenal sebagai negara asal Alfred Nobel, industrialis sekaligus filantropis yang setiap tahun memberikan hadiah jutaan dolar kepada individu dari belahan bumi manapun, yang dianggap berjasa dalam menciptakan perdamaian dunia.

Netralitas negara-negara Skandinavia dan Nordik, cukup dikenal, menonjol dan diakui oleh banyak negara demokrasi.

Diplomat Palestina Mehdawi itu tidak menyebut secara spesifik, data tentang LSM pimpinan Din Syamsuddin. Tapi pernyataan yang dikemukakannya tujuh tahun silam – pekan ini mengiang kembali di pendengaranku.

Intinya, keputusan Presiden Jokowi menetapkan Din Syamsuddin, seakan mengingatkan Din yang sudah diapresiasi masyarakat internasional, jangan sampai justru tidak memperoleh pengakuan dari pemerintahya sendiri.

Jadi keputusan Presiden yang menetapkan tokoh Islam dari Muhammadiyah ini, merupakan sebuah hal yang cukup penting bagi Indonesia. Mengingat negara yang masih bergelut berat dengan persoalan konflik, perlu kehadiran seorang tokoh yang bisa menjembatani sebuah dialog.

Konflik di Indonesia sebetulnya diakibatkan oleh tidak meratanya kesejahteraan. Namun munculnya lebih banyak disebabkan oleh perbedaan agama.

Sehingga keputusan Presiden yang untuk pertama kali menunjuk seorang tokoh sebagai Duta Besar yang melakukan dialog antar agama - “Religion Dialogue Ambassador” semakin menjadi sesuatu yang sangat penting.

Untuk pertama kalinya seorang Presiden mengakui adanya hubungan yang tidak harmonis di kalangan masyarakat yang memeluk agama dan keyakinan berbeda.

Sejauh ini ketidak-harmonisan itu sudah pecah di mana-mana.

Di Papua, Madura, Jawa Barat, Jawa Timur dan Ibukota NKRI, Jakarta tentunya serta daerah lainnya, mulai menjadi langganan konflik. Jadi konflik di Indonesia, semakin meluas.

Akan tetapi selama itu, pemerintah hanya mengandalkan kekuatan Menteri Agama, Ketua MUI bahkan pihak penegak hukum seperti Polri.

Hasilnya, tidak maksimal.

Tapi penetapan Din Syamsuddin juga bisa menimbulkan penafsiran bahwa peran Menteri Agama sebagai pejabat yang mengurusi semua persoalan agama di Indonesia, sudah gagal total. Pemahaman ini harus disingkirkan.

Bahkan mungkin ada yang bertanya apakah penunjukkan Din Syamsuddin dimaksudkan untuk mendegradasi kepercayaan Presiden terhadap Menteri Agama Lukman Saefuddin ?

Pertanyaan ini juga tak boleh dikapitalisasi.

Jika ini terjadi, persoalannya bisa runyam. Bukan tak mungkin akan muncul persaingan diam-diam antara Menteri Agama dan Utusan Khusus Dialog Antar Agama.

Yang pasti dari pernyataan Dubes Mehdawi menunjukan, Din sendiri sudah lama diakui oleh dunia internasional. Ketokohannya yang memperjuangkan perdamaian, melalui sebuah dialog, sudah teruji.

Yang menjadi masalah, pekerjaan dan tugas Din Syamsuddin kali ini tergolong berat. Bisa saja Jokowi dicap tengah bermanuver. Dia mengangkat Din Syamsuddin untuk kepentingan citra posotif politiknya. Bahwa dia, Presiden dekat dengan Muhammadiyah. Tidak hanya denan NU.

Sehingga muncul pertanyaan apakah kredibilitas Din yang sudah teruji dan cukup tinggi itu, bisa menjadi modal dan kekuatan penentu ?

Sebab hasil akhir yang diharapkan dari putera Indonesia asal Lombok, NTB ini adalah menciptakan sebuah perdamaian.

Dan pekerjaan dialog yang menjadi cakupan kerja Din Syamsuddin, tidak terbatas di dalam negeri. Tetapi menjangkau negara-negara di luar, yang rata-rata berkonflik karena dasar agama.

Tidak ada maksud menggurui Din Syamsuddin yang bergelar Profesor tersebut. Akan tetapi sebagai warga bangsa yang memiliki kepedulian tentang pentingnya tercipta sebuah masyarakat di negara kita yang “conflict free”, tidak ada salahnya kesempatan ini, digunakan ikut memberi titipan.

Fokuskan dulu dialog di dalam negeri. Sementara tugas Presiden untuk menciptakan dialog di negara seperti Afghanistan, Syria dan lain sebagainya, cukup diletakkan pada urusan paling bawah.

Buatlah dialog-dialog berhasil di dalam negeri terlebih dahulu.

Karena keberhasilan menciptakan dialog yang sehat di dalam negeri, akan menjadi sebuah contoh konkrit untuk mendorong bangsa lain yang bersengketa, mengadopsi pengalaman Indonesia.

Tugas penting lainnya meminimalisir pengaruh dikotomi yang seolah menyebutkan Islam di Indonesia terbelah dua. Yakni antara Muhammadiyah dan Nahdlathul Ulama. Sebagai seorang Nasrani, saya merindukan akan terhapusnya dikotomi itu, sama halnya di antara Protestan dan Katolik.

Dan terciptanya dikotomi itu, karena tidak ada dialog yang “genuine”.

Selamat bertugas Pak Din. 

Add comment

Security code
Refresh