Opini
Pangeran Kerajaan Arab Alwaleed Bin Talal Alsaud yang ditangkap terkait korupsi (Ist)

Perubahan terus terjadi di Timur Tengah. Belum ketahuan arahnya apakah menjadi lebih baik ataukah semakin buruk. Henny Vidiarina, aktifis 80-an menyoroti pentingnya perubahan-perubahan itu pada dunia dimasa depan (Redaksi)

 Oleh: Henny Vidiarina

BEBERAPA orang mulai kasak-kusuk melalui jaringan media sosial membicarakan apa yang terjadi di dalam pemerintahan Saudi Arabia. Seperti penangkapan puluhan pangeran dan menteri dengan dugaan kasus korupsi. Peristiwa kecelakaan helikopter yang menewaskan salah satu pangeran yang notabene menjadi rival putra mahkota. Seorang pangeran super kaya lain yang lari ke Iran untuk mencari suaka, dan lainnya.

Mungkin ini menjadi berita yang biasa saja di sini, namun bagi pengamat geopolitik Timur Tengah, kejadian-kejadian di negara-negara yang menjadi poros transregional tersebut cukup penting untuk diamati bersamaan dengan beberapa peristiwa penting lain di luar Saudi Arabia.

Seminggu ini di Timur Tengah telah terjadi berbagai peristiwa yang cukup mengejutkan bahkan bagi mereka sendiri. Sepertinya telah terjadi pergeseran paradigma orde lama yang unipolar, dan dikuasai kepentingan Amerika, menuju ke sistem yang lebih multipolar.

Perubahan geopolitik ini diawali dari gebrakan Suriah yang mencengangkan sejak akhir tahun lalu. Mereka berhasil meluluh-lantahkan ISIS (Daesh), berkat bantuan pasukan anti-teroris Rusia sejak 2015 dan dukungan penuh pemerintahan Iran.

Kemenangan ini sepertinya memberikan semangat baru dan mengembalikan kepercayaan diri negara-negara lain untuk lepas dari orde lama yang unipolar.

Tentu saja, proses pergeseran paradigma ini tidak menguntungkan kepentingan Amerika dan sekutunya Israel. Beberapa kejadian menunjukkan proses pergeseran paradigma ini berusaha dihentikan dengan serangkaian kekacauan, melalui konflik-konflik buatan untuk memprovokasi konflik lebih besar. Akibatnya Timur Tengah sekali lagi terjebak ke dalam situasi ketidakpastian dan jauh lebih rumit daripada yang mungkin ditengarai oleh beberapa pengamat.

Inilah kira-kira lima kejadian mengejutkan di Timur Tengah yang masih terus di amati secara mendalam oleh para ahlinya:

1. Trilateral summit Iran-Azerbaijan-Russia (menguatnya kemitraan the Great Power Rusia-Iran, dan peran positif negara extra-regional dalam melestarikan perdamaian global), Rabu, 1 November 2017

2. Ancaman Israel terhadap Suriah Selatan paska kekalahan ISIS (Daesh) di Raqqa, sejak September 2017

3. Perdana Mentri Libanon, Saad Hariri, mengundurkan diri, Sabtu, 4 November 2017

4. Penangkapan dan kematian para pengeran di Saudi Arabia (kesan seolah Kudeta "Deep State" Mohammed Bin Salman), Sabtu, 4 November 2017

5. Damaskus versus Moskow atas nasib Kurdi Suriah, Minggu, 5 November 2017

Dua hal yang sudah diprediksi sebelumnya adalah menguatnya kemitraan Great Power Rusia-Iran dan munculnya perselisihan antara Moskow dan Damaskus mengenai Kurdi Suriah. Meskipun yang terakhir masih bisa dikelola dan ditangani dengan baik dengan cara yang hasilnya malah lebih memperkuat wilayah tersebut. Namun Peristiwa di Suriah selatan, Lebanon, dan Arab Saudi mungkin mengejutkan.

Secara ringkas, mungkin bisa disimpulkan bahwa kekalahan Daesh, sebagai symbol hegemoni politik unipolar, telah membuka gerakan baru yaitu Timur Tengah yang Multipolar, dibangun dari hasil kerjasama Rusia dan Iran. Salah satu hasil pertemuan yang sangat penting dan tak terduga adalah ketika mereka memberikan pengumuman tentang instalasi dua jaringan pipa transregional (Iran-Azerbaijan-Rusia dan Iran-Pakistan-India) dan diskusi serius mengenai de-dolarisasi.

Namun secara tiba-tiba usaha ini dihambat oleh 3 peristiwa politik yang mengkibatkan ketidakstabilan di Lebanon, di perbatasan Suriah Selatan, dan di Saudi Arabia.

Kelakuan Israel di Surah Selatan seperti peringatan pada dunia bahwa Tel Aviv selalu mampu menggunakan kekuatan bersenjatanya demi mencapai visi "Balkanisasi" regionalnya, membagi dan memerintah Timur Tengah sesuai dengan skenario "Blood Borders" (mengubah peta Timur Tengah menjadi Timur Tengah Baru - Yinon Plan).

Pernyataan-pernyataan PM Libanon yang tidak knsistent, dan hanya di dapat dari sumber berita yang terbatas, justru mendorong kita untuk menarik kesimpulan bahwa pengunduran dirinya adalah bagian dari sebuah rencana politis untuk merusak reputasi gerakan anti-teroris, “the Axis of Resistance”, salah satunya adalah pejuang Hizbollah, yang diam-diam dimusuhi oleh AS - Israel.

Drama "internal" yang sedang berlangsung di Arab Saudi, apapun niat dan tujuannya, dapat membahayakan wilayah ini jika ketegangan semakin tidak terkendali dan mengakibatkan runtuhnya Kerajaan, Sama halnya dengan perselisihan antara Moskow dan Damaskus tentang masa depan politik paska-Daesh bagi Kurdi Suriah, akan membahayakan wilayah itu jika kedua sekutu tersebut tidak segera menyelesaikannya tepat pada waktunya sebelum konferensi Sochi.

Add comment


Security code
Refresh