Opini
Bandara Schiphol, Amsterdam, Belanda (Ist)

Ini catatan ke-13  dalam Roadshow  Islam Nusantara (IN) ke Eropa bersama Ki Ageng Ganjur yang sempat mengunjungi kota –kota  besar di Eropa. Budayawan Gus Durian, Al-Zastrouw menulisnya dan dimuat Bergelora.com. (Redaksi)

Oleh: Al-Zastrouw

Setelah jalan-jalan menikmati keindahan alam kota tua Volendam dan taman bunga Koekenhof, malam itu rombongan Ganjur berencana melakukan Packing. Karena banyaknya barang-barang yang harus di pack, terutama gamelan dan peralatan musik, maka perlu waktu lama untuk packing. Apalagi beberapa koper anggota rombongan banyak yang "beranak" karena tambahan isi.

Saat kami sedang packing tiba-tiba datang beberapa orang sambil membawa makanan. Makin lama-makin banyak hingga akhirnya suasana di masjid menjadi ramai karena banyaknya orang dan makanan. Rupanya malam itu kelompok rebana "tombo ati" memberikan surprise membuat acara perpisahan. Mereka mengkoordinir orang-orang untuk datang membawa makanan. Acara packing terpaksa kami batalkan.

Perasaan haru campur bahagia dan sedih segera menggelayut di dada kami. Kami terharu atas sambutan dan ketulusan mereka melayani dan membantu kami selama berada di Eropa. Kami bahagia karena bertemu saudara sebangsa di negeri orang dan bisa membahagiakan mereka dengan pagelaran yang kami suguhkan. Yang membuat kami bersedih, esok hari kita akan berpisah, karena kami harus kembali ke tanah air.

Akhirnya malam itu benar-benar menjadi pesta perpisahan. Kami bernyanyi bersama, nenyenandungkan shalawat dengan iringan grup rebana "Tombo Ati" yang berkolaborasi dengan beberapa personil Ganjur. Selain bernyanyi bersama acara malam itu juga dimeriahkan dengan hiburan sulap yang dimainkan oleh mas Santoso, salah seorang crew dari ki Ageng Ganjur. Suasana menjadi tambah akrab dan meriah. Inilah yang membuat kami menjadi lebih berat berpisah.

Yang membuat kami lebih terharu, beberapa orang memberikan oleh-oleh kepada kami. Sekedar buah tangan, kata mereka. "Biar kami tetap dikenang dan Ki Ageng Ganjur bisa bisa kembali lagi ke Eropa untuk berdakwah menyampaikan Islam yang sejuk, damai dan simpatik serta menghibur" demikian doa dan harapan kyai Hambali sesepuh orang-orang Indonesia di Belanda, saat memberi sambutan.

Dalam sambutannya kyai Hambali juga menyatakan bahwa penampilan ki Ageng Ganjur telah mampu memukau publik Eropa, terutama kelompok non muslim. "99 persen acara ini mendapat respon positif," demikian kyai hambali menegaskan.

Respon negatif muncul dari kalangan islamist yang menganggap tidak patut mencampur shalawat dengan musik. Tapi secara keseluruhan apa yang dilakukan Ki Ageng Ganjur berdampak positif karena bisa sedikit mengurangi stigma negatif orang-orang Eropa terhadap Islam.

"Dengan adanya roadshow Islam Nusanrara di Eropa ini, tugas kami semakin ringan karena bisa mengurangi stigma negatif sehingga gerak kami akan semakin mudah dan lapang" lanjut kyai Hambali

Menanggapi pernyataan kyai Hambali, dalam sambutannya saya menyatakan bahwa, dari awal soal musik ini memang sudah kontroversial. Kelompok-kelompok yang anti musik akan selalu berpikiran negatif terhadap musik. Tetapi jika musik kita tinggalkan maka musik akan diambil oleh orang lain dan digunakan untuk merusak.

Daripada digunakan untuk merusak, akan lebih baik kita ambil dan digunakan untuk memperbaiki. Karena daya rusak musik sama besarnya dengan daya untuk memperbaiki.

"Di sini kami menggunakan kaidah "ma lam yudraku kulluhu, la yutraku julluhu" (kalau tidak bisa diambil secara keseluruhan ya jangan ditinggalkan semua). Artinya semininal apapun akses yang bisa digunakan harus dipakai untuk mencapai kebaikan daripa tidak berbuat sama sekali. Selain itu kami juga menggunakan kaidah "akhaffud doruroin" yaitu mengambil resiko bahaya terkecil dalam menggunakan musik untuk mencapai kemaslahatan yang lebih besar", demikian penjelasanku.

Selain ada ulama yang mengharamkan, toh masih ada juga ulama yang memperbolehkan musik dengan syarat dan ketentuan tertentu untuk mencapai kemaslahatan. Prinsip inilah yang digunakan Ganjur dalam bermain musik. Dan ini sesuai dengan prinsip Islam Nusantara.

"Inilah beberapa argumen yang membuat ki Ageng Ganjur terus menggunakan musik sebagai sarana dakwah. Selain bisa menunjukkan wajah Islam yang menyenangkan, cara seperti ini juga bisa membuat Islam lebih mudah diterima oleh semua lapisan masyarakat," aku menambahkan.

Malam itu acara ditutup dengan berjabat tangan bersama antara personil Ganjur dengan seluruh jamaah yang hadir. Suasana haru dan sedih saat berkumadang shalawat mengiringi acara salaman. Kami saling berpelukan sambil menumpahkan doa dan harapan agar bisa bertemu kembali.

Pagi hari beberapa orang datang melepas dan mengantarkan kami balik ke tanah air. Beberapa diantaranya ikut sampai bandara. Semoga silaturrahim dan persaudaraan ini membawa berkah dan manfaat. Di pintu gerbang pemberangkatan bandara Sciphol  kami kembali saling berpelukan dan melampaikan tangan untuk pamit pulang ke kampung halaman. Vaar wel, zie je later.... !!!

Add comment

Security code
Refresh