Opini
Amien Rais (Ist)

Klaim Amien Rais atas Partai Allah dan fitnah Partai Syaiton meramaikan politik nasional menuju Pemilu 2019. Mayjen TNI (Purn) Saurip Kadi, mantan Asisten Teritoral KSAD dimasa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid pada tahun 2000 dan Penulis buku “TNI-AD: Dahulu, Sekarang, dan Masa Depan” menyoroti fenomena Amien Rais ini dalam tulisan yang dimuat Bergelora.com (Redaksi)

Oleh: Mayjen TNI (Purn) Saurip Kadi

ALKISAH, saking jengkelnya melihat kelakuan manusia, akhirnya Syaiton bermaksud menghadap Tuhan untuk mengajukan pensiun dini. Alasan yang digunakan sangat valid, karena belakangan ini dirinya sudah kalah kreatif dalam berbuat kejahatan, alias kewalahan menghadapi ulah manusia yang diluar batas kesyaetonan, dan khawatir dirinya ketularan kelakuan manusia.

Dalam proposalnya, Syaiton kembali mengingatkan dialog antara Tuhan dengan dirinya dan juga Malaikat, yaitu ketika Tuhan hendak menjadikan Adam dari golongan manusia yang bunuh-bunuhan dan bikin kerusakan, untuk menjadi kholifah dimuka bumi, sebagaimana tertulis dalam Al-Qur’an.

Syaiton Sebagai Keseimbangan

Salah satu yang membikin Syaiton tersinggung, karena namanya dicatut untuk melabeli Partai Pendukung Jokowi, sebagaimana diungkapkan Amin Rais, untuk membedakan dengan Partai yang mengusung nama Allah sebagai dagangannya.

“Koq ada ya sekelompok orang yang ngeyel tak berkesudahan, gagal jualan issue PKI, SARA, Tenaga Kerja Cina, ASING-ASENG dan KAOS kini bisa-bisanya mencatut namanya Syaiton,” gumam Syaiton muda.

Apalagi dirinya disandingkan dengan Tuhan YMK yang menjadi junjungannya. Padahal dirinya saja, tidak akan pernah berani melakukan hal itu, koq Amien Rais berani amat, atau nekad yaa, gerutu Syaiton tua.

Kita harus tunduk patuh kepada Allah SWT untuk menjalankan perintah Nya, menggoda manusia sebagai mekanisme “cek and balance” atau “yin dan yang” dalam kehidupan. Jangan ada yang ragu-ragu, tugas ini adalah tugas suci langsung dari Tuhan, begitu wejangan Eyang Syaiton kepada cucu-cucunya.

Sumber Kejengkelan Syaiton

Sejujurnya, kejengkelan Syaiton bermula dari kelakuan Presiden Jokowi yang bikin bingung kaumnya. Bagaimana tidak, gara-gara Presiden Jokowi juga, anak cucunya banyak yang jobless, karena banyak praktek mafia dan kong kalikong masa lalu terhenti. Apalagi program infrastruktur kini banyak yang stagnan. Sebab sekonyong-konyong dihentikan oleh Presiden Jokowi sendiri, akibat aparatnya yang notabene “didikan” mafia peninggalan masa lalu, masih coba-coba korupsi.

Lebih repot lagi kasus mega korupsi seperti BLBI, Century, E-KTP dan belakangan di Pertamina dibongkar. Semua tokoh yang terlibat adalah karib dekatnya.

Akhirnya, birokrasi binaan mafia yang dari dulu menjadi mitra Syaiton, kini sedang wait and see, menunggu apakah Jokowi dalam Pemilu 2019 bakal menang lagi atau tidak. Kalau mereka nurut kepada Presiden Jokowi, berarti tidak nurut sama boss mafia yang memeliharanya sejak mereka muda.

Syaiton juga tersinggung, karena sebagian aparat birokrasi yang ada, merasa bahwa Presiden Jokowi “tidak berdaya”, karena dikepung oleh lingkaran kekuasaan yang jauh lebih dahsyat dalam mensiasati aturan main, jual-beli perkara dan kriminalisasi, yang juga kepanjangan tangan mafia.

Dan satu-satunya yang tidak habis dipikir oleh Syaiton, mengapa sudah 3,5 tahun masa pemerintahan Presiden Jokowi, koq untuk reformasi hukum dan birokrasi belum ada tanda-tanda perbaikan, moral aparatur birokrasi yang bobrok belum berubah, bahkan sebaliknya untuk sejumlah kasus, justru lebih buruk akibat kenekadan para aparatnya.

Jangan Jualan Agama

Syaiton menjadi kaget dan termangu-mangu ketika mendengar statemen Amien Rais yang berani-beraninya menggunakan nama yang diagungkan oleh makhluk alam semesta, yaitu Allah, Tuhan Yang Masa Esa, sebagai sebutan bagi partai-partai yang menjual agama, sebagai barang dagangannya.

Padahal sejahat-jahatnya Syaiton, tidak akan pernah berani menyamakan dirinya dengan Tuhannya. Dan bagaimana kelak kalau atas ijin Allah SWT, dalam Pemilu 2019 yang menang justru Capresnya Partai Syaiton. Bukankah itu bakal menjatuhkan nama Allah, Tuhan Yang Maha Besar dan Maha Agung. Nekad betul Amien Rais, komentar Syaiton.

Lanjutkan Amien Rais dengan rumus-rumus “persyaitonan” yang sesat, memang untuk jaman NOW dalam berpolitik rasanya gak pantes jualan agama. Tapi apalah arti sebuah nama karena yang penting hasilnya bisa membawa NKRI menjadi jaya untuk rakyat.

Add comment

Security code
Refresh