Opini
Hegel Terome, Pegiat Sosial di Yayasan Kalyanamitra. (Ist)

Ada apa dengan Rocky Gerung yang memelintir proses berpikir publik? Apa tujuan sesat pikir yang dibangunnya? Hegel Terome, Pegiat Sosial di Yayasan Kalyanamitra, yang tinggal di DKI Jakarta menyorotinya dalam tulisannya di Bergelora.com (Redaksi).

Oleh: Hegel Terome

HAMPIR sebulan ini di lini massa kata kunci ‘fiksi’, ‘kitab-kitab suci’ dan ‘fiktif’ sedemikian viral. Entah bagaimana kata-kata itu menjadi popular, yang jelas, semua bermula dari diskusi yang berlangsung di Indonesian Lawyers Club (ILC), 10 April 2018 di teve One. Pemicunya ternyata pernyataan Rocky Gerung mengenai fiksi dan kitab suci, di dalam debat tersebut. Dengan topik “JokowiPrabowoBerbalasPantun” sekilas diskusinya kelihatan menarik, sekalipun kontennya hanya pokrol bambu di awal tahun politik 2019.

Bagaimana kita harus menanggapi persoalan itu? Pertama-tama di sini harus kita luruskan pengertian tentang diksi ‘fiksi’ dan ‘kitab suci’ serta ‘imajinasi’ yang begitu menggelitik publik yang mengekpos masalah ini. Fiksi yang dimaksudkan Rocky Gerung adalah pengertian yang dia definisikan sendiri, dan tidak mengacu kepada kamus bahasa Indonesia yang ada, karena dia menganggap kata itu sudah mengalami degradasi makna (peyoratif), bahkan cenderung menjadi fiktif. Apabila kita mengacu kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tentu arti kata fiksi dan fiktif itu menjadi terang jelas benderang. Kemudian, dia juga mengaitkan fiksi dengan kitab suci, misalnya kitab mahabrata. Yang lebih konyol lagi, dia menyatakan bahwa fiksi bisa menggerakkan imajinasi.

Pertanyaannya, ada apa dengan Rocky Gerung yang memelintir proses berpikir kita?

Entah benar atau bergurau, peserta diskusi memanggil Rocky Gerung dengan sebutan ‘profesor’. Namun, bila benar beliau seorang profesor, maka kita harus meragukan panggilan itu. Oleh karena, seorang profesor dianggap orang yang mumpuni dalam ilmunya, atau mahaguru, resi. Mahaguru adalah orang yang tahu duduk perkara yang diperdebatkan atau dibahasnya atau dipikirkannya. Akan tetapi, dari kejadian yang ada itu setidaknya kita bisa melihat bahwa sebutan profesor tidaklah tepat disematkan kepada Rocky Gerung (?)

Rocky Gerung sepintas lalu dalam pokrol bambu itu seperti perdebat kalangan sophis pada zaman Yunani, ketika Socrates hidup. Kaum sophis bersilat lidah dan memutarbalik kata-kata, bahasa, kejernihan berpikir. Meskipun premis-premis yang mereka bangun tampak benar secara logis, namun konklusi yang mereka tarik, tiba pada kesesatan. Kesalahannya bisa pada pembentukan premis-premis logis, bisa pada hukum-hukum penarikan kesimpulannya, bisa kemungkinan ketiga, yaitu posisi kepentingan subjek yang melampaui segala norma kepatutan dan kesahihan karena kehendak berkuasa.

Publik pun sudah memberikan pendapatnya untuk menanggapi pernyataan Rocky Gerung yang seolah-olah cerdas, namun koherensi dan konsistensi berpikirnya patut dipertanyakan. Ada orang yang melihat pernyataan Rocky Gerung dari segi sebagai keliaran berpikir ala filsuf yang dituntut berpikir radikal; ada orang melihatnya dari aspek kebebasan berpendapat, bahkan ada orang memotret ucapan Rocky Gerung sebagai bentuk penistaan agama. Ada pula yang mempertanyakan titik-pijak kepentingan politik Rocky Gerung (menilik teori mazhab Frankfurt) ketika mengungkapkan pernyataannya. Orang yang belajar teori kanonik, mencerca Rocky dengan ketidaktahuannya dalam memahami kitab suci (kanon artinya kitab yang memuat kebenaran tradisi suci, bukan fiksi apalagi fiktif).

Barang tentu, sepenuhnya kita bisa menempatkan masing-masing pendapat publik itu pada posisinya masing-masing dengan argumentasi-argumentasinya, sebagai tanggapan terhadap pernyataan Rocky Gerung yang menjadi viral di lini massa tersebut. Namun, mari kita kritisi substansi pernyataan Rocky Gerung tersebut dalam sorotan cahaya pemikiran yang lebih jernih dan benderang. Mari kita tidak lagi terjebak dalam kata-kata, lebih cerdas, dan apalagi terperosok dalam kata-kata kosong.

Apa yang harus kita cermati menyangkut pengertian fiksi dan kitab suci yang telah dilontarkan oleh Rocky Gerung itu? Apabila kita kembali kepada pencerahan teori epistemologis, misalnya empirisme, maka sadarlah kita bahwa hidup kita yang bergelora ini berisi dan memuat pengalaman-pengalaman inderawi. Tidaklah seluruh pengalaman inderawi kita akan membentuk pemikiran-pemikiran pada diri kita, namun hanya pengalaman-pengalaman yang khas yang mendorong tumbuhnya gagasan-gagasan pada diri kita. Gagasan-gagasan yang terus-menerus bertumbuh (ide-ide generatif) akan terbentuk pada akal budi kita, apabila impresi-impresi aktual inderawi kita yang kita lakukan sehari-hari kita proyeksikan ke dalam akal budi kita menjadi gambaran-gambaran dan kisah-kisah. Proyeksi ini merupakan proses-proses asosiasi, rekognisi, konstruksi, dan lainnya. Tanpa proses proyeksi, maka semua pengalaman inderawi yang kita hasilkan tidak akan bermakna. Berangkat dari proses epistemologis inilah, maka terbentuk imaji-imaji, kesan-kesan, dan fantasi-fantasi.

Apa yang disebut Rocky Gerung bahwa fiksi yang menggerakkan imajinasi, maka pernyataan ini salah dan keliru sama sekali, karena studi psikoanalisis (baca Sigmund Freud), psikologi Gestalt (Kohler) dan psikogenetika, yang membuktikan bahwa fantasi-fantasilah yang membentuk imaji-imaji, kesan-kesan (imajinasi). Fantasi-fantasi pulalah yang telah menggerakkan manusia zaman primitif dalam membayangkan betapa misterius dan sakralnya dunia ini (kosmos) atau pun  dunia yang transenden (dewa, tuhan, dan sebagainya). Selain fantasi-fantasi, maka ada simbolisme mimpi yang bisa menggerakkan imajinasi-imajinasi manusia.

Studi mengenai mitologi juga menunjukkan bahwa kesadaran manusia primitif digerakkan oleh fantasi-fantasi, mimpi-mimpi, hasrat-hasrat, naluri-naluri, emosi-emosi, yang mengepung dan melingkupi  hidup mereka yang mendorong mereka untuk menciptakan kisah-kisah atau cerita-cerita suci atau kudus mengenai asal mula dunia, tuhan, manusia, tumbuhan, binatang, dan lainnya. Narasi-narasi mitis tersebut secara logis mungkin terlihat seperti fiksi, meskipun secara substansial kebenaran-kebenaranya adalah nyata, namun tidak usah kita benturkan dengan kebenaran-kebenaran sains (logis). Kisah Mahabrata, kitab suci, merupakan perkembangan lebih tinggi dari tradisi mitis, karena usaha kontemplasi sudah termuat di dalam narasi-narasi kitab-kitab suci. Secara historis, dalam perkembangan agama-agama juga diperlihatkan, bahwa kitab-kitab suci sebagai narasi-narasi mitis memuat kebenaran-kebenarannya sendiri sebagai hasil simbolisasi akan yang sakral dan upaya kontemplasi yang berjalan ribuan tahun. Kitab-kitab suci bersifat kontinuitas karena sepanjang masa dia selalu diisi dengan konteks-konteks sejarah kehidupan masyarakat yang menopangnya atau meyakininya (konteks sastra, moral, etik, dan sebagainya). Dengan demikian, narasi-narasi mitis kitab-kitab suci bukanlah fiksi apalagi fiktif, karena kejadian-kejadiannya dan peristiwa-peristiwanya sudah berlangsung, tengah berlangsung, dan akan menuju masa depan pengungkapan atau tujuannya (teleologis).

Jadi, fantasi dan narasi-narasi mitis kitab-kitab sucilah yang selalu menggerakkan imajinasi manusia sejak dulu kala hingga kini. Dan hal ini berlawanan dengan pandangan Rocky Gerung yang tidak menyandarkan dirinya pada studi-studi mengenai mitologi dan simbolisme, termasuk pijakan epistemologi semisal empirisme. Bangunan pemikiran yang jernih tersebut tentu tidak kita temukan dalam pemaparan Rocky Gerung tersebut, sehingga mungkin bisa kita artikan bahwa dia telah mengalami kesesatan berpikir, bahkan keserampangan dalam berpikir! Walahualam!

Add comment

Security code
Refresh