Opini
Presiden Joko Widodo dalam satu kunjungan kerja di desa beberapa waktu lalu. (Ist)

Paradigma tentang seorang pemimpin terjungkilbalik, saat Indonesia memiliki seorang pria dari rakyat sipil biasa bernama Joko Widodo (Jokowi) membuktikan dirinya bisa menjadi Presiden Republik Indonesia dan memimpin bangsanya keluar dari berbagai kesulitan warisan masa lalu. Ia mengalahkan para singa panggung dan kegagahan seorang jenderal karena menjadi cermin profil rakyat kebanyakan. Ia bukan elit politisi salon yang enggan mengotori dirinya melayani rakyat, namun yang selalu datang menyapa dalam kesusahan. Muhammad Yamin, Ketua Umum DPN Seknas Jokowi berusaha merumuskan kekuatan seorang pemimpin bernama Jokowi dan meuliskannya buat pembaca Bergelora.com. (Redaksi)

Oleh: Muhammad Yamin, SH.

SAYA orang yang termasuk meyakini, haqqul yakin, Presiden Joko Widodo akan kembali memimpin Republik Indonesia untuk periode kedua (2019-2024). Bukan karena semata saya pendukung beliau, tapi disebabkan karakter, kepribadian, dan perilaku Jokowi adalah cerminan jiwa bangsa Indonesia.

Dalam pengamatan saya, setidaknya ada lima karakter personal dan perilaku Jokowi yang mencerminkan jiwa bangsa itu. Kita sebut saja ”panca-laku" Jokowi.

Pertama, kesederhanaan yang genuine alias tidak dibuat-buat. Kesederhanaan sejati itu merupakan pancaran hati yang jujur dan sikap yang adil.

Kedua, perilaku blusukan yang telah dilakoninya sejak menjabat Walikota Solo, Gubernur DKI Jakarta, hingga Presiden RI. Tentunya intensitas dan format blusukan itu berbeda-beda, disesuaikan dengan jabatan yang disandangnya. Tapi, yang pasti blusukan itu merupakan pancaran jiwa kerakyatan sejati.

Ketiga, santun dalam berkata-kata. Saat berpidato atau ceramah resmi kenegaraan maupun ucapan spontanitas, Pak Jokowi tak pernah menyerang lawan politiknya dengan kata-kata yang kasar. Sekalipun ia kerap diserang dengan berbagai macam fitnah/hoax maupun hujatan, kalimat dan ujarannya selalu santun, jelas, dan terukur. Perilaku ini merupakan cerminan kebersihan hati sekaligus kematangan berpolitik yang nyaris paripurna.

Keempat, anti-nepotisme. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Jokowi melarang sanak-keluarganya terlibat dalam kekuasaan. Ia juga melarang keras anak-anaknya berbisnis yang terkait anggaran negara. Dan anak dan menantunya pun mematuhi larangan itu, dengan memilih berjualan martabak, pisang, dan membuka kedai kopi.

Kelima, karena karakter dan lakunya yang mencerminkan jiwa bangsa itu, pengikut setia dan militan Jokowi makin hari bertambah besar. Mereka itulah relawan Jokowi yang siap bergerak membela dan mendukung sang jiwa bangsa.

Tentu, sebagai manusia, Pak Jokowi tak lepas dari kekurangan. Tapi kekurangan itu tak menutupi kebesaran jiwa dan keteguhan sikap untuk selalu mendahulukan kepentingan rakyat.

Sosok/karakter personal yang telah menjelma jiwa bangsa, dan telah tertanam kuat dalam sanubari rakyat Indonesia itu tak akan bisa dikalahkan oleh koalisi para elit politik yang bertopang terutama pada dana besar dan mesin hoax/fitnah. Betapapun besar dana yang digunakan untuk melawannya, serta betapapun hebat fitnah dan ejekan yang dihujamkan kepadanya. Semua itu justru akan membuat Pak Jokowi bertambah kuat, karena sumber kekuatan utamanya adalah rakyat Indonesia.

Jadi, sekali lagi, saya sih yakin, haqqul yakin, Jokowi tak akan terkalahkan dalam pilpres tahun depan! Bagaimana dengan anda?

Add comment

Security code
Refresh