Opini
Upacara Kahariingan di Kalimantan. (Ist)

Agama seharusnya semakin membawa peradaban lebih maju bagi bangsa Indonesia. Namun seringkali justru agama-agama impor yang masuk ke Indonesia justru menarik mundur peradaban. Dari Bengkayang, Kalimantan Barat, Aju, wartawan senior Sinar Harapan menuliskan kepada Bergelora.com. (Redaksi)

 

 

Oleh: Aju

MUNCUL dikotomi Dayak Islam dan Nasrani (Protestan dan Katolik), atau Hindu atau Budha atau Kaharingan, pada dasarnya korban hegemoni agama impor di Indonesia, sebagai keprihatinan para budawayan dan tokoh agama di hadapan Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sabtu, 3 Nopember 2018.

Dalam terminologi budaya, dipahami, kebudayaan melahirkan agama, agama adalah produk budaya. Kebudayaan masyarakat pada satu kawasan kemudian terbukti melahirkan agama bumi, agama tradisi besar, agama samawi (agama berdasarkan wahyu seperti Agama Katolik).

Harus diakui kalau bicara masalah Agama Katolik dan Protestan, harus bicara masalah akar budaya Yahudi, dan sebagainya.

Indonesia, sendiri sudah memiliki agama asli, sebuah aliran agama yang lahir dari kebudayaan sendiri. Di antaranya Agama Kaharingan yang lahir dari Kebudayaan Suku Dayak, Agama Kejawen lahir dari Kebudayaan Suku Jawa dan sebagainya.

Putusan hakim Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia di Jakarta, Selasa, 7 Nopember 2017, berupa pengakuan terhadap aliran kepercayaan, implikasi lebih luas dari pengakuan terhadap agama asli Bangsa Indonesia.

Permasalahan yang terjadi sekarang, muncul sikap intolerans antara kelompok nasionalis dan penganut paham kekhilafahan, dan muncul pengkotakan berdasarkan agama impor yang dianut, karena masyarakat Indonesia sendiri terlalu mendewakan agama impor.

Padahal agama impor, adalah produk kebudayaan luar. Indonesia, memiliki kebudayaan sendiri, dengan aplikasi peradaban akrab dengan alam, lehulur, sebagai mana sumber peradaban Bangsa-Bangsa di Asia, yaitu hormat kepada lehulur, hormat kepada orangtua, di samping hormat kepada negara.

Malah tiga prinsip dasar dalam berperilaku Bangsa Asia di atas, telah menjadi ideologi fundamental di China, dimana sekarang negara itu, berhasil menjadi negara maju dalam berbagai aspek peradaban.

Indonesia, kalau masih mendewakan agama impor, maka itu, merupakan awal dari sebuah kehancuran. Karena terlalu memaksakan agama impor sebagai sumber peradaban baru yang tidak sesuai dengan kebudayaan sendiri.

Padahal, dalam pemahaman universal, agama boleh berubah, tapi identitas kebudayaan diri sebagai bagian dari salah satu suku bangsa di Indonesia tidak akan berubah.

Ada catatan mendasar persoalan sikap kenegarawan diperlihatkan Panglima Komando Patriot Garuda Nusantara (PGN) KH. Nuril Arifin (Gus Nuril) dan anggota Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (F-PKB) Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) yang sekarang Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor.

Gus Nuril dan Gus Yaqut, dalam kiprah kesehariannya berhadap-hadapan dengan kaum intolerans pendukung Front Pembela Islam (FPI), Hizbut Tahir Indonesia (HTI), penganut paham Ikhwanul Muslimin/Wahabi yang berkolaborasi dengan patut diduga salah satu partai politik, pada dasarnya kedua tokoh nasional ini berjuang segenap komponen masyarakat, agar kembali identitas diri bangsa Indonesia, jatidiri Bangsa Indonesia.

Agama impor harus dan atau boleh diimani, tapi tidak boleh didewakan sebagai sumber perababan tunggal, sebagai sumber peradaban baru. Peradaban asli Bangsa Indonesia, adalah kebudayaan asli, agama asli, sebagai jatidiri Bangsa Indonesia.

Kalau ada orang Dayak masih melakukan dikotomi antar mereka yang memeluk Agama: Islam, Nasrani, Hindu, Budha dan Konghucu, berarti tanpa sadar, mereka, merelakan diri menjadi korban hegemoni agama impor. (Aju)

Add comment

Security code
Refresh