Opini
Ariana Grande dalam video clip God Is A Woman. (Ist)

Sekali lagi gender Tuhan ribut dibicarakan. Ariana Grande-Butera dalam lagunya ‘God Is A Woman’ telah memancing perdebatan. Penyanyi dan aktris berkebangsaan Amerika Serikat ini bahkan dituduh telah melecehkan Tuhan. Tulisan Amos Ursia, seorang pelajar SMA di Bandung mengupasnya secara singkat dan to the point tapi sangat dalam di Kompasiana.com dan dikutip Bergelora.com (Redaksi)

 

Oleh: Amos Ursia

 

You, you love it how I move you

You love it how I touch you

My one, when all is said and done

You'll believe God is a woman

And I, I feel it after midnight

A feelin' that you can't fight

My one, it lingers when we're done

You'll believe God is a woman

 

Yeah, yeah

(God is a woman, yeah)

My one

(One)

When all is said and done

You'll believe God is a woman

You'll believe God

(God is a woman)

Oh, yeah

(God is a woman, yeah)

(One)

It lingers when we're done

You'll believe God is a woman

 

(Kutipan lirik "God Is a Woman")

Beberapa bulan lalu, teman teman saya meributkan lagu "God is a Woman" karena dianggap menistakan Tuhan. "Masa Tuhan itu cewe? Tuhan itu suci, gak bisa dibilang memiliki jenis kelamin!"

Lagi lagi, masalahnya ada dalam pemaknaan dan penafsiran. Kadang kita terlalu cepat terpancing emosi hingga tidak bisa berpikir dan melakukan analisis. Lagu ini menurut saya bukan penistaan, lagu ini adalah metafora dan rekonstruksi teologis terhadap Tuhan dan (anggapan) gendernya. Mbak Ariana Grande pun sebenarnya tidak sekedar bikin lagu, ada makna makna simbolik yang ia ingin suarakan.

"Gender Tuhan itu apa ya? Cowo atau cewe?"

Pertanyaan ini bukan pertanyaan biasa, pertanyaan ini adalah perbincangan dalam teologi selama ribuan tahun, dan akhir akhir ini dikaji kembali melalui feminis. Tuhan itu tidak memiliki gender, Tuhan itu ILAHI, Roh yang Mahakuasa, dan pada hakikatnya tidak bisa digambarkan seperti manusia. Saya akan menjelaskan ini dengan perspektif agama samawi (Abrahimik) dan perspektif agama tradisi Bugis pra Islam.

"Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya, dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya". (QS. as-Syura: 11)

(He is) the Creator of the heavens and the earth: He has made for you pairs from among yourselves, and pairs among cattle: by this means does He multiply you: there is nothing whatever like unto Him, and He is the One that hears and sees (all things). (QS. as-Syura: 11)

"Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." (Yohanes 4:24)

Dalam agama Yahudi, Tuhan digambarkan secara metafor, dengan sebutan "Bapa", "Raja", dan "Tuan".

Dalam mengawali sebuah doa, seorang Yahudi mengucap kalimat "barukh atah adonai (blessed are you, Lord)". Tetapi, kadang kali penyebutannya menjadi  "b'rukhah at shekhinah” . Blessed are you, Shekhinah yang diasosiasikan dengan "sifat feminim" dari Tuhan, kata "shekhinah" adalah metafora feminim daripada Adonai (Tuhan) itu sendiri.

The real God was Adonai. We seemed to be taking the name for God too seriously, as though it were as legitimate as theirs. Or as though theirs was only a name--a metaphor, that is--just like ours, as though they didn't really mean "he" when they said "He" (Mengutip essay dari  Marcia Falk - God Language and Liturgy)

Bukan berarti Tuhan bergender laki laki. Tetapi Tuhan digambarkan secara metafor. Memang, beberapa istilah selalu menggambarkan Tuhan dengan maskulinitas. Apalagi dengan hukum tata bahasa yang patriarkis Sehingga menimbulkan asumsi bahwa Tuhan bergender laki laki.

Dalam Al Quran, kata ganti bagi Tuhan adalah Huwa yang berarti laki-laki atau He dalam bahasa Inggris. Begitu pula dengan Alkitab dan Taurat, kata ganti Tuhan dalam tata bahasa Ibrani dan Yunani menjadi maskulin. Maka dari itu dalam Alkitab terjemahan bahasa Inggris, kata ganti Tuhan adalah He. Tetapi sekali lagi, ini adalah sebuah metafora teologis dan perkara hukum tata bahasa saja, pada hakikatnya Tuhan dalam agama samawi adalah ILAHI dan SUCI.

Tetapi yang menarik, kalau Ariana Grande jalan-jalan ke Bugis, ia akan melihat sebuah realita budaya yang menarik dari agama tradisi Bugis kuno pra Islam. Dalam agama tersebut, pemuka agamanya adalah Bissu. Para Bissu inilah yang memimpin upacara adat dan menjadi penasihat spritual bagi raja. Bissu pula yang menguasai bahasa Torilangi, yaitu bahasa yang menghubungkan Parahiyangan (dunia atas) dan Paratihi (dunia bawah). Hanya Bissu lah yang bisa menghubungkan manusia dengan Dewatae (Tuhan) melalui bahasa Torilangi.

Bissu bukan laki laki dan bukan pula perempuan, Bissu berdandan seperti perempuan, berfigur feminim dengan kulit halus dan licin seperti perempuan. Identitas gender ini sangat jelas, dan menurut mereka bersifat kodrati sesuai kodrat Tuhan yang ILAHI itu.

Bahwa kodrat gender manusia pun dari Tuhan, dan menurut konstruksi kultur mereka, stereotip maskulinitas - femininitas seharusnya tidak memenjarakan kita, karena persoalan-persoalan patriarki tidak akan selesai, dan perempuan semakin dirugikan.

"Bissu Temmakkunrai tengurane, iga missenggi Bissue naissettennitu Dewatae". Yang berarti, Bissue bukan laki laki, bukan pula perempuan. Siapa yang mengetahui identitas (gender) Bissu, maka dia mengetahui pula identitas dari Dewatae (Tuhan). Tentang klasifikasi gender dalam budaya Bugis pun menarik, karena tidak sebatas maskulin dan feminim, ada calabai. Akan saya bahas lain kali.

Menurut penafsiran saya, inilah yang ingin Ariana Grande suarakan secara simbolik, yaitu sisi feminim Tuhan. Paternalisme seringkali menyudutkan perempuan, perempuan hanya "penolong" laki laki. Ia tidak bisa menjadi imam atau pemimpin, sehingga dianggap kurang penting.

Ariana Grande bukan menyuarakan gender Tuhan adalah perempuan, tetapi ia menyampaikan (secara implisit) bahwa Tuhan pun harus dialami dalam kacamata feminim, tidak selalu maskulin. Seharusnya, pemahaman teologis yang mendalam dari kaum beragama pun akan mencerminkan keadilan seadil-adilnya kepada perempuan. Pemahaman teologis yang  mendalam pasti tidak akan menghasilkan sikap patriarki, bias gender, dan bersikap represif terhadap perempuan.

Mengutip Om Remy Sylado, bahwa asal usul kata perempuan itu sendiri dari kata "empu". Empu adalah guru dan intelektual berpengaruh pada tradisi Jawa kuno. Empu adalah penulis kitab, penasihat raja, bahkan pembuat pusaka keris. Perempuan adalah sumber dari segala empu. Perempuan pencipta empu dan kehidupan. Empu dari segala empu adalah perempuan.

Bagi saya, "God is a Woman" bukan penistaan. Saya memaknai lagu, syair, dan video musik Ariana Grande sebagai bahan kritik terhadap sikap dan iman saya sendiri. Apakah iman saya benar benar menghasilkan keadilan bagi perempuan? Sebagai seorang beragama, apakah kita menghargai perempuan seperti empu? Sudahkah?

Referensi:

1. Al Quran. Terjemahan Bahasa Indonesia dan Inggris.

2. Alkitab. Terjemahan Bahasa Indonesia.

3. "God Language and Liturgy" oleh Marcia Falk. Sh'ma (17/325) 9 Januari 1987.

4. "Perempuan di Hadapan Tuhan: Pemikiran Feminisme Fatimah Mernissi." oleh M. Rusydi. Jurnal Al-Ulum, 2013.

5. "Bissu: Menggugat Maskulinitas dan Femininitas" oleh Bisri Effendy dan Ijhal Thamaona. Jurnal Srinthil 5, 2003.

6. "Puang Temmi: Calabai itu Ketentuan Tuhan" oleh Ijhal Thamaona. Jurnal Srinthil 5, 2003.

Add comment

Security code
Refresh