Wawancara
Afnan Malay. (Ist)

Kekalahan capres dan cawapres Joko Widodo – Ma’aruf Amin di Sumatera Barat menimbulkan berbagai spekulasi. Sampai saat ini belum ada kejelasan tentang kekalahan tersebut. Budayawan Afnan Malay mengulasnya buat pembaca Bergelora.com. (Redaksi)

Oleh: Afnan Malay

SUMATERA BARAT atau Minang itu unik, kalau bukan anomali. Di grup-grup WA orang Minang; terkait pilpres, mereka justru bangga bisa memilih Prabowo dan menghempaskan Jokowi. Kenapa?

Ini alasan yang dipakai. Idealisasi kepemimpinan bagi orang Minang adalah takah (tampang),  tageh (tegas) dan tokoh (bisa juga karena garis keturunan).  Benar kah itu satu-satunya sosok iseal yang diterima orang Minang? Peforrma luar boleh jadi iya. Itu mereka persepsikan relatif pas dengan figur Prabowo.

Tapi yang dilupakan atau tepatnya disembunyikan. Orang Minang itu, menempatkan posisi pepimpin, kedudukannya adalah: ditinggikan seranting didahulukan selangkah. Jadi, bukan figur yang sedemikian tinggi (tingginya cuma seranting) dan berjarak (didahulukan cuma selangkah). Sosok seperti itu klop pada diri Jokowi.

Lalu, apakah karena faktor agama jadi dominan yang berhasil diglorifikasi kubu 02? Mungkin. Tapi sepanjang Orde Baru, apakah PPP pilihan orang Sumatera Barat notabene dulunya basis Masyumi?  Sama sekali tidak! Suara mereka berlabuh ke Golkar.

Anomali yang lain, pilpres barusan mereka  gembar-gembor, kita harus ikuti apa kata ulama: hasil ijtimak ke 02. Hanya saja, sejak kapan orang Minang begitu tunduk, kalau bukan takluk,  dengan ulama? Hormat kepada ulama, iya. Tradisi ruwahan, yasinan, khaul, istigotsah, yang menempatkan ulama (ustad) sebagai tokoh sentral adalah model keberislaman di Jawa. Sosok ulama bagi orang Minang berbagi dengan sosok yang lain: umara (pemimpin formal pemerintahan) dan cerdik pandai (kaum intelektual). 

Jangankan kepada ulama, terhadap orangtua pun, orang Minang itu terbiasa hidup egaliter. Saking egaliternya,  bahkan, tradisi menyalami orangtua tidak kental. Apalagi, sampai cium tangan segala.

Bagi mereka, itu agak berlebihan, lebay. Masak anak tidak mencintai orangtuanya?

Barangkali, itulah kenapa ada kisah Malin Kundang, semacam curhat rasa kesepian orangtua, terutama ibu (matrilinial) akibat terlalu egaliter.

Lantas kenapa Minang berubah? Itulah soalnya, Minang sudah lama kehilangan jati dirinya. Pluralisme (pikiran) dulu tumbuh subur (Tan Malaka/komunis, M Yamin/Nasionalis, Bung Hatta dan Sutan Sjahrir/sosialis, Isa Anshari/fundamentalis) seperti alam Sumatera Barat, sekarang terasa tandus. Ini jelas anomali, karena orang Minang  meyakini pada prinsip basilang kayu di tungku di situ makonyo api rancak iduik  (bersilang kayu di tungku baru nyala apinya bagus). Silang pendapat itu mencerahkan. 

Sekarang, agaknya, orang Minang jarang menggunakan tungku untuk memasak. Semuanya sudah pakai kompor gas. Jadi, sudah terbiasa hidup dengan cara berpikir yang seragam. Dan, tentunya, semakin gasnya besar, semakin gampang mereka tersulut! 

Add comment

Security code
Refresh