Wawancara

Djoko Waluyo dan istri (Ist)Djoko Waluyo dan istri (Ist)JAKARTA- Ribuan kaum diaspora Indonesia tersebar di seluruh belahan dunia. Mereka bekerja, belajar atau bahkan tinggal dan hidup di negeri orang. Bergelora.com bekerjasama dengan Gerakan Kebaikan Indonesia (GKI) menurunkan kisah-kisah mereka yang sudah dimuat di http://www.kabar-rantau.com/

Djoko Waluyo berusia 62 tahun dan sudah 37 tahun berada di rantau, membuat orang tak lagi mempertanyakan pengalaman hidup Djoko Waluyo. Pria kelahiran Surabaya yang lama tinggal di Meksiko ini pernah menjadi eksekutif di berbagai perusahaan seperti Kendall,Co; Fisher Price; Ford; GM , Chrysler, Basset Walker, Nike, Hanes. Dia pernah memiliki perusahaan assembling MEXINDO yang mengerjakan produksi untuk perusahaan di Amerika Serikat menggunakan tenaga kerja Meksiko.

Sejak 2000, Djoko mulai usaha di bidang Konsultan Pengembangan Bisnis dan membantu KBRI Mexico City mengembangkan bisnis Indonesia dengan Meksiko dan negara-negara Amerika Latin lainnya, karena ketika itu Indonesian Trade Promotion Center ( ITPC) di Meksiko tutup.

Djoko memang menikahi perempuan Meksiko dan tinggal di negara tetangga Amerika Serikat itu. Namun, ikatannya dengan Indonesia tak pernah kendor. Dia melihat persamaan nasib antara buruh migran Meksiko dengan yang ada di Indonesia, yaitu nyaris tanpa jaminan masa tua. Untuk itu, Djoko punya keinginan menerapkan program pemberdayaan buruh migran di Indonesia agar mereka memiliki masa depan yang lebih sejahtera.

Universitas Kehidupan

Ijinkan saya, Djoko Waluyo, arek Suroboyo kelahiran Jalan Dokter Soetomo 26 depan Gereja Kathedral pada 1953, mengemukakan isi hati untuk tanah air Indonesia.

Sebagai perantau --sejak 1978 menetap di Meksiko dan Amerika Serikat—satu hal yang saya pelajari hidup di rantau: selain belajar di perguruan tinggi, yang juga penting adalah berguru di ‘Universitas Kehidupan’. Jika ingin sukses berkarya dan berjuang di negara asing (monco negoro) orang harus selalu belajar menyesuaikan diri, up grade pengetahuan.

Sedangkan untuk menjadi lebih maju atau mendapatkan posisi tinggi diantara orang bule, kita harus selalu belajar kepemimpinan sesuai budaya kerja, budaya bisnis dan kepemimpinan di negara tempat bekerja. Saya mengatakan ini, berdasar pengalaman dengan menjabani pendidikan di bidang teknik, administrasi bisnis, keuangan, manajemen sumber daya manusia serta tekat yang tak pernah lekang.

Hasilnya, saya pernah mencapai posisi sebagai eksekutif di berbagai perusahaan seperti Kendall,Co; Fisher Price; Ford; GM, Chrysler, Basset Walker, Nike, Hanes. Sedangkan di Meksiko saya pernah memiliki perusahaan assembling MEXINDO yang mengerjakan produksi untuk perusahaan di Amerika Serikat menggunakan tenaga kerja Meksiko.

Sejak 2000, saya mulai perusahaan dibidang Konsultan Pengembangan Bisnis dan membantu KBRI Mexico City mengembangkan bisnis Indonesia dengan Meksiko dan negara-negara Amerika Latin lainnya. Karena ketika itu Indonesian Trade Promotion Center ( ITPC) di Meksiko tutup. Karena saya lama hidup di rantau, dan kebetulan saya hidup di negara yang menjadi tempat buruh migran ke Amerika Serikat, saya ingin sekali lebih banyak bergerak dalam pemberdayaan tenaga kerja Indonesia di luar negeri.

Memikirkan masa depan buruh migran Indonesia yang tidak memiliki pensiun atau jaminan masa tua, saya merasa khawatir. Karena itu, saya sedang menyiapkan program Svarna Pintar, yang intinya merupakan program tabungan hari tua untuk tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Caranya adalah dengan melakukan pendampingan usaha bagi mereka sehingga mereka bisa lebih berdaya secara ekonomi.

Pelatihan-pelatihan yang tepat bisa sangat membantu mereka mencapai taraf hidup lebih baik serta bisa memanfaatkan pengalaman mereka ketika di luar negeri. Belajar dari ‘Universitas Kehidupan’, itulah intinya. (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh