Wawancara

Ketua Forum Bidan Desa (Forbides) PTT Propinsi Aceh, Bidan Siti Zuhra dalam orasi dan doa saat aksi di depan Kementerian PAN & RB September 2016 (Ist)Ketua Forum Bidan Desa (Forbides) PTT Propinsi Aceh, Bidan Siti Zuhra dalam orasi dan doa saat aksi di depan Kementerian PAN & RB September 2016 (Ist)JAKARTA- Sore itu Siti Zuhra barusan turun dari mobil komando, setelah melakukan orasi membakar semangat perjuangan massa bidan desa yang tergabung dalam Forbides (Forum Bidan Desa) PTT. Mereka sedang memperjuangkan hak menjadi PNS di Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negera dan reformasi Birokrasi (PAN dan RB), September 2016 lalu. Bergelora mendapat kesempatan mewawancarainya.

Bidan Siti Zuhra (34 tahun) anak ke 2 dari almahum Zulkifli Muhammad dan Cut Nurul Azqin sudah 12 tahun melayani masyarakat desa. Ketua Forbides Propinsi Aceh ini menyelesaikan pendidikan di Akademi Kebidanan Moda, di Banda Aceh.

“Awal pertama Surat Keputusan Pegawai Tidak Tetap (SK PTT) saya ditempatkan di Pulo Aceh Kabupaten Aceh Besar di daerah yang sangat terpencil. Tidak ada listrik, hidup dari jam 6 sore sampai jam 10 dan susah dapat air bersih,” ia mengenang.

Untuk mencapai desa tempat bekerja Bidan Siti Zuhra harus menempuh perjalanan panjang dan berliku. Semua yang tidak terbayangkan oleh masyarakat perkotaan, apalagi yang tinggal di Jakarta.

“Perjalan ke daerah tersebut 2 jam perjalanan di laut harus naik perahu nelayan. Walaupun dalam keadaan seperti itu saya sangat iklas menjalankn tugas saya sebagai bidan desa,” ujarnnya

Pernah sebuah perjalanan tugas sebagai bidan desa, ia mengalami kecelakaan yang hampir merengut nyawanya. Tentu bukan pekerjaan yang mau dijalani oleh PNS yang ada di kota-kota besar. Apalagi sudah mengenyam kemewahan.

“Saat itu nyawa saya hampir melayang karena numpang di mobil orang yang kemudian jatuh ke jurang. Untung masih bisa diselamatkan,” jelasnya,

Panggilan tugas sebagai bidan desa tidak mengenal batas waktu. Ketika malam hari mendapat panggilan keluarga pasien Siti Zuhra tidak bisa menolak.

Aksi bidan desa yang tergabung dalam Forbides menuju Istana Negara, September 2016 (Ist)Aksi bidan desa yang tergabung dalam Forbides menuju Istana Negara, September 2016 (Ist)“Setiap perjalanan malam cukup menegangkan. Disana sini banyak ditemui babi 2 hutan liar. Tapi saya tidak takut karena tetap semangat menjalankn tugas saya sebagai bidan desa,” ujarnya.

Setelah bertugas di daerah terpencil itu selama 2 tahun Siti Zuhra menikah. Dalam keadaan hamil pun ia harus tetap siap melayani pasien yang membutuhkan.

“Saya sempat pendarahan saat bertugas karena jalan yang dilalui berbatu-batu. Dalam keadaan pendarahan saya harus pindah ke desa terpencil Desa Paya Ue, Kecamatan Blang Bintang, Aceh Besar. Di desa ini saya bertugas sebagai bidan desa sampai saat ini,” kisahnya.

Walau di desa sangat terpencil saat ini, Bidan Siti Zuhra sangat menikmati tugasnya. Pos Kesehatan desa (Poskesdes) yang buka 24 jam kini menjadi tempat rumah tempat tinggalnya. Di Poskesdes Bidan Siti Zuhra melayani pasien secara cuma-cuma. Dokter hanya ada di Puskesmas di Kecamatan. Rumah sakit terdekat dapat dicapai 45 menit dari Poskesdesnya.

“Tidak persoalan. Yang penting saya dekat dengan masyarakat. Saya harus siap dipanggil masyakarakat yang membutuhkan kapan saja. Karena hanya saya petugas kesehatan terdekat di daerah itu,” jelasnya.

Bidan Siti Zuhra menceritakan berbagai penyakit yang biasa diderita masyarakat setempat berupa diare, ispa (infeksi saluran pernapasan akut), hipertensi dan asma. Belum ada bantuan untuk menambah alat dan fasilitas kesehatan.

“Masalahnya alat kesehatan yang saya miliki sangat kurang. Ruangan persalinan sangat tidak layak dan tidak nyaman bagi  pasien yang akan melahirkan. Kalau ada yang melahirkn lebih dari satu orang, sudah tidak ada tempat yang cukup, karena sempit,” jelasnya.

Bidan Siti Zuhra (Ist)Bidan Siti Zuhra (Ist)Jumlah penduduk di desa tempat Bidan Siti Zuhra bekerja itu ada 395 orang. Desa itu terdiri dari tiga lorong. Setiap tanggal 10, Bidan Siti Zuhra menjalani Posyandu (pos pelayanan terpadu). Di Puskesmas Kecamatan disediakan 2 orang dokter yaitu dokter umum dan dokter gigi. Setiap pelayanan posyandu, Bidan Siti Zuhra didampingi ahli gizi, ahli kesehatan masyarakat dan perawat.

Untuk pekerjaan sebagai bidan desa PTT di Propinsi Aceh, Bidan Siti Zuhra menerima gaji dan insentif dari Kementerian Kesehatan, sebesar Rp 4,6 juta langsung ke rekeningnya.

Diseluruh Propinsi Aceh, ada 4.500 Bidan Desa PTT yang bekerja seperti Bidan Siti Zuhra. Menurutnya status Pegawai Negeri Sipil (PNS) sangat penting. Karena selama  ini bidan desa PTT sudah menjalani perintah negara untuk menjadi petugas kesehatan paling ujung di desa-desa tertinggal, terpencil dan perbatasan selama belasan tahun.

“PNS sangat penting untuk bidan desa seperti kami yang menetap di desa. Karena masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan pertama adalah dari bidan desa dulu. Kami juga punya hak untuk mendapatkan kepastian kerja dan hidup layak kelak di kemudian hari,” tegasnya.

Saat ini ada 42.245 Bidan Desa PTT dari seluruh Indonesia yang tergabung dalam Forbides, sedang menunggu Presiden Joko Widodo menanda tangani pengangkatan menjadi PNS. (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh