Wawancara

Gereja Good Shepherd Parish, di Mount Isa, Queensland, berbagi tempat dengan tempat shalat umat Islam. (ABC North West Qld: Hailey Renault)Gereja Good Shepherd Parish, di Mount Isa, Queensland, berbagi tempat dengan tempat shalat umat Islam. (ABC North West Qld: Hailey Renault)MOUNT ISA-QUEENSLAND- Sebuah ruangan dengan dinding yang bisa dilepas, dilengkapi pendingin ruangan, beberapa kursi, dan sajadah dari tikar menghadap Mekah, telah menjadi simbol harapan agama di pedalaman Australia. Tulisan ini diambil dari http://www.australiaplus.com/indonesian/wisata-nad-budaya/berbagi-tempat-beribadah/8005704 dan dikirimkan Frans Permata dari Australia kepada Bergelora.com di Jakarta, Senin (12/12)

Gereja Katolik Good Shepherd di kota pertambangan terpencil, Mount Isa, di negara bagian Queensland telah menawarkan tempat shalat bagi umat Islam di kawasan tersebut.

Tempat shalat tersebut letaknya hanya beberapa meter terpisah dari bangunan utama gereja.

"Selama bertahun-tahun sejumlah orang bertanya 'Apakah ada tempat atau ruang di Mount Isa untuk shalat?'" kata Pastor Mick Lowcock.

"Beberapa orang yang saya kenal cukup baik mendekati saya dan betanya 'Apakah mungkin kita menggunakan salah satu kamar?'"

Pendeta Mick mengatakan keputusannya memberi izin bagi umat Islam untuk shalat di gerejanya, tentu saja tidak lepas dari perdebatan.

Jahed Chowdhury, salah satu umat Muslim di Mt Isa (ABC North West Qld: Hailey Renault)Jahed Chowdhury, salah satu umat Muslim di Mt Isa (ABC North West Qld: Hailey Renault)"Salah satu pertanyaannya adalah, apakah akan membuat tempat shalat ini untuk umum?" katanya.

"Kita tentu tidak ingin ada reaksi perlawanan bagi mereka atau kami. Ada pula beberapa masalah yang diutarakan orang-orang, bahkan orang dari luar kota pun menelepon saya soal ini."

Menurut Pastor Mick, pertanyaan-pertanyaan yang muncul adalah akibat dari kesalahpahaman dan ketakutan akan ekstremisme dan terorisme, yang kerap diidentikan oleh Islam.

"Pertanyaan di benak setiap orang [adalah] 'Apakah ISIS itu?'" katanya.

"Setiap kali orang menyebut kata 'Muslim' atau 'Islam', mereka langsung berpikir ISIS."

"[Tapi] daripada menciptakan suasana ketakutan di dunia, lebih baik kita dialog dan perbuatan baik."

Jahed Chowdhury adalah salah satu umat Muslim dari kawasan Mount Isa. Ia dibesarkan di Bangladesh, tapi telah berada di Australia selama 14 tahun terakhir.

Bangunan yang dipakai tempat shalat di Gereja Good Shepherd Parish, yang sebelumnya dipakai oleh komunitas pencinta sejarah (ABC North West Qld: Hailey Renault)Bangunan yang dipakai tempat shalat di Gereja Good Shepherd Parish, yang sebelumnya dipakai oleh komunitas pencinta sejarah (ABC North West Qld: Hailey Renault)Jahed mengatakan, sebelum gereja dibuka, komunitas Muslim berpindah-pindah untuk mencari tempat shalat.

"Sebelum kami mendapat ruang di sini, kita pergi ke beberapa tempat seperti ke tempat milik teman atau lainnya, untuk shalat," katanya.

"Setelah kami punya ini, kami datang ke sini setiap waktu dan sangatlah beruntung."

"Sebagai Muslim kami harus berdoa lima kali sehari dan itulah apa yang kami lakukan. Kami berkumpul di sini dan berdoa kepada Allah dan kami semua senang karena sekarang terbuka kapan pun kita mau datang"

Jahed menyadari adanya pandangan negatif soal Islam, agama yang ia anut. Tapi ia yakin bentuk kerukunan beragama yang positig membantu menghilangkan mitos bahwa Islam itu berbahaya.

"Kami mengundang orang lain [dari] agama yang berbeda, jadi ... jika mereka mau, mereka bisa datang dan bergabung dengan kami dan melihat apa yang kita lakukan, bagaimana kita mempraktekan Islam, dan seperti apa Muslim yang sebenarnya itu."

"Itulah yang ingin kami sebarkan ke seluruh dunia... bahwa Islam berarti perdamaian," katanya.

Mick Lowcock, Pendeta Katolik di Mt Isa. (ABC North West Qld: Hailey Renault)Mick Lowcock, Pendeta Katolik di Mt Isa. (ABC North West Qld: Hailey Renault)Pendeta Mick mengatakan hubungan kerukunan ini menjadi bukti nyata multikulturalisme di pedalaman negara bagian Queensland, Australia.

"Hari Minggu lalu, saya hanya melihat ada 18 kebangsaan yang berbeda dalam satu misa kami, dan saya rasa mereka hanya berasal dari Mount Isa," katanya.

"Banyak anggota masyarakat Islam juga terdiri dari berbagai negara."

"Saya tahu beberapa orang Katolik menikah dengan Muslim, sehingga terasa 'bagaimana kita mendukung satu sama lain? dalam hal ini."

Ia juga menambahkan, upayanya bukan hanya dimotivasi agar Muslim di Mount Isa memiliki tempat untuk shalat. Tapi sebagai simbol agar warga di kota tersebut bisa lebih dekat.

Ia pun mendorong para pemimpin agama lain untuk mengikutinya.

"Saya rasa faktor yang membuat orang lain terkejut, dan bertanya, 'haruskah kita melakukan hal yang samai?'" kata Pastor Mick.

"Di hari dan jaman seperti ini, [kita juga perlu] dipimpin oleh beberapa contoh, sehingga tidak hanya menyebarkan ketakutan. Tapi memberi jalan yang akan membawa kehidupan."

Sandal dibuka sebelum memasuki gereja Good Shepherd Parish, Mount Isa. (ABC North West Qld: Hailey Renault)Sandal dibuka sebelum memasuki gereja Good Shepherd Parish, Mount Isa. (ABC North West Qld: Hailey Renault)"Jika ini akan membawa kehidupan di komunitas kita, saya lebih suka melihat kami bersatu daripada terpecah belah. Saya lebih suka melihat kita datang bersama-sama dan berdoa, daripada menjadi komunitas yang memisahkan orang-orang," kata Pastor Mick.

Dengan sama-sama memiliki kebutuhan untuk beribadah, Jahed juga memiliki pandangan yang sama.

"Kita hidup dekat bersama-sama dan harmonis... dan inilah alasan mengapa manusia ada. Terlepas dari praktek beragamanya, kami saling menghormati satu sama lain," katanya.

"Semua agama menyebar perdamaian - tidak ada yang salah dengan itu, jadi kita harus saling mengasihi."

Diterbitkan oleh Erwin Renaldi pada 8/11/2016 pukul 16:00 AEST dari artikel aslinya berbahasa Inggris,di http://www.abc.net.au/news/2016-11-04/interfaith-cooperation-in-mount-isa/7996520  (Web Warouw)